| Senin, 01 Oktober 2007 | WACANA |
TAJUK RENCANAMusim Perampokan Hadir KembaliSeperti biasa, setiap menjelang lebaran tiba perampokan kembali menyeruak di mana-mana. Pembaca bisa mencoba membalik-balik catatan seperti juga yang kami lakukan, setiap menjelang lebaran keadaan hampir selalu sama. Bulan Ramadhan tiba, kecenderungan konsumtif bertambah, toko emas ramai dikunjungi orang, antrean di bank memanjang, dan biasanya pula show room motor dan mobil semarak. Nah, bersamaan dengan itu, sebagian kecil di antara masyarakat ada yang tidak bisa mengendalikan nepsu melik karena barangkali juga ingin seperti yang lain. Nepsu melik uang, motor, perhiasan dan sebagainya itu diwujudkan dengan perampokan. Perampokan-perampokan besar yang terjadi di berbagai daerah dengan sasaran empuk seperti toko emas, nasabah bank, pedagang sapi biasanya melibatkan kawanan bersenjata. Mereka tak segan menghabisi korban dengan senjata api, dan biasanya sulit terlacak seperti misalnya perampokan toko emas di Welahan, Jepara tahun lalu. Kawanan itu bergerak sistematik dengan hasil rampokan yang biasanya sangat besar. Pola perampokan seperti itu sudah berulang bertahun-tahun, dan secara kualitas maupun kuantitas cenderung bertambah. Karena bergerak dengan sistem dadakan sekaligus memanfaatkan kelengahan para korban, maka mereka bisa bergerak lebih leluasa. Biasanya di bulan Ramadan seperti ini masyarakat cenderung memanfaatkan waktu luang yang lebih longgar untuk berbelanja baik untuk kebutuhan puasa maupun persiapan lebaran. Orang yang sedang berbelanja cenderung asyik dengan dirinya, apalagi jika sedang memilih dan memilah perhiasan di toko emas yang padat pengunjung. Di saat seperti itu orang mudah lalai, termasuk lalai membawa diri. Hal yang sama juga terlihat pada mereka pedagang perhiasan. Jumlah pengunjung toko memadat, konsentrasi terpecah, jumlah uang terakumulasi menyolok tentu menjadi catatan tersendiri bagi mereka yang berniat jahat. Apalagi jika lingkungan sekitar tergolong aman. Dengan jumlah personil yang sangat terbatas, polisi tidak akan mampu melakukan tugas pengawasan dan pengawalan pada semua titik keramaian. Maka tidaklah mengherankan manakala sangat jarang muncul berita yang menyebutkan polisi menggagalkan pencurian atau pun perampokan. Sedangkan yang terjadi biasanya, pasca peristiwa barulah pelaku ditemukan, atau ditemukan secara tidak sengaja. Keadaan ini tentu sangat dimaklumi karena rasio pengawas dan yang diawasi sangatlah jauh. Apalagi jika semua persoalan harus dibebankan kepada polisi mulai dari kekerasan dalam rumah tangga sampai perampokan - perampokan besar. Keadaan tersebut sangat membutuhkan partisipasi masyarakat secara luas. Jika memang harus berbelanja, perkirakanlah berapa uang yang harus dibawa, dan jika harus membeli emas permata persiapkan diri dengan pengamanan cukup. Dan, jika pun harus mengambil uang di bank, maka perhatikanlah jumlah yang tidak terlalu besar dan juga keamanan lingkungan. Semua hal yang menyangkut keamanan diri harus dihitung sebelum melakukan kegiatan-kegiatan seperti itu. Dan, bagi aparat kepolisian pastilah juga sudah mempunyai referensi cukup untuk memperkirakan keadaan tertentu yang membutuhkan pendekatan berbeda dengan hari-hari biasanya. Untuk keadaan seperti ini kita imbau kepada masyarakat meningkatkan kewaspadaan baik di rumah atau ketika berada di luar rumah. Juga bank, toko emas, pusat-pusat perdagangan haruslah meningkatkan pengawasan pada skala yang paling aman. Perhatikanlah setiap kecenderungan perubahan lingkungan meski sesibuk apa pun. Kita berharap masyarakat mampu melakukan pengamanan diri secara maksimal karena perubahan situasi keamanan lingkungan. Dengan pola pengamanan swakarsa kita yakini akan mampu menepis semua kemungkinan buruk seperti pencurian, perampokan, dan kekerasan dalam bentuk yang lain. Di sisi lain, kita tetap berharap yang buruk-buruk itu tidak terjadi. |