logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 01 Oktober 2007 PANTURA
Line

Alat Pengukur Brix Tebu Giling Dinilai Tak Standar

SLAWI - Tim independen dari Institute for Science and Technology Studies (Istecs) yang diturunkan Komisi IV DPR ke Pabrik Gula (PG) Pangka, menemukan faktor rendemen (FR) yang dipergunakan dalam penentuan rendemen selama beberapa periode menggunakan angka di bawah FR minimum kesepakatan.

Akibatnya, petani berpotensi kehilangan gula sebesar 5.297 kw atau setara dengan Rp 2 miliar.

Hal itu diungkapkan Qomarudin Sutrisno, anggota tim Istecs di kantor Ir H Suswono MMA, wakil ketua Komisi IV DPR, di Kecamatan Slawi, Kabupaten Tegal, Sabtu (29/9).

Atas temuan tersebut Suswono, langsung melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke PG Pangka.

Temuan lainnya, kata Qomarudin, alat pengukur brix tebu giling yang dipergunakan di Pabrik Gula (PG) Pangka hingga 8 September 2007 lalu dinilai tidak standar. Sebab, setelah dilakukan komparasi dengan alat sejenis terdapat selisih 0,6 pada skala baca alat tersebut. Dengan demikian, ada potensi kerugian rendemen mencapai 0,3%.

Selain itu, alat yang dipergunakan untuk membaca tingkat polar nira tebu atau polarimeter sangat bergantung pada tingkat kejelian mata.

Di beberapa tempat alat tersebut sudah dianggap tertinggal dan diganti dengan suchromat digital, dengan akurasi yang lebih baik dan praktis.

"Hasil pengamatan di komputer laboratorium di PG Pangka, kami menemukan adanya standar ganda dalam penentuan rendemen. Dalam board giling 2007 (papan tulis) pada periode III tertulis FR 0,6806.

Tetapi dalam penentuan angka rendemen petani di komputer dalam satu periode, FR-nya berbeda, di bawah minimum. Yakni, berjenjang dari 0,6718 menurun hingga 0,65 (mulai tanggal 1 Juli-15 juli).

Wakil Ketua Komisi IV DPR, Ir H Suswono MMA meminta PG Pangka kooperatif untuk menyelesaikan adanya dugaan tersebut.

Kepala Tanam PG Pangka MA Nurhadiyatno BSc menepis berbagai anggapan tersebut. Sebab, alat ukurnya brix tebu giling sudah standar. Pihaknya sudah bekerja sesuai dengan prosedur yang ada.

Sedangkan terkait dengan kerugian petani, dia tidak bisa menjawabnya. "Kenapa bisa menghitung seperti itu. Kan datanya sudah benar," ungkapnya. (H3-52)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA