logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 01 Oktober 2007 SEMARANG
Line

Diusulkan Los Daging Higienis

  • Untuk Usir Pedagang Bandel

UNGARAN - Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakan) Kabupaten Semarang belum lama ini mengirim proposal usulan pembangunan los daging higienis ke pemerintah pusat. Hal itu dilakukan menyusul masih ditemukannya sejumlah pedagang yang menjual daging ayam dan sapi tak layak konsumsi.

Temuan terbaru di Pasar Projo Ambarawa, yakni daging ayam busuk 6,5 kilogram dan daging hati sapi 1,7 kilogram.

Kepala Disnakan Ir Agus Purwoko Jati didampingi Kabid Keswan dokter hewan Bambang Sutrisno MM menegaskan, proposal tersebut telah disampaikan ke Departemen Pertanian Dirjen P2HP.

''Sementara ini kami menggunakan cara-cara konvensional, di antaranya melalui pengawasan langsung ke pasar. Ke depan kami berencana membuat los daging higienis yang secara tak langsung bisa membasmi pedagang nakal,'' kata Agus Purwoko, akhir pekan lalu.

Dengan keberadaan los yang aman dan bersih tersebut diharapkan masyarakat lebih memilih membeli di tempat sehat itu. Bambang Sutrisno menjelaskan, los tersebut akan dibiayai APBN. ''Mungkin pembangunannya bertahap untuk semua pasar di kabupaten ini, dimulai dari Pasar Bandarjo Ungaran yang terbakar Agustus lalu,'' ungkap dia.

Dia menyatakan, los higienis belum ada di Jateng. Ia menegaskan, kabupaten ini diharapkan bisa menjadi proyek percontohan pasar yang baik, karena potensi ternak besar dan ternak kecil di kabupaten ini sangat bagus. ''Kami berupaya menyediakan daging yang aman, sehat, utuh, dan halal bagi konsumen,'' tandasnya.

Surat Sehat

Jika terwujud, los modern itu akan dilengkapi dengan coolstored (pendingin). Pedagang tinggal memilih bagian potongan daging ayam dan sapi yang diinginkan tanpa ada campuran daging busuk. ''Kalau masih ada daging campurannya, ya kebangetan,'' tegas Bambang.

Upaya lain untuk menghasilkan daging higienis adalah dengan revitalisasi rumah potong unggas (RPU) dan rumah potong hewan (RPH) di Kabupaten Semarang. Menurutnya, belum banyak warga yang memanfaatkan RPU dan RPH untuk menyembelih unggas atau hewan ternak besarnya. ''RPH di sini dijamin bebas glonggongan. Jika ada glonggongan, bukan dari daerah sini,'' jelas dia.

Operasi pengawasan daging tak hanya dilakukan menjelang Lebaran. Di luar hari besar ini, operasi juga ditingkatkan. ''Pedagang yang kepergok menjual daging busuk akan membaik dalam seminggu saja. Selebihnya dia akan menjual daging tak sehat lagi,'' papar dia.

Di samping itu, solusi lainnya adalah penyuluhan kepada masyarakat secara terus-menerus, misalnya ajakan untuk tidak mau membeli daging murah. Sebab, daging murah biasanya busuk atau glonggongan.

''Kami juga tidak akan memberi surat keterangan pengiriman kesehatan daging untuk pedagang bandel yang akan transaksi antardaerah,'' tandas Bambang Sutrisno. (H14-37)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA