logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 06 Oktober 2007 NASIONAL
Line

Mudik Gratis, Beban atau Promosi?

DARI tahun ke tahun perusahaan dan instansi yang menggelar mudik gratis makin marak saja. Bagi para pemudik pertimbangannya satu saja ekonomis. Sebab mereka tak perlu keluar biaya yang terlalu besar untuk bertemu sanak saudara di kampung. Selain itu tak perlu repot mencari kendaraan.

Bayangkan saja. Jutaan orang tiba-tiba mau pulang kampung dalam waktu hampir bersamaan. Padahal moda angkutan yang tersedia tak mungkin memberangkatkan demikian banyak manusia sekaligus. Maka yang terjadi hukum pasar; orang berebut mencari angkutan umum. Kalau pun dapat harga tiketnya sudah membumbung tinggi.

Kondisi inilah yang dilihat sejumlah perusahaan sebagai peluang untuk meraih simpati dari publik dengan menggelar mudik gratis. Syukur-syukur dari kegiatan ini bisa digaet pelanggan baru.

Tapi setidaknya bisa jadi ajang promosi bagi penciptaan imej perusahaan. Lantaran itulah perusahaan seperti PT Sido Muncul, Extra Joss, Bank BNI, Semen Holcim, Teh Celup Sariwangi, bahkan tidak ketinggalan Pemda Jateng, ramai- ramai menggelar program mudik gratis. Ratusan bus dikerahkan untuk mengangkut nasabah atau relasi mereka yang ingin berlebaran di kampung halaman.

Perusahaan yang tak mungkin mengerahkan angkutan mudik tak mau ketinggalan. ATPM seperti Isuzu, Daihatsu dan Honda mendirikan pos jaga di sepanjang jalur mudik yang siap membantu memperbaiki kendaraan pemudik yang bermasalah di jalan. Pos serupa juga didirikan produk-produk minuman, mi instan hingga sabun mandi lengkap dengan tempat istirahat dan kamar mandinya.

Mungkin kita akan berpikir, apa keuntungan yang diperoleh perusahaan dengan menggelar program semacam itu. Padahal atau ratusan juta harus mereka keluarkan untuk menyewa bus dan sebagainya. Kalau harga sewa satu bus Rp 5 juta, berarti perlu setengah miliar untuk sewa bus saja. Imbal balik langsung, bisa dikatakan hampir tidak ada.

Kepedulian Sosial

Pertimbangan inilah yang membuat bos PT Sido Muncul Irwan Hidayat berpikir untuk menghentikan mudik gratis bagi para penjual jamu di tahun-tahun awal program itu berjalan. Padahal, produsen Kuku Bima dan Tolak Angin ini merupakan perusahaan pertama yang memelopori mudik gratis.

Program ini bermula ketika pada era boom ekonomi tahun 1990 pengusaha asal Semarang ini prihatin melihat banyaknya pemudik yang harus rela berjejal lewat jendela kereta api demi bisa pulang ke kampung halaman.

"Ada yang pantatnya sampai harus didorong dari luar agar bisa masuk. Ini kan saru dan tidak nyaman," tuturnya.

Keprihatinan itu mendorong Irwan untuk membantu menyediakan 30-40 bus gratis untuk pedagang jamu yang ingin mudik pada 1991. Tapi sampai tahun ketiga, Irwan tak melihat ada nilai tambahnya untuk perusahaannya, lantaran kegiatan itu tak tersosialisasi dengan baik ke publik. Bagaimana tidak? Bus-bus itu hanya ditempeli spanduk, tapi tidak pernah terpublikasi ke media massa.

"Tahun 1994 saya sudah mau berhenti karena keluar duit banyak tapi kegiatan ini tidak terkomunikasikan dengan baik. Tapi kemudian saya dapat masukan sehingga kemudian kegiatan ini di PR-i (public relation, red)," tuturnya.

Benar juga. Pemberitaan mengenai mudik gratis yang digelar perusahaan ini beredar luas di media massa. Banyak yang memuji kegiatan ini sebagai bentuk kepedulian perusahaan kepada masyarakat yang harus dicontoh. Tanpa terasa, publikasi ini membuat nama dan imej Sido Muncul ikut terangkat, sehingga program serupa kini diikuti perusahaan lain.

Bagi Irwan kegiatan mudik gratis ini merupakan bagian dari bentuk kepedulian sosial yang sudah seharusnya diberikan perusahaan kepada lingkungannya.

Tapi pada saat sama merupakan ajang promosi bagi perusahaan. Sebab kegiatan yang diliput pers itu bisa dimanfaatkan perusahaan untuk menyosialisasikan produknya kepada masyarakat tanpa harus keluar biaya iklan.

"Yang membuat orang berat mau memberikan CSR itu karena mereka melihatnya lebih sebagai beban, karena mengurangi laba. Padahal harusnya mereka melihat ini sebagai opportunity (peluang)."

Wajar jika tidak semua perusahaan sanggup menyelenggarakan mudik gratis. Pasalnya selain mengeluarkan biaya besar, menguras energi.

Advisor mudik PT Sido Muncul Sofyan Hidayat misalnya, mengibaratkan menggelar mudik gratis seperti menggelar pesta perkawinan meriah. "Ini adalah hajat besar. Butuh waktu 3-4 bulan untuk merancangnya," tutur Sofyan.

Penyelenggaraan acara mudiknya sendiri tidaklah sulit. Yang sulit menurutnya justru mengatur peserta yang jumlahnya mencapai 16.000 orang, terbagi dalam 260 bus. Mereka harus dikumpulkan dalam waktu bersamaan di lokasi yang sama.

"Kegiatan harus dirancang rapi dan menarik, sehingga orang yang ikut dalam kegiatan mudik bersama merasa aman, nyaman dan bisa bergembira,"

Beruntung pengalaman perusahaan ini 18 tahun menggelar mudik gratis membuat mereka memiliki data lengkap peserta mudik dari tahun ke tahun.

Dari 160 ribu peserta mudik Sido Muncul tahun ini, 60% merupakan penjual jamu seduhan malam, 10% penjual jamu dorong, dan 30% penjual jamu gendong.(Fauzan J-77)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA