| Sabtu, 06 Oktober 2007 | SEMARANG |
Bagaimana sih Rasanya Lapar?BAGI seorang HM Tamzil, puasa bermakna introspeksi diri atas perbuatan yang dilakukan selama sebelas bulan yang lalu. Kemudian menggunakan waktu yang akan datang untuk mensucikan diri. Sekaligus juga sebagai pembelajaran bagi umat manusia bagaimana rasanya lapar. "Karena banyak saudara kita yang masih kadang-kadang makan dan kadang-kadang tidak," katanya dalam acara "Berkah Obrolan Sahur Ramadan 1428 H", Jumat (5/10), yang dimoderatori oleh Adi Ekopriyono. Menjalankan tugas sebagai Bupati Kudus, membuatnya harus selalu dekat dengan rakyat serta bisa memahami tradisi yang mengakar. Salah satunya, tetap melestarikan tradisi yang berkaitan dengan bulan puasa dan Idul Fitri. Ciri Khas Menurut Tamzil, ada dua tradisi yang menjadi ciri khas kota kretek dalam menyambut puasa dan setelah Lebaran. Yaitu, tradisi dandangan dan bodo kupat. Dandangan biasanya diadakan tiap tahun, tepatnya dua minggu sebelum puasa. "Di sanalah masyarakat bisa berbelanja untuk persiapan puasa sekaligus Lebaran. Bentuknya, hampir sama seperti dugderan di Semarang," jelasnya. Tapi dulu, tambah Tamzil, dandangan lebih digunakan sebagai sarana melakukan interaksi sosial. "Justru dulu, dandangan jadi momen bagi anak gadis untuk bisa bertemu dengan jejaka," imbuhnya. Dandangan, lanjut dia, tak hanya sebagai tradisi. Fungsinya juga sebagai pertanda bulan suci Ramadan segera tiba. "Kemeriahan dan keramaian yang terus berkembang bahkan menjadikan tradisi dandangan semakin populer. Tidak hanya lingkup Nasional tetapi sampai manca negara," paparnya. Sedang bodo kupat biasanya dilakukan setelah 1 Syawal. Tepatnya satu minggu setelah Idul Fitri. Pada hari itu, banyak dijumpai selongsong ketupat yang dijual di pasar tradisional. Bentuk tradisi ini, jelas Tamzil, hanya memasak ketupat dan kegiatan di dua sendang. (Fani Ayudea-56) |