logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 01 Oktober 2007 SALA
Line

Pabrik Kembang Api Banjir Pesanan

KARANGANYAR-Lidya Halim, pemilik pabrik kembang api di Jumantono, Karanganyar mengeluhkan soal perizinan. Dia berniat memperluas areal pabriknya dan menambah satu unit lagi, namun ternyata proses perizinannya tidak mudah.

"Sampai sekarang izin belum bisa saya dapatkan. Saya tidak tahu kenapa sulit, apa dikira pabrik saya termasuk pabrik berbahaya ? Toh saya hanya memproduksi kembang api, tidak membikin mercon. Ibu bisa melihat sendiri kenyataannya," kata dia, Sabtu (29/9) saat ditinjau oleh Bupati Rina Iriani.

Dengan kapasitas produksi 800 - 900 karton sehari (satu karton berisi 5.000 batang kembang api), pabrik tersebut memiliki pasar se-Indonesia. "Permintaan pasar cukup besar, apalagi menjelang bulan puasa sampai habis Lebaran seperti sekarang. Kami kewalahan," kata Lidya.

Karena itulah pihaknya ingin menambah satu unit lagi dengan kapasitas yang hampir sama. Dengan perluasan itu, diharapkan akan bisa menyerap tenaga kerja yang hampir sama dengan pabrik yang sekarang.

Namun sangat disayangkan, sudah beberapa bulan ini izin tidak kunjung diperoleh.

"Saya mohon kepada Ibu, pabrik ini aman. Tidak memproduksi mercon, tidak memakai bahan peledak. Selama hampir 9 tahun, pabrik ini juga aman-aman saja. Karena itu saya mohon kepada Ibu, agar izin perluasan pabrik bisa segera saya dapatkan," kata dia.

Naker Wanita

Pabrik miliknya berada di lokasi agak terpisah dari permukiman, bersebelahan dengan lokasi tempat pembuangan akhir (TPA) sampah, yang dilengkapi dengan pabrik daur ulang untuk membikin kompos.

Pabrik itu bisa menampung sekitar 1.000 karyawan, yang mayoritas wanita. Sekitar 800-an pekerja perempuan berasal dari kampung di sekitar pabrik, di wilayah Jumantono. Karena itu keberadaannya sangat membantu masyarakat sekitar.

Para pekerja mendapatkan penghasilan dengan sistem kerja borongan. Rata-rata, satu pekerja memperoleh bayaran Rp 13.000 sampai Rp 17.000 ditambah uang makan Rp 3.000 perhari.

Dengan bayaran tersebut, warga sangat terbantu. "Bagi kami, uang sebanyak itu sudah besar. Toh kami hanya membantu suami. Apalagi, paling sampai jam 15.00 sudah pulang. Yang juga kami syukuri, perlakuan pemilik pabrik baik. Kalau ada yang hamil dan sudah besar, boleh membawa kerjaan ke rumah. Kalau melahirkan dibantu biaya, dikasih popok, jarik. Kami senang," kata Suparmi, salah seorang pekerja.

Bupati Rina yang disambati mengatakan, akan segera meneliti perizinan perluasan pabrik tersebut. Menurut dia, tidak ada alasan tidak memberikan izin perluasan, jika lokasi yang dipilih juga berada di sekitar pabrik yang telah ada. Kecuali di zona yang memang dilarang untuk mendirikan pabrik.

"Saya akan lihat dulu, kalau tidak ada masalah ya segera kita beri izin," kata dia. (an-63)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA