logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 06 Oktober 2007 SEMARANG
Line

SURITAULADAN

Syekh Basyarudin, dan ''Blawong''

  • Oleh Rony Yuwono

ORANG - orang di Pringapus, Kabupaten Semarang, menyebut Alquran tulisan tangan Syekh Basyarudin dengan kitab blawong. Disebut demikian karena kitab suci yang disusun penyebar Islam sekitar abad ke-14 ini bisa blaeni wong (mencelakai orang yang tidak jujur). Blawong juga bisa dimaknai belani wong atau membela orang yang benar.

Demikian dikisahkan sesepuh di Pringapus, KH Nur Hasan Ibrahim. Menurut dia, blawong pernah digunakan untuk menyumpah orang, layaknya sumpah pocong. Nur Hasan yang kini berusia 80 tahun mengatakan, kitab tersebut menjadi pusaka tersendiri di daerah itu.

''Blawong sekarang tidak boleh digunakan untuk menyumpah orang. Sebab dulu pernah ada orang yang mengambil emas tetangganya, tapi tak mengaku kemudian disumpah dengan Alquran ini. Akhirnya dia sakit keras hingga meninggal,'' terang Nur Hasan yang menjadi anggota DPRD Kabupaten Semarang 1957 hingga 1970.

Meski sudah berumur lebih dari 600 tahun, mahakarya Syekh Basyarudin itu masih disimpan di masjid Pringapus. Ulama yang makamnya di Desa Pringsari ini konon menyusun mushaf kitab tersebut di atas sebuah batu besar di Dusun Wahyurejo, Pringapus.

''Lembar Alquran ini sebagian besar masih terjaga. Hanya pada surat Yaa Siin yang robek dan kucel, karena sering dibaca orang waktu itu,'' tegas Nur Hasan, yang tahun ini mendapat juara II keluarga sakinah se-Jateng.

Ya, terlepas dari itu semua, Syekh Basyarudin dikenal sebagai ulama besar yang memiliki kemampuan linuwih, bisa menulis seluruh isi ayat Alquran. Tulisan ulama itu bagus dan rajin. Tulisannya menggunakan tinta hitam, sementara setiap halaman diberi garis kotak warna merah.

Kertasnya juga bagus dan agak mengkilap. Pada sampulnya diberi kulit dan dijahit. ''Perjuangan Syekh Basyarudin membangun masjid di tengah masyarakat Hindu saat itu dan sering mengadakan pengajian,'' terang Nur.

Masjid Dipindah

Masjid pertama dibangun di Pringsari dekat makam. Tetapi keberadaan masjid itu ditentang orang sekitar. Kemudian dipindah ke Desa Pringapus. ''Dulu bentuknya hanya payung dan seluas sembilan meter persegi saja,'' kenang Nur Hasan.

Pada 1974, Nur Hasan berniat memugar masjid yang kondisinya sudah reot. Singkat cerita, dia ditawari adik iparnya, Sujud Martosewoko, yang dekat dengan keluarga Cendana. Presiden Soeharto mendengar ada Al Quran tulisan tangan dan ingin melihatnya.

''Saya disuruh adik saya Sujud membuat permohonan karena waktu itu Pak Harto sedang ingin membantu pembangunan masjid. Saya bisa langsung bertemu Pak Harto, padahal permohonan menumpuk banyak. Ternyata staatblaat kalah dengan sobat,'' kenangnya.

Kepala Desa Pringsari, Sodiq menjelaskan, jika ada orang tirakat selama beberapa hari di makam Syekh Basyarudin, ada warga yang mengirimkan makanan untuk sekadar berbuka. Makam tersebut belum lama ini juga tengah dibangun. ''Kami juga menganjurkan agar peziarah tidak terjebak pada kemusyrikan. Mereka berdoa di makam harus ditujukan langsung kepada Allah. Hanya saja etikanya membaca Alfatihah dulu untuk Syekh Basyarudin,'' kata Sodiq. (18)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA