logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 06 Oktober 2007 MURIA
Line

Peziarah Padati Makam KH Ahmad Mutamakkin

TAK hanya sibuk menyiapkan kebutuhan Lebaran, pada akhir Ramadan sebagian warga Pati berbondong-bondong ziarah ke makam KH Ahmad Mutamakkin. Kondisi seperti itu telah umum terjadi sehingga pihak pengurus makam tidak melakukan persiapan khusus untuk menyambutnya. Arus peziarah yang padat, biasanya terjadi saat sore hingga malam hari. Saat pagi hingga siang hari, hanya terlihat beberapa orang yang berdoa dan membaca Alquran di makam yang terletak di Desa Kajen, Kecamatan Margoyoso itu.

Mereka yang datang pagi adalah para santri di Kajen dan sekitarnya yang selama Lebaran tetap tinggal pondok pesantren (ponpes). Untuk menghabiskan waktu, mereka membaca Alquran di Pesarean (makam).

Menginjak pukul 16.00 atau selepas shalat Ashar, jumlah peziarah terus bertambah. Apalagi memasuki sepekan menjelang Lebaran, hampir dipastikan banyak peziarah yang antre untuk memasuki kawasan pesarean.

Ketua Yayasan Pengelola Makam KH Ahmad Mutamakkin, KH Ahmad Muadz Thohir, mengemukakan, tren peningkatan peziarah menjelang Lebaran memang didominasi oleh orang lokal dan untuk yang datang dari luar kota berkurang.

"Kalau akan Lebaran, justru banyak orang sekitar Kajen yang datang. Apalagi kalau orang Pati yang merantau ke luar daerah atau luar negeri mudik, jumlah yang datang akan lebih bertambah," jelas Muadz.

Peningkatan volume peziarah juga membawa berkah bagi masyarakat sekitar yang membuka kios di depan pesarean. Begitu pula dengan tukang parkir yang mengatur sepeda motor dan mobil yang datang, juga mendapat penghasilan yang lebih dari biasanya.

KH Ahmad Mutamakkin merupakan ulama yang hidup sekitar Abad XVIII pada saat pemerintahan Amangkurat IV sampai Paku Buwono II yang eranya tidak terlalu jauh dengan masa pemerintahan Mataram.

Kiai yang biasa disebut Ki Cebolek itu dikenang karena berjasa menyebarkan ajaran Islam di daerah Pati dan sekitarnya. Beliau juga dikenal sebagai guru besar agama yang telah mencetak kader penerus yang tidak sedikit. Sampai saat ini, daerah Kajen dan sekitarnya menjadi pusat penempaan ilmu agama. Hal itu dapat dilihat dari banyaknya ponpes dan lembaga pendidikan Islam di lingkungan tersebut.(M Noor Efendi-76)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA