| Sabtu, 06 Oktober 2007 | BANYUMAS |
Monolog Putu Wijaya Rasa NgepopTIGA puluh novel, empat puluh naskah drama, dan seribu cerita pendek sudah diciptakan oleh Putu Wijaya. "Nol", salah satu novelnya terbit tahun 1992 saat para intelektual mulai mempertanyakan kesahihan klaim demokratis Orde Baru. Semangat "Nol" terdengar kembali di Kota Purwokerto dalam warna yang menampilkan kebaruan pertunjukan teater. "Nol" dibangkitkan lewat pentas monolog oleh Komunitas Senyum Selalu (Kosusu) di aula Fisip Unsoed, 4-5 Oktober 2007. Pentas itu juga merupakan penampilan kembali aktor Zaenal (Jae) di kancah teater monolog yang miskin peminat itu. Sebelumnya, monolog pernah hadir lewat Hizyam dan Ganjar Wisnu Murti. Sutradara pementasan Yahya Zakaria beserta tim kreatif berusaha memberi nafas kekinian pada kontemplasi Putu Wijaya. Mereka mengaet Slidemunky Band untuk menggarap musiknya. Selama lebih dari setengah jam racikan musik yang begitu dominan menambah nuansa kebaruan. Tak Sungkan Lagu legendaris milik Bob Marley berjudul "Redemption Song" pun tak sungkan-sungkan mereka kumandangkan. Untunglah dominasi musik diimbangi oleh kekuatan sang aktor. Tata panggung minimalis berupa suasana penampungan sampah dan sebuah telepon kantor, tidak menenggelamkan eksplorasi aktor. Sayang, Zaenal tidak lepas dari salah satu kelemahan utama monolog, yaitu ketidakjelian pergantian karakter. Jeda dari satu ekspresi terlalu cepat, perubahan mimik nyaris tanpa mengambil nafas panjang. Namun paling tidak Kosusu berani mengambil jalan yang belum ditempuh teater berbasis anak kampus pada umumnya. Keberanian mengawinkan keseriusan naskah Putu dengan keceriaan ngepop anak band menunjukkan upaya berdialog yang cerdas. Maklum, kendati berstatus mahasiswa rata-rata penonton tak begitu gemar pada tema-tema semacam kritik demokrasi. Padahal itulah celaan "Nol" dari awal hingga akhir. (Sigit Harsanto-27) |