| Sabtu, 06 Oktober 2007 | INTERNASIONAL |
Aung San Suu Kyi, Simbol yang Paling Ditakuti JuntaBANGKOK - Terkurung di dalam rumahnya dan tidak pernah muncul di depan publik selama bertahun-tahun, tokoh prodemokrasi Myanmar Aung San Suu Kyi seperti "ada dan tiada" bagi rakyat Myanmar. Namun, kemunculan singkat Suu Kyi di balik gerbang tahanan rumah itu telah menimbulkan reaksi luar biasa. Foto Suu Kyu yang berdiri di balik barisan polisi antihuru-hara saat menemui para biksu muncul di halaman depan koran-koran di seluruh dunia. Kemunculan Suu Kyi juga membersitkan harapan warga yang menuntut rezim militer selama 45 tahun itu diakhiri. Dengan berdoa bersama para biksu di bawah ancaman peluru, dengan berdiri diam mendengarkan para demonstran meneriakkan namanya, dengan memberikan restunya atas protes antijunta itu, Aung San Suu Kyi tampil lebih dari sekadar ikon demokrasi. Para pendukungnya menyandingkan Suu Kyi di samping Nelson Mandela, Mohandas K Gandhi dan Martin Luther King Jr. Pendukung demokrasi merayakan hari ulang tahunnya dengan renungan malam, band U2 menorehkan syair lagu Walk On untuk menghormatinya, setiap orang mulai dari Laura Bush hingga seniman mengelu-elukan perjuangannya. "Aung San Suu Kyi bukan hanya inspirasi bagi rakyat Myanmar untuk menanggung penderitaan ini. Dia sendirian terus memimpin legitimasi politik dan moral bangsa itu," kata Monique Skidmore, pakar Myanmar di Australian National University. Bagaimanapun, hukuman tahanan rumah selama hampir 12 tahun dari total tahanan 19 tahun ini tetaplah berat bagi dia. Selama masa isolasi itu, kehilangan kontak dengan keluarga, sahabat dan kolega, serta penumpasan brutal aksi demo terakhir ini merupakan pukulan bertubi-tubi bagi perempuan itu. Terlihat Lelah Dalam foto-foto dua kali pertemuan dengan Utusan Khusus PBB Ibrahim Gambari, perempuan berusia 62 tahun itu terlihat lelah dan muram, nyaris tak ada senyuman di wajahnya karena diizinkan berbicara dengan tamu luar, peristiwa yang sangat langka bagi Suu Kyi. Namun, pertemuan itu tampaknya menunjukkan sedikit hasil. Setidaknya, Jenderal Than Shwe menawarkan kesediaan berunding kendati dengan mengajukan syarat-syarat yang sulit dipenuhi kelompok prodemokrasi. "Dia bukan hanya tokoh oposisi. Dia adalah simbol," kata David Steinberg dari Georgetown University di Washington. "Dia adalah ancaman terbesar bagi junta." Ratusan polisi antihuru-hara saat ini mengawasi kediamannya selama 24 jam sehari. Jalan di depan rumah tertutup untuk lalu-lintas. Dua kapal AL berpatroli di danau di dekat rumahnya. Tidak ada sambungan telepon atau akses internet. Dua putranya, Alexander dan Kim, tinggal di luar negeri dan dilarang masuk ke Myanmar. Tidak diketahui pula, apakah dia pernah bertemu cucunya, Jasmine dan Jamie yang merupakan anak-anak Kim. Suaminya, seorang ilmuwan Inggris Michael Aris, meninggal karena kanker pada 1999. (ap-gn-25) |