| Sabtu, 06 Oktober 2007 | INTERNASIONAL |
China Tolak Sanksi terhadap MyanmarYANGON - Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa Jumat kemarin memutuskan, Utusan Khusus PBB Ibrahim Gambari di Myanmar akan menyampaikan laporannya dalam pertemuan terbuka. Sedangkan, China menentang sanksi terhadap Myanmar. Di Yangon, kelompok oposisi menepis syarat yang diajukan Jenderal Senior Than Shwe untuk pertemuan dengan Aung San Suu Kyi. Sementara itu, penjabat Dubes Shari Villarosa bertemu Deputi Menteri Luar Negeri Maung Myint di Naypyidaw kemarin. Amerika mendesak junta untuk berunding dengan Suu Kyi dalam dialog tanpa syarat. Sidang Dewan Keamanan dihadiri Sekjen PBB Ban Ki-moon. Sidang juga menghadirkan seorang wakil dari Myanmar dan seorang diplomat Singapura mewakili ASEAN. China menolak sanksi terhadap Myanmar. Duta Besar China Wang Guangya mengatakan, "Memang ada masalah di Myanmar, namun masalah itu masih dalam wilayah urusan internal." "Solusi yang diterapkan internasional tidak akan memperbaiki situasi," kata Wang. "Kami ingin pemerintah sendirilah yang menangani masalah itu." China dan Rusia mengatakan, mandat Dewan Keamanan terbatas pada ancaman perdamaian dan keamaan internasional. Berdasarkan hal itu, Myanmar bukan ancaman. Sedangkan, negara-negara Barat mendesak dijatuhkan sanksi terhadap Myanmar. Militer junta sampai kemarin masuh terus menangkapi dan menginterogasi para demonstran. China mendesak junta untuk menahan diri, namun menentang resolusi Dewan Keamanan. Tegang Di Naypyidaw. Villarosa sekali lagi menyampaikan pandangan Amerika Serikat bahwa rezim itu harus bertemu dengan kelompok-kelompok oposisi dan menghentikan tindakan tangan besi dalam menumpas demonstran. Villarosa sendiri termasuk pengritik keras tindakan brutal militer pekan lalu. Jenderal Senior Than Shwe Kamis lalu menyatakan bersedia bertemu Suu Kyi dengan syarat tokoh demokrasi itu tidak lagi menyerukan sanksi internasional terhadap Myanmar. Than Shwe juga minta Suu Kyi mencegah para aktivis melawan rezim militer. Pengumunan junta tersebut agaknya bertujuan untuk menghindarkan Myanmar dari sanksi ekonomi serta untuk menyenangkan negara sahabatnya, China. Beijing khawatir kerusuhan di Myanmar memengaruhi penyelenggaraan Olimpiade Beijing 2008. Media pemerintah Myanmar Jumat kemarin melaporkan jumlah orang-orang yang ditahan. Menurut keterangan pemerintah, 10 orang tewas, 2.100 ditahan dan hampir 700 orang sudah dibebaskan. Namun, kelompok prodemokrasi menyatakan, korban tewas mencapai ratusan orang dan sekitar 6.000 orang ditahan. Situasi di Yangon berangsur normal. Namun, militer menjaga ketat berbagai kawasan di kota itu. Sedikitnya enam truk tentara ditempatkan di dekat Pagode Sule, pusat lokasi demonstrasi. Juru bicara Liga Nasional Demokrasi Thein Lwin mengecam keras syarat yang diajukan junta. "Suu Kyi tidak bersikap konfrontatif, dia juga tidak mendukung sanksi," kata dia. Mengenai kemungkinan Suu Kyi menerima tawaran itu, dia mengatakan, "Kami akan menunggu dan melihat dulu." "Syarat itu sangat sulit menghasilkan terobosan. Sebab, pada dasarnya junta minta Suu Kyi secara terbuka menyerah sebelum pertemuan terlaksana," kata pakar Myanmar dari Georgetown University David Steinberg. (rtr-gn-25) |