| Sabtu, 06 Oktober 2007 | NASIONAL |
Asal UsulRamadan di Kampung Mercon (2-Habis)Selalu Jadi Target Pertama Razia
NAMA kampung mercon sebenarnya tidak hanya disandang Desa Bungo. Di Brebes, nama yang sama dilekatkan pada Desa Sigambir, Kecamatan Brebes. Ada pula Kelurahan Kemandungan, Kecamatan Tegal Barat, Kota Tegal. Tampaknya, pemberian nama kampung mercon diberikan kepada desa yang warganya membuat petasan dalam jumlah besar. Di Desa Bungo misalnya, dalam razia Jumat (28/9), petugas Polres Demak mendapati petasan berbagai jenis dan ukuran di sejumlah rumah warga. Puluhan ribu petasan siap jual berikut bahan bakunya ditemukan dalam rumah dan pekarangan warga. Memang, tidak hanya di Bungo saja polisi menemukan tumpukan petasan dalam jumlah besar. Setidaknya, di daerah Dempet dan Sayung, polisi juga mengamankan ribu petasan. Namun, Desa Bungo sepertinya ditempatkan pada urutan pertama daftar target razia. Bahkan, tiap tahun hampir bisa dipastikan, polisi tak luput menyambangi Desa Bungo untuk menggelar razia petasan. Produsen mercon tampaknya melekat kepada Desa Bungo. Padahal sebagian besar penduduknya bekerja sebagai nelayan, petani, dan pedagang sayuran. Lantas, apakah masyarakat Bungo menerima stigma nggegirisi itu? "Ya jelas tidaklah. Warga yang bikin mercon itu kan cuma segelintir saja, dibanding jumlah penduduk 6.702 orang. Itu pun tidak setiap hari bikin petasannya," kata Kepala Desa Bungo, Choirul Anam. Menghilangkan stigma yang kadung melekat memang tak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh waktu, tenaga, dan proses panjang. Namun, perangkat desa dan aparat terkait tak bosan-bosannya menggembar-gemborkan kepada warganya untuk memerangi dan menghilangkan citra negatif tersebut. Caranya? "Kita sering memberikan penyadaran kepada warga, kalau petasan itu dilarang. Setiap ada kesempatan kita selalu memberi penjelasan kepada warga," kata Choirul yang sadar menghilangkan tradisi adalah sesuatu yang sulit, namun itu bukan berarti lantas tidak dicoba. "Saya perkirakan tiga tahun ke depan, desa kami sudah tidak ada yang bikin petasan. Tahun 2010 desa kami Insya Allah bebas petasan," katanya berkali-kali. Ikhtiar tersebut berangkat dari tidak adanya generasi muda yang ikut membuat petasan setiap tahun. Sedangkan generasi tua sudah banyak yang berkalang tanah. Gerakan Antipetasan Kendati demikian, toh ada saja satu dua warga yang tidak menggubris imbauan itu. Buktinya, razia polisi akhir bulan lalu menemukan ribuan petasan, hingga memuncul beragam tanggapan dari warga. Namun, nyaris semuanya mendukung gerakan antipetasan. "Kalau saya dari dulu memang tidak membuat petasan, jadi ya setuju saja kalau bebas petasan," kata seorang pria tanpa mau menyebutkan nama ketika diminta komentarnya. Rata-rata penduduk Desa Bungo enggan berkomentar banyak ketika ditanya tentang kampung mercon. Maklum mereka takut sekiranya nanti berurusan dengan polisi. Mereka lebih memilih bungkam atau menghindar ketika ditanya. Cara lain yang ditempuh aparat desa untuk mengikis stigma kampung mercon dengan mempromosikan tradisi lain. Melalui tradisi sedekah laut dan sedekah bumi, masyarakat Bungo lebih mengagungkan tradisi tahunan itu. Ada pula tradisi Maqom Mbah Panji Kusumo, pendiri cikal bakal Desa Bungo. "Warga sini sangat menghormati Mbah Panji Kusumo. Tiap tahun warga Bungo yang tersebar di seluruh daerah tumplek blek di pemakaman Mbah Panji Kusumo. Kita menggelar maqom akbar," kata Choirul Anam. Ya, melalui tradisi sedekah laut, bumi, dan maqom pendiri desa itulah, warga berharap desanya lebih dikenal ketimbang disebut kampung mercon. (Fahmi Z Mardizansyah-46) | ||||