| Sabtu, 06 Oktober 2007 | WACANA |
TAJUK RENCANAMemobilisasi Kepedulian untuk Mustadh'afinMendapatkan pelayanan dan fasilitas perawatan di rumah sakit bersalin tanpa dipungut biaya? Kita akan cepat menyimpulkan, betapa tinggi kepedulian yang termuat di balik fakta itu. Dan, itulah yang bisa kita dapati di Rumah Bersalin Gratis (RBG) Rumah Zakat Indonesia di Semarang. Laporan wartawan harian ini Kamis lalu sangatlah menyentuh: seorang bayi, Muhammad Ibnu Rafi, putra pasangan Supriyanto - Nurul Qomariyah mendapat fasilitas gratis tersebut. Kita menangkap realitas hubungan penyantunan yang mempertemukan antara kebutuhan orang-orang mustadh'afin, dengan kepedulian para aghniya'. Rumah Zakat, dengan RBG-nya adalah salah satu contoh posisi peran zakat jika dikelola secara benar, profesional, dan mengarah ke usaha-usaha produktif. Usaha produktif tentulah dalam konteks muara mampu menyentuh si miskin, menyantuni, mengentaskan mereka yang terpinggirkan, serta ikut berperan melahirkan generasi dengan sumberdaya insani yang berkualitas. Basis pengelolaan lembaga-lembaga semacam Rumah Zakat itu tentu saja idealisme, keikhlasan, dan iktikad kuat. Sedangkan arahnya ke manajemen yang membuktikan zakat benar-benar bisa dimobilisasi untuk menjadi pilar kesejahteraan umat. Model-model penyantunan harus didorong untuk digalakkan dengan melihat kenyataan betapa makin banyak anak yang berjalan jauh dari harapan. Masih banyak keluarga yang berpikir bagaimana bisa makan hari ini, belum sampai ke perencanaan sekolah, hidup sehat dengan makanan dan tempat tinggal yang sehat, atau merancang masa depan. Pada sisi lain kita juga melihat pola-pola instan dan jalan pikiran praktis dalam menyikapi pemberian santunan. Yakni bagaimana diberikan dan dinikmati pada saat itu, dikonsumsi sekali habis. Hal itu antara lain tercermin ketika kita memberikan uang kepada anak-anak jalanan. Kini telah banyak lembaga peduli umat, seperti Rumah Zakat yang bergerak dengan pola-pola investasi sumberdaya manusia. Para muzakki (orang yang berzakat) bisa memilih paket yang sesuai dengan kemampuannya, yang terfokus pada program pengembangan, yakni kesehatan, ekonomi, pendidikan, dan peningkatan kapasitas pemuda. Memberi kesempatan anak-anak yang termarginalkan dengan jaminan biaya sekolah jelas merupakan investasi yang tidak ternilai, dan sentuhan seperti itulah yang hakikatnya merupakan inti dari ajaran kasih sayang Rasulullah Muhammad SAW yang berpihak kepada mustadh'afin. Pada akhirnya warga yang memiliki kepedulian sosial kuat akan mempertimbangkan kredibilitas lembaga yang dipercaya untuk menyalurkan zakat dan sedekahnya. Di situlah ujian bagi para pengelola dengan segala idealismenya. Kemandirian lembaga-lembaga nonpemerintah itu, bagaimanapun memberi sinyal tingginya prakarsa masyarakat untuk memobilisasi kepedulian, simpati, dan empati kepada saudara-saudaranya. Makin banyak lembaga, jelas makin bagus. Lalu kepercayaan masyarakat jugalah yang akan menentukan dengan melihat sejauh mana keamanan pengelolaan dan produk-produk pengembangannya. Zakat, sedekah, terutama di bulan suci Ramadan, serasa bergema lebih keras. Kenyataan yang kita lihat sehari-hari memang menyajikan paradoks kehidupan, antara yang berkesempatan luas untuk menikmati hidup ditopang segala kekuatan aksesnya, dengan mereka yang menghadapi berbagai keterbatasan. Menjadi tugas bersama untuk menggalang bagian dari ketercukupan kita, mendistribusikannya dengan muara kemaslahatan umat. Tentu dengan pengelolaan yang makin sistematis, terarah, dan produktif. Kepedulian itu harus dipersentuhkan ke arah yang bermakna investasi sumberdaya manusia Indonesia. |