logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 01 Oktober 2007 SEMARANG
Line

Hafal Quran dari Mendengarkan

Meski tunanetra sejak lahir, Mohamad Nadhim (23), mampu mengaji dan menghafal 30 juz ayat Alquran. Karunia tersebut dimiliki Nadhim sejak masih berusia 11 tahun, atau setelah tiga tahun mondok di Pondok Pesantren (ponpes) Darus Salam Desa Pucangrejo RT 5 RW 2 Pegandon, Kendal.

''Saya mulai belajar mengaji dengan cara mendengar orang tua atau teman-teman yang sedang mengaji,'' tutur Nadhim ketika ditemui di Ponpes Darus Salam, semalam.

Hingga sekarang pria bertubuh kecil ini tak bisa membaca dan menulis, termasuk membaca huruf braille. ''Saya bisa mengaji dan menghafal, karena mendengarkan orang lain mengaji. Setahap demi tahap, alhamdulillah bisa saya hafalkan,'' katanya.

Nadhim merupakan anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Hasani (50) dengan Qona'ah (45), warga Desa Pucangrejo RT 2 RW 2 Pegandon. Rumahnya hanya berjarak sekitar 500 meter dari Ponpes asuhan KH Noer Chamid. Nadhim perlu waktu 15 menit untuk menempuh perjalanan ke pondok.

''Kendati tak dapat melihat, saya hafal betul jalan dari rumah hingga ponpes. Dulu saya sempat naik sepeda onthel saat datang ke sini,'' tuturnya.

Pria yang tak pernah mengenyam pendidikan formal ini berkisah, dia belajar di ponpes ketika berusia sembilan tahun. Keputusan itu diambil, karena tak betah tinggal di rumah sendiri. Adik, kakak, dan teman sebayanya masuk sekolah formal, orang tuanya bekerja di ladang untuk bercocok tanam.

Juara MTQ

Lebih kurang tiga tahun belajar mengaji di ponpes, Nadhim akhirnya mampu menghafalkan 30 juz. Setelah khatam Alquran, dia meminta pengasuh pondok untuk dikhitankan.

Untuk mengaji 30 juz Nadhim mengaku memerlukan waktu sekitar 12 jam. Tidak hanya sebatas mengaji dan menghafal ayat-ayat suci, lelaki bersahaja dan ramah senyum ini juga memiliki sejumlah prestasi.

''Pada 2005 atau ketika saya berusia 21 tahun diikutsertakan dalam lomba MTQ antarpesantren di Solo. Namun, saat itu saya masih grogi, sehingga belum bisa meraih prestasi yang maksimal,'' ujarnya.

Hal itu tidak membuatnya putus asa. Ketika ada kesempatan, dia kembali mengikuti kegiatan serupa tingkat Jateng dan berhasil menyabet juara umum. Pada lomba di tingkat Kendal, dia sering menjadi juara umum.

Ponpes Darus Salam, tempat Nadhim menuntut ilmu berdiri pada 1993. Ponpes tersebut diasuh KH Noer Chamid. Kiai ramah dan murah senyum ini adalah anggota DPRD Kendal 1992-1997. (Setyo Sri Mardiko-37)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA