| Senin, 01 Oktober 2007 | SEMARANG |
September, 100.000 Benih Ikan Lele MatiUNGARAN - Selama September ini sedikitnya 100.000 benih ikan lele mati di Paguyuban Petani Ikan Desa Ngrapah, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang. Dari 25.000 benih yang ditebar, 10%-nya mati. Menurut Ketua Paguyuban Mina Rahayu Makmur (Mirama) Desa Ngrapah Nurul Huda, total kerugian mencapai 25% per hari dari jumlah yang disebar. ''Penyebab kematian mungkin karena perbedaan iklim atau suhu yang sangat panas pada siang hari dan dingin pada malam hari. Selain itu, juga disebabkan oleh kelangkaan induk yang mampu bertelur,'' kata Nurul Huda, Jumat (28/9). Saat ini yang dilakukan anggota Mirama adalah membersihkan media kolam lele yang mayoritas terbuat dari terpal. Anggota peternak ikan tahu jika Agustus hingga Oktober adalah saat yang sulit untuk menyemai benih. Pihaknya menggunakan ilmu kira-kira dengan melihat warna air dan perilaku ikan. ''Jika air berwarna tertentu kami akan segera mengganti dengan yang baru. Ini untuk menghindari agar tak banyak benih mati,'' papar Nurul. Kemudian, jika ada beberapa ekor yang menunjukkan perilaku aneh seperti berdiri di air (gejala terkena penyakit), pihaknya akan segera mengisolasi dan mengganti air kolam. Ia dan petani ikan yang lain berharap, kerugian benih tersebut dapat diganti Pemkab Semarang melalui Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakan). ''Anggota Mirama berjumlah 80 orang, namun menurutnya yang aktif hanya 60 anggota. Kami berupaya menjadikan kabupaten ini sentra ikan,'' tuturnya. Empat Tepat Menanggapi banyaknya kematian benih, Disnakan mengadakan pelatihan sehari budi daya, kesehatan, dan penyakit ikan pada Kamis (27/9) di kantor dinas. Pelatihan diikuti 85 orang yang terdiri atas kelompok tani ikan dan petugas PPL. ''Pelatihan ini berfungsi memberi pengetahuan tentang bagaimana cara yang baik untuk budi daya ikan,'' kata Kepala Disnakan Ir Agus Purwoko Jati melalui Kabid Produksi Perikanan Ir Nurhadi Subroto MM, kemarin. Kegiatan tersebut akan dilakukan setiap tahun, mengingat di lapangan banyak kematian ikan. Di samping itu, warga Bumi Serasi kini lebih semangat membuka usaha bidang perikanan. ''Pelatihan ini baru pertama kali dilakukan. Kelompok petani ikan meminta pelatihan bisa diselenggarakan setiap tahun,'' ucap Nurhadi. Pada Agustus hingga Oktober, lanjutnya, benih ikan sangat peka terhadap cuaca. ''Oleh sebab itu, penenbaran benih harus memenuhi empat tepat, yakni tepat mutu, ukuran, jumlah, dan waktu,'' jelas dia. Benih disesuaikan dengan lingkungan dan kualitas benih juga harus diperhatikan. Soal waktu, Agustus, September, dan Oktober, mestinya merupakan masa panen, bukan penyebaran benih. (H14-37) |