logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 01 Oktober 2007 KEDU & DIY
Line

Penipuan Dunia Maya (1)

Berkedok Prostitusi, Minta Uang Muka atau Pulsa

  • Oleh Agung PW

DUNIA maya memungkinkan orang melakukan apa saja tanpa harus berpindah tempat. Misalnya saja, untuk sekadar ngobrol sampai ajang bisnis dapat melalui fasilitas internet. Untuk ngobrol, lebih irit dari telepon karena berjam-jam di depan komputer tak lebih dari Rp 10.000, itu sudah dapat berbicara dengan mik sekaligus melihat lawan bicara melalui webcam, dikenal dengan istilah chating.

Dampak positif kemunculan dunia maya memang luar biasa namun ada pula sisi negatifnya. Kejahatan dunia maya misalnya dari hari ke hari semakin menggila. Bukan saja model pembobolan kartu kredit atau semacamnya, bahkan yang tingkatan kecil-kecilan juga terjadi.

Modus yang akhir-akhir ini kerap terjadi adalah penipuan berkedok prostitusi melalui chating. Lihat saja di sebuah situs penyelenggara chat, begitu memasuki forum kota tertentu seperti #yogyakarta akan muncul identitas peserta chat, seperti ce_penggoda, ce_pembangkitnafsu, ce_bisa, ce_mau, ce_mw, ce_pgn, ce_butuh_duit_now, ce_butuh_bgt, ce_ml_serius, ce_cakep_rekbank...., ce_butuh_cinta, ce_semoks, ce_bahenol, ce_needmoney, ria_bth_co, dan seabrek nama lain. Kode ce menandakan yang bersangkutan adalah cewek.

''Memang dunia chat akhir-akhir ini banyak disalahgunakan sebagai ajang penipuan berkedok prostitusi meskipun di sana memang sebenarnya juga ada hal itu,'' ujar Suryo, salah seorang pengguna internet yang kerap menemui kasus semacam itu.

Transfer Uang

Dia menceritakan, penipuan berkedok prostitusi biasanya seorang peserta chat dengan identitas cewek mengajak peserta identitas laki-laki untuk make love alias bercinta. Si cewek akan menunjukkan foto dan data diri melalui situs friendster. Biasanya foto yang terpampang memperlihatkan sebagian aurat atau bergaya seronok.

Pengguna identitas bisa perempuan sungguhan tapi juga bisa laki-laki atau berdua. Mereka bekerja sama menjalankan aksi di salah satu warnet, di Yogyakarta atau Semarang, Solo, dan sejumlah kota lain bahkan juga kadang mengaku dari Jakarta, Surabaya, atau Bandung.

Antok, mahasiswa PTS di Yogyakarta mengakui, memang banyak cybercrime berkedok prostitusi, mengajak lawan bicara ''tidur'' namun sebelumnya harus mentransfer uang ke nomor rekening tertentu. Kadang malah ada yang hanya minta dikirim pulsa entah Rp 10.000, Rp 50.000 atau Rp 100.000. Pelaku juga memberi nomor telepon selular agar bisa dihubungi.

''Yang sering muncul misal identitas irma_sella atau Melda mengaku kuliah di PTS Yogyakarta atau Fia di nomor 08525770555x dengan id the_hoPPuss atau cewex_18, mela_kiss4, dan masih banyak lagi. Kalau ditelepon nggak pernah diangkat kalaupun diangkat agak lama baru muncul suara cewek,'' jelas dia.

Setelah merasa calon korban dapat diperdaya, pelaku minta mengirim pulsa atau uang sebagai tanda jadi. Antok mencontohkan, pelaku meminta calon korban mengirim ke nomor rekening 66902097xx atas nama Andre dengan modus meminta uang transportasi ke Yogyakarta kalau ingin mengajak kencan. Setelah memperoleh transfer uang, nomor telepon segera ditutup dan tak bisa dihubungi lagi. (70)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA