logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 06 Oktober 2007 NASIONAL
Line

Ibarat Sekolah

  • Oleh H Muslich Shabir

TANPA terasa, kita sudah berada pada sepertiga terakhir bulan ramadan. Pada bagian terakhir inilah Allah memberikan motivasi kepada kita dengan menyediakan pahala yang luar biasa di mana ada satu malam yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan.

Rasanya sayang bila karunia besar kita lewatkan begitu saja. Setelah puasa kita jalani selama 23 hari, kini kita perlu bertanya pada diri kita masing-masing, adakah pengaruh puasa pada diri kita baik dalam kesalehan pribadi maupun kesalehan sosial.

Ada orang bijak yang mengumpamakan bulan ramadan ini sebagai suatu sekolah, yang memiliki empat jenis siswa. Siswa itu semuanya telah terdaftar dalam buku induk dan sudah memiliki pakaian seragam dan perlengkapan sekolah.

Empat Jenis

Pertama, siswa yang berangkat ke sekolah dengan memakai pakaian seragam dan membawa perlengkapan sekolah. Tetapi ia hanya numpang lewat saja, tidak pernah masuk ke dalam kelas dan tidak pernah mengisi daftar hadir atau tidak pernah ada di kelas ketika guru mengabsen.

Kedua, siswa yang berangkat ke sekolah dengan memakai pakaian seragam dan membawa perlengkapan sekolah. Ia masuk ke dalam kelas dan mengisi daftar hadir tetapi setelah itu keluar, tidak pernah mengikuti pelajaran dan main dengan sesama teman-temannya yang tidak mengikuti pelajaran. Bila pelajaran selesai, ia bergabung lagi dan pulang bersama-sama dengan teman-temannya yang aktif belajar di kelas.

Ketiga, siswa yang berangkat ke sekolah dengan memakai pakaian seragam dan membawa perlengkapan sekolah. Ia masuk ke dalam kelas, mengisi daftar hadir dan mengikuti pelajaran mulai awal sampai selesai. Tetapi tidak serius di dalam belajar, bahkan waktunya lebih banyak dipergunakan untuk bergurau dengan teman-temannya.

Keempat, siswa yang berangkat ke sekolah dengan memakai pakain seragam dan membawa perlengkapan sekolah. Sebelum berangkat, ia pamit dulu kepada kedua orang tuanya seraya mohon doa restu.

Sesampai di sekolah, ia masuk ke dalam kelas, mengisi daftar hadir dan mengikuti pelajaran dari awal sampai akhir dengan serius. Bila merasa tidak paham dengan apa yang diajarkan oleh guru, ia bertanya. Setiap kali ditanya oleh guru, ia selalu bisa menjawab dengan tepat sehingga gurunya merasa puas.

Sikap Muslim

Perumpamaan itu bisa kita terapkan kepada sikap muslim terhadap puasa di bulan ramadan. Ibarat murid yang telah terdaftar di sekolah, maka setiap muslim yang sudah mengucapkan syahadat berarti ia sudah tercatat sebagai seorang muslim.

Ia sadar dirinya berkewajiban untuk berpuasa di bulan ramadan. Tetapi penyikapan terhadap puasa itu berbeda-beda.

Pertama, muslim yang hanya memiliki status (seperti dibuktikan melalui KTP) saja. Ia mempunyai sajadah tetapi tidak pernah dipakai untuk shalat.

Ia mempunyai Alquran tetapi tidak pernah dibacanya. Ia sadar puasa itu wajib, tetapi ia tidak pernah melakukannya.

Kedua, muslim yang mengerjakan puasa hanya di awal bulan ramadan saja, atau di hari-hari tertentu yang ia inginkan. Ia berpuasa hanya ikut-ikutan saja dan tidak menghiraukan etika berpuasa.

Tetapi ia ikut bersuka cita dengan selesainya bulan ramadan, ia ikut melaksanakan shalat Idul Fitri dan lain sebagainya.

Ketiga, muslim yang mengerjakan puasa di bulan ramadan selama satu bulan penuh. Tidak hanya itu, di waktu malam ia juga mengerjakan shalat tarawih di masjid, banyak tadarus Alquran, banyak bersedekah dan amalan-amalan baik lainnya.

Tetapi selama berpuasa, lisannya masih juga suka menggunjing, matanya masih juga dipergunakan untuk melihat pandangan yang terlarang, telinganya masih juga dipergunakan untuk mendengarkan perkataan yang haram, dan lain sebagainya.

Puasa semacam inilah yang disindir oleh Rasulullah SAW betapa banyak orang yang berpuasa tetapi ia tidak mendapatkan apa-apa kecuali hanya lapar dan dahaga.

Jenis puasa inilah yang oleh Imam al-Ghazali dikatakan sebagai puasanya orang awam. Puasa memang tidak cukup hanya dengan menjauhkan diri dari makan, minum dan hubungan suami-istri, tetapi lebih dari itu, semua anggota tubuh pun ikut menahan hawa nafsu.

Keempat, muslim yang mengerjakan puasa di bulan ramadan selama satu bulan penuh dibarengi dengan amalan-amalan saleh lainnya seperti: shalat tarawih, tadarus Alquran, sedekah dan lain sebagainya.

Ia jaga semua anggota tubuhnya dari perbuatan-perbuatan maksiat bahkan pikirannya pun tidak pernah berpaling dari mengingat Allah.

Ia menyambut datangnya bulan ramadan dengan suka cita dengan mempersiapkan diri baik jiwa maupun raganya. Ia laksanakan puasa dengan penuh keikhlasan karena Allah semata. Tidak ada waktu untuk melakukan perbuatan yang sia-sia.

Ia menyadari bulan ini adalah saat paling tepat untuk meningkatkan berbagai ibadah, introspeksi diri (muhasabah) dan mendekatkan diri kepada Allah. Bulan ini sebagai bulan pelatihan sehingga setelah berlalunya bulan ramadan dirinya jauh lebih baik daripada sebelum datangnya bulan suci ini.

Jenis puasa yang dilakukan oleh kelompok keempat inilah yang dijanjikan oleh Allah dapat menghapus semua dosa yang telah lewat. Orang yang berpuasa semacam inilah yang insya Allah akan memperoleh lailatulkadar dan pada akhir ramadan berhak untuk merayakan Idul Fitri (kembali kepada kesucian).(77)

- Penulis adalah dosen IAIN Walisongo, fungsionaris MUI Provinsi Jateng.


HexWeb XT DEMO from HexMac International

Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA