logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 06 Oktober 2007 BUDAYA
Line

Komik Melawan Ivan Illich

  • Oleh Rukardi

SETELAH tertunda beberapa lama, K to K Project # 4 akhirnya terselenggara juga. Seri keempat perhelatan yang digagas para perupa muda di Semarang itu diadakan di Rumah Kos Catdog, Jalan Banaran Raya, Sekaran, Gunungpati, 2-5 Oktober. Tajuknya meminjam tagline produk obat batuk, "Sakit? Dikomik Aja!".

Seturut tajuk, pameran menyajikan karya berbentuk komik. Tak cuma komik konvensional bermedium kertas, sebagian karya dituang di atas permukaan dispenser, bed cover, piring, mangkuk, gitar, kap lampu, helm, tas, buku catatan, jam dinding, genting, rokok, sepatu, gelas, botol, sandal jepit, jaket, kaus, dan celana.

Selain itu ada komik neon box dan game berperanti multimedia. Maka, rumah kos yang bersebelahan dengan bengkel knalpot itu disulap menjadi semacam rumah komik. Barang-barang yang lazim dimiliki mahasiswa berhias komik.

"Sakit? Dikomik Aja!" membatasi diri pada soal pendidikan. Dalam analisis sang penggagas, degradasi bangsa ini berhulu dari sumber daya manusia yang rendah. Mereka yakin itu semua akibat penistaan terhadap pendidikan.

Nah, karya para perupa yang hampir semua mahasiswa Seni Rupa Universitas Negeri Semarang (Unnes) itu membabar ikhwal carut-marut dunia pendidikan. Dengan kemasan komik, tema yang ndakik-ndakik itu terasa ringan.

Idiom yang digunakan berserak dalam keseharian mereka. "Tips Sukses Kuliah" karya Rofikin (Item), Fajar A, dan Khari, misalnya, menguarkan kekonyolan. Begitu pula "Perjalanan S3" karya Fitricha dan "Komik Curhat (Broken Heart)" karya Rangga.

Sepintas konsep pendidikan versi mereka berkutat pada kelembagaan. Itu berlawanan dengan pemikiran Ivan Illich dan Paulo Freire yang mempersetankan sekolahan. Maka, karya mereka tampak berbeda wajah dari, misalnya, komik "Orang Miskin Dilarang Sekolah" karya Eko Prasetyo dan Terra Bajraghosa yang mengadopsi pemikiran kedua tokoh itu.

Kedigdayaan Sekolah

Dalam "Kuliah Iku Migunani", Rofian mengagungkan kedigdayaan sekolah. Alkisah, dua ksatria bertarung memperebutkan hegemoni. Setelah bertarung habis-habisan, seorang ksatria jadi pemenang. Dia pun berujar dengan arogan, "Ni bukan sembarang Khory. Flash aja kalah cepet. Makanya kuliah yang bener, baru melawan aku." Pesan serupa terselip dalam "Anjing Menggonggong, Kuliah Tetap Berlalu" karya Ratri IB, dan hampir seluruh karya yang dipajang di ruang tamu serta ruang tengah itu.

Dua karya mengajak apresian berinteraksi, yakni "GameMbol" milik Kurniawan AU, dan "Nah... Gitu Dong!" karya Abikara. "GameMbol" adalah game komik yang bisa dimainkan apresian menggunakan perangkat komputer. "Nah... Gitu Dong!" berupa neon box comic.

Di dinding, Abikara memasang tulisan dialog dua orang, sebut saja A dan B. A: "Mau belajar tapi kok gelap ya...?" B: "Sabar aja siapa tahu ada yang peduli." A: "Iya nich, siapa ya?" B: "Tunggu aja, siapa tahu ada tangan-tangan yang peduli sama kita...."

Di depan tulisan itu, Abikara memasang tombol yang terkoneksi ke neon box. Apresian dipersilakan memencet tombol. Dan begitu dipencet, menyalalah neon box yang membiasakan selarik kalimat, "Nah gitu dong...! Kalau begini kan mbaca2 jadi enak. Mata nggak rusak. Terima kasih." Dibanding karya-karya lain, "Nah... Gitu Dong!" boleh dibilang paling menarik. Tak semata-mata interaktif, tetapi juga empatik. (53)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA