| Sabtu, 06 Oktober 2007 | MURIA |
WORO WOROTingkat Inflasi Masih TinggiKUDUS - Kabupaten Kudus mengalami tingkat inflasi cukup tinggi pada September tahun ini. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), perubahan indeks harga konsumen mencapai 1,09 persen. "Kali ini Kudus mengalami angka peningkatan lebih tinggi daripada Semarang (0,63 %) atau rata-rata nasional 0,80 %," kata Kasi Statistik Distribusi, Dwi Rahayu, Jumat (5/10). Menurut dia, kenaikan terutama terjadi pada bahan makanan. Kondisi itu menurutnya sangat wajar, karena menjelang lebaran kebutuhan seperti minyak, beras, telur, memang selalu naik. Selain itu kenaikan barang perhiasan seperti emas juga cukup tinggi. Jika dibandingkan tahun lalu, kenaikan indeks harga konsumen pun cukup tinggi. Tahun lalu mendekati lebaran (September) persentasenya hanya 0,46 %, sedangkan tahun ini sudah 1,09 %. (Son-19) Bagi Hasil Cukai untuk Pendidikan KUDUS- Sebagian hasil cukai yang dikembalikan ke daerah diharapkan dikembalikan kepada masyarakat melalui upaya peningkatan kesejahteraan warga. Salah satunya, untuk membantu kemudahan warga dalam memperoleh fasilitas pendidikan dan kesehatan. ''Jadi, masyarakat yang merasakan manfaatnya,'' kata Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Serikat Pekerja Rokok Tembakau Makanan dan Minuman Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (DPP SP RTMM SPSI), HM As'ad, kemarin. Namun demikian, pihaknya juga berharap agar sebelum bagi hasil itu direalisasikan, ada regulasi yang jelas untuk mengontrolnya. Jumlah hasil cukai yang dikembalikan memang cukup besar. Diperkirakan, Kudus akan memperoleh Rp 100 miliar setiap tahunnya. Namun, nominal itu tentunya bukan harga mati. Pasalnya, besar kecilnya dana juga tergantung dari hasil cukai yang disetorkan daerah. (H8-76) Belum Ada Lonjakan Penumpang CEPU- Hingga delapan hari menjelang Lebaran (H-8) belum tampak peningkatan jumlah penumpang angkutan umum, seperti bus dan kereta api di Blora. Kedatangan maupun keberangkatan penumpang di Terminal Gagak Rimang Blora, masih sepi. Demikian juga di Terminal dan Stasiun Kereta Api Cepu. Bahkan menurut pengakuan beberapa sopir bus antarkota antarprovinsi (AKAP) di Terminal Cepu, jumlah penumpang menurun drastis dibanding hari yang sama pada Lebaran tahun lalu. ''Seminggu atau paling tidak sepuluh hari sebelum Lebaran, biasanya jumlah penumpang akan naik. Namun tahun ini tidak, jumlah penumpang tidak ada sepertiga dari kapasitas tempat duduk bus, 54 kursi,'' ujar Andi, seorang kondektur bus, kemarin. Nono, awak bus trayek Cepu-Malang (Jatim) mengatakan, sepinya penumpang kemungkinan besar karena sebagian besar pemudik lebih memilih menggunakan sepeda motor untuk kembali ke daerah asalnya. (H18-76) Penggelontoran Kedungombo Diawasi KUDUS - Pembasahan jaringan pada musim tanam (MT) I 2007/2008 yang sudah dimulai sejak 1 Oktober lalu, diupayakan tetap sesuai kesepakatan sebelumnya. Artinya, bila memang belum boleh dialirkan ke sawah, maka pasokan yang ada benar-benar tidak boleh dialiri ke lahan petani tersebut. ''Kami minta petani untuk berdisiplin soal penggunaan air ini,'' kata Ketua Federasi Perkumpulan Petani Pengguna Air sistem Kedungombo, H Kaspono, kemarin. Dikatakan dia, hingga 14 Oktober nanti, pasokan air yang ada di irigasi memang hanya diperbolehkan untuk kepentingan mandi dan cuci. Selanjutnya, 15 Oktober air baru boleh dialirkan ke sawah penduduk. Untuk mengantisipasi agar tidak ada petani yang melanggarnya, pihak perkumpulan petani pengguna air (P3A) setempat akan memantau selama 24 jam penuh di jaringan irigasi yang ada di wilayahnya masing-masing. Setiap hari, tiga orang petugas memantau secara bergantian. (H8-54) |