| Sabtu, 06 Oktober 2007 | NASIONAL |
Kalla: Capres Diserahkan Partai
JAKARTA- Wakil Presiden yang juga Ketua Umum Partai Golkar Jusuf Kalla Jumat (5/10) meluruskan pemberitaan seolah-olah dirinya sudah pasti tidak akan lagi berpasangan dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2009. Kalla menyatakan, berita di sejumlah media massa yang menyebutkan dirinya siap berpisah dengan SBY dalam Pilpres 2009 sebagai berita interpretatif. Menurutnya, capres Golkar akan ditentukan dari hasil pemilu legislatif dan keputusan partai berlambang beringin itu. "Fokus beritanya saya siap berpisah, jadi membuat orang bingung. Kalau Anda baca kata-kata saya, artinya banyak kemungkinan. Beritanya bisa juga JK siap bersama SBY, namanya juga kemungkinan," ujarnya dalam jumpa pers usai shalat Jumat di Istana Wapres. Sambil membacakan transkrip pernyataannya saat buka puasa bersama di Hotel Santika, Kalla menegaskan tidak ada satu pun kalimat yang terlontar bahwa dia akan meninggalkan SBY. "Kami sudah sepakat akan melaksanakan tugas negara dengan baik, dan nanti tiga bulan menjelang pilpres baru bicara bagaimananya," tandasnya. Ia justru berpendapat, apa yang dikatakan dan disampaikan Presiden SBY sebenarnya sama persis. "Beliau mengatakan (belum bisa memastikan) akan maju atau tidak, saya mengatakan tiga bulan sebelum Pilpres. Itu kan sama persis. Hanya beda kata-kata," kata Kalla. Ia mengingatkan, persoalan capres dan cawapres bukan persoalan pribadi, melainkan kepentingan partai. Di Partai Golkar misalnya, dia harus terlebih dulu mengumpulkan sekian puluh pengurus daerah dalam mekanisme Rapimnas. Tidak Khawatir Begitu pula dengan SBY yang harus mengumpulkan pengurus Partai Demokrat. "Ibu Mega saja tidak berani sendirian tanpa persetujuan partai. Saya tidak bisa mendahului keputusan partai. Kalau soal pribadi gampang, saya bisa tunjuk, SBY bisa tunjuk. Tetapi prosedurnya bukan begitu, masing-masing partai yang menentukan," ujarnya. Partai Demokrat mengaku masih memiliki banyak kader yang siap mendampingi SBY dalam Pilpres 2009. Menurut Ketua Fraksi Partai Demokrat Syarif Hasan, Demokrat siap jika memang Golkar tidak lagi ingin maju bersama, sebab tidak ada sesuatu yang abadi di dunia ini. "Jika Jusuf Kalla akhirnya memilih berpisah, kami akan menghargainya," katanya dalam diskusi tentang Manuver Parpol Soal Capres Cawapres 2009 di Gedung DPR RI Jakarta. Menurutnya, Demokrat juga belum dapat memastikan apakah kembali mengusung SBY-JK dalam Pemilu 2009. "Saat ini kami masih fokus pada program pemerintah agar bisa berjalan dengan baik." Syarif menambahkan, kepastian siapa yang akan mendampingi SBY dalam Pemilu 2009 masih akan ditentukan jelang Pemilu 2009. Uji Kelayakan Terpisah, Sri Sultan Hamengkubowono X mengatakan, partai politik diminta lebih membuka peluang dan aspiratif untuk menjaring capres-capres yang mulai bermunculan. Karena parpol mengetahui kandidat yang memiliki kualitas. "Saya berharap parpol menggelar fit and proper test, karena parpol punya ukuran-ukuran tertentu, lalu hasilnya ditampilkan ke publik," katanya di sela-sela pertemuannya dengan petinggi DPP PAN di Gedung DPR/MPR RI Jakarta. Menyinggung soal kemungkinan rencana Kalla menggandeng dirinya sebagai cawapres, Sri Sultan mengaku belum mengetahui. Bahkan dirinya belum pernah diajak bicara masalah tersebut. "Apalagi saya belum tahu apakah mau ditempatkan nomor dua, tiga atau empat. Sulit untuk diprediksi. Mungkin JK maksudnya dalam konteks membangun image dan lobi, jadi itu harus dihargai," tambahnya. Sementara itu, Ketua DPP PAN Soetrisno Bachir mengatakan, saat ini ada tudingan PAN sedang "jualan" terhadap capres-capres yang bermunculan. Menurutnya, yang dilakukan PAN adalah penjaringan terhadap sejumlah capres yang ada sejak sekarang. Karena banyak anggapan partai sering dianggap menhambat aspirasi rakyat. (A20,J22,di-49) |