| Sabtu, 29 September 2007 | WACANA |
Surat PembacaTentang Siswi Bunuh DiriBerita di harian ini 7 September 2007 tentang siswi bunuh diri, bukanlah yang pertama. Beberapa hari sebelumnya juga dimuat kasus serupa yang kejadiannya di lain tempat. Saya prihatin. Bunuh diri bukan cara terbaik untuk menyelesaikan persoalan kehidupan, tapi boleh dikatakan salah satu cara untuk menyelesaikan masalah berat dengan cepat untuk masing masing orang. Seperti Eve Natalia Chrisna (15) siswi YSKI kelas IX yang tak sanggup menahan malu, gara-gara belum membayar SPP. Lalu siapa yang harus bertanggung jawab terhadap masalah ini. Secara hukum tidak ada yang disalahkan tetapi secara moral, orang tua dan sekolah sama-sama menanggung beban moral. Orang tua harus menjamin kelangsungan pendidikan anaknya, minimal lulus SLTA. Memang keadaan ekonomi saat ini tidak mudah, perlu kerja ekstra keras. Namun lembaga sekolah sebenarnya punya banyak alternatif penyelesaian atau pencegahan terhadap peristiwa tersebut. Pertama, pihak sekolah membatasi karyawan siapa saja yang boleh tahu data tentang siswa penunggak uang sekolah. Bahkan guru/pembimbing pun tidak perlu tahu untuk menghindari obyektivitas atau rasa minder murid. Kedua, pihak sekolah memberi keringanan pembayaran baik penurunan maupun penundaan. Janganlah pihak sekolah memberikan persyaratan yang dikaitkan dengan ujian atau hal lain yang bisa dianggap sebagai ancaman bagi siswa, misal bila belum lunas SPP, tidak bisa ikut ujian atau kegiatan yang lain. Ketiga, pihak sekolah mencarikan beasiswa/orang tua asuh bagi siswa yang kesulitan ekonomi. Jalinlah kerja sama dengan komite sekolah, yayasan atau gereja induk yang menaungi YSKI. Saya yakin masih banyak yang peduli terhadap sesama. Pihak sekolah tidak akan rugi menolong orang yang kesulitan. Juga kewajiban sekolah untuk mendidik para siswanya menjadi orang yang berguna dan menghantar ke jenjang yang lebih tinggi. Kita jangan menunggu pemerintah menggratiskan pendidikan, tapi harus mendahului mencarikan solusi/jalan keluarnya. Maaf, tulisan ini tidak ada maksud menyalahkan orang tua atau sekolah tetapi sebagai bahan refleksi semua pihak. Agus Suminto Jl Pusponjolo Tng Raya 100, Semarang Pelni, Tolong Dong Dulu dari tahun 1996 sampai 2002 hampir dalam setahun saya naik kapal penumpang antarpropinsi sebanyak 4 kali. Mulai dari KM Binaya, KM Kelimutu, KFC Mahakam/Barito sampai KM Egon jurusan Semarang - Banjarmasin atau Surabaya - Banjarmasin PP. Sekarang dalam 1 tahun mudik hanya 1 s.d 2 kali ke Karimunjawa. Kapal yang tersedia hanya 2 yaitu KM Muria dan KMC Kartini. Untuk KMC Kartini yang merupakan kapal baru tidak ada masalah baik pelayanan, kebersihan, jadwal pemberangkatan. Tetapi untuk KM Muria tolong penumpang lebih diperhatikan. Jarak Jepara - Karimunjawa 70 km. harus ditempuh 5 sampai- 6 jam (emang kapal melaju kecepatannya berapa), jadwal keberangkatan molor, penumpang melebihi kapasitas (terutama menjelang lebaran ), membeli tiket bisa di atas kapal (bukan di loket dermaga ), kebersihan dan air bersih di toilet kurang. Tolong Pemkab Jepara dan Pemprov Jateng, datangkan lagi kapal yang lebih besar dan muda. Bukan rahasia kalau kapal-kapal yang beroperasi umurnya udah tua). Walau hanya berlayar pada daat tertentu misal lebaran (jumlah penumpang melonjak). Juga waktunya dan biasa bisa beroperasi di tempat lain. Mungkin Pelni bisa membantu dengan mengalihkan salah satu armadanya (missal KM Egon) untuk melayani Jepara - Karimunjawa selama H-7 s.d H+7 lebaran. Kudiyanto Karangnyar RT 2/RW 12, Semarang *** Idul Fitri Bareng Idul Fitri kembali terjadi dualisme. Muhammadiyah menetapkan hari Jumat 12 Oktober 2007 sedang pemerintah dan NU kemungkinan Sabtu 13 Oktober 2007. Perbedaan ini terjadi karena metoda yang digunakan berbeda yaitu metoda hisab (perhitungan secara astronomis) dan metoda rukyah yaitu melihat bulan dengan pandangan mata. Kalau dipandang dari sisi lain yaitu ketika kaum muslimin sedang melaksanakan wukuf (puncak haji di Arab) maka semua orang melaksanakan wukuf pada satu hari yang sama yaitu yang ditentukan oleh Pemerintah Arab Saudi. Karenanya tidak pernah terjadi wukuf dua hari. Yang ahli hisab atau rukyah semuanya nurut saja dan hajinya sah juga. Dari pengalaman itu mestinya umat Islam di Indonesia bisa belajar bagaimana menerima jadwal 1 Ramadan, Idul Fitri dan Idul Adha. Tidak usah masing-masing membuat jadwal sendiri. Belajar lapang dada seperti saat haji. Kalau saat haji bisa kenapa kalau sudah pulang ke tanah air tidak bisa, itulah pertanyaannya. Semoga dapat menjadi renungan para pemimpin umat. M Najib. Jl Sawojajar SC, Pringgolayan RT 2/RW26 Condong Catur, Sleman. *** Soal Excellent Computer Berkaitan tulisan di Surat Pembaca 22 September 2007 tentang " Bukan Milik Saya" yang ditulis Bapak Hari Supriyono, saya ucapkan terima kasih masukannya dan mohon maaf atas ketidaknyamanan yang beliau rasakan. Saya selaku pimpinan Excellent Computer telah mengunjungi beliau untuk klarifikasi dan permasalahan sudah selesai. Semoga masukan ini menjadikan lebih baik di masa mendatang. Sugiyarto SKom (024 3511176) Jl Bulu Stalan I/27, Semarang *** Larangan Parsel Sudah hampir setahun Surat Edaran MenPAN No SE/15/m.Pin/10/2006 diberlakukan, tapi lagi-lagi beluau harus mengingatkan para pejabat agar tidak menerima bingkisan atau parcel atau kunci mobil/rumah dari mana pun. Kalau dipikir sebenarnya kesejahteraan mereka sudah lebih dari cukup, jadi tidak sepantasnya menerima bingkisan lebaran. Lebih baik para pejabat tersebut justru mengirimkan bingkisan lebaran kepada warga miskin, para pengungsi atau bawahannya hingga bisa dibilang bingkisan dari atas ke bawah, bukan sebaliknya. Saya imbau wakil rakyat baik di pusat maupun daerah juga jangan minta uang lebaran dari APBD/APBN sebab akan melukai perasaan rakyat. Pihak eksekutif juga tidak perlu menyiapkan dana untuk para wakil rakyat serta tidak usah diiming- imingi, ditalangi, dipermudah. Sebab kebutuhan mendesak masih sangat banyak, terutama menyejahterakan rakyat miskin yang makin banyak. Semoga semua pihak memakai hati nurani. H Erlangga Chandra (EI) Bantulan RT 1/RW 2 Banyudono, Boyolali *** Harta Terlupakan Buku adalah jendela dunia, ungkapan tersebut bagi yang bisa memaknai dengan tepat akan menemukan dan menyadari bahwa buku merupakan benda yang penting untuk jembatan menguak segala rahasia yang ada di alam ini. Saat ini buku ibarat harta karun yang sering terlupakan, khususnya di Kabupaten Kendal. Ketika nyambi sebagai guru bahasa Inggris di sejumlah SD, saya menemukan banyak buku dari era 80-an. Kebanyakan jenis buku cerita dan pengetahuan praktis untuk anak. Jumlahnya bisa ratusan di satu sekolah. Judulnya bervariasi misal Genderang Perang dari Wamena karya Joko Lelono, Mencari Taman karya Noorca M Massardi, Ladang Bawang karya Mansur Samin, Petualang Cilik karya Endik Saadi, Ujung Timur Negeri Kita karya Darto Singo serta lainnya. Peninggalan tahun 80-an itu ternyata setelah saya telisik isinya sangat mendidik, dengan bahasa santun, penggambaran karakter antagonis atau protagonis yang sopan tanpa menyudutkan salah satu pihak. Alur ceritanya mudah dicerna oleh anak usia sekolah. Ketika buku saya pinjamkan kepada para murid langsung mendapat respon menggembirakan. Namun sayang buku berharga itu kini mulai rusak. Ada yang robek sampulnya hingga sebagian halamannya dimakan ngenget, memprihatinkan. Apakah Dinas Pendidikan Kendal mengetahui ada ratusan buku yang rusak ini entahlah. Sepertinya mereka hanya peduli pada pengadaan buku baru, padahal buku lama juga bermanfaat bagi para murid. Aryo Widiyanto AMd Jl Sri Agung 234 Cepiring, Kendal *** Traffic Light Krapyak Setiap hari saya naik motor berangkat kerja dari Semarang menuju ke arah Kendal, melewati traffic light di perempatan Krapyak. Setiap sampai di traffic light tersebut saya merasakan kepadatan lalu lintas yang luar biasa akibat pengaturan lampu arah ke kiri menuju Jl Gatot Subroto yang menunjukkan jalan terus. Problem yang terjadi, saat lampu merah (berhenti) kendaraan dari timur akan merapat ke kanan ditambah lagi kendaraan dari jalan Tol. Akibatnya terjadi kesemerawutan dan kemacetan pun sering terjadi terutama pada jam jam sibuk. Saya merasa miris karena harus berhimpitan dengan kendaraan besar. Agar semua berjalan lancar dan aman, untuk arah ke kiri menuju Jl Gatot Subroto agar diberlakukan jangan jalan terus tetapi pada waktu lampu merah ya harus berhenti sehingga kendaraan yang dari arah timur atau dari jalan tol tidak perlu merapat ke kanan. Juga perlu ada perubahan penggantian tulis-an yang ada "Ke kiri jalan terus", diubah/diganti menjadi "Ke kiri Ikuti lampu". Yun Hardono Jl Sri Rejeki III/37, Semarang. *** M-Kios Telkomsel Makin menjamurnya counter ponsel akhir-akhir ini membuat persaingan pun menjadi ketat. Akibatnya ada counter menjual harga voucher isi ulang di bawah standar. Counter kecil merasa terlindas menghadapi persaingan tersebut. Ada informasi pihak dealer sudah menyeragamkan harga, namun kenyataan di lapangan, nol besar. Sebagian counter besar masih ada yang menjual voucher di bawah standar. Di sisi lain aturan yang diterapkan M-Kios Telkomsel dengan sistem target membuat banyak counter kecil mengeluh. Padahal kalau ditelisik, setiap malam proses pengisian M-Kios lambat. Di satu sisi pelanggan pun jadi enggan mengisi pulsa karena seringnya gangguan. Namun target jalan terus. Seandainya pihak Telkomsel mengetahui hal tersebut, bagaimana tanggapan dan jalan keluarnya?. Persaingan memang perlu karena selain membuat posisi seseorang melambung juga menghasilkan banyak keuntungan. Tapi ingat, persaingan juga dapat menjadi bumerang bagi seseorang, bila melalui cara yang tidak benar. Kalau boleh usul, alangkah baiknya pihak Telkomsel turun ke lapangan mensurvei dan menstabilkan harga voucher. Makin banyak counter, permintaan chip pun bertambah. Karenanya perlu memperbanyak alat tersebut. Telkomsel masih menjadi nomor satu dalam penjualan voucher isi ulang. Yang dikeluhkan konsumen adalah proses pengisian menjadi lambat pada malam hari dan tarifnya tidak turun. Anom Adi Busono AMd Jl. Pahlawan II/10, Kendal *** RI Akan Jadi Negara Maju di Tahun 2050? Jika dihitung sejak Indonesia merdeka, berarti 105 tahun Indonesia baru menjadi negara maju. Itu pun hanya perkiraan. Rakyat yang miskin dan susah belum tentu bisa merasakan hidup makmur. Ya kalau panjang umur, kalau tidak bagaimana. Contoh Jepang, di tahun yang sama dibom atom sekutu. Namun dengan cepat mampu bangkit sehingga menjadi salah satu negara maju di dunia. Untuk mewujudkan Indonesia menjadi negara maju jauh sebelum tahun 2050 seperi yang dikatakan presiden, warganya juga harus ikut berpartisipasi. Jangan hanya mengkritik kinerja pemerintah, demo menuntut ini itu, tapi semua harus introspeksi lebih dulu. Lakukan perubahan dengan meningkatkan iman dan taqwa. Juga jadikan diri sebagai individu yang berkepribadian baik, berwawasan luas dan kreatif. Semoga dengan begitu sosok Ratu Adil yang selama ini ditunggu - tunggu akan muncul dan bisa memimpin negara ini dengan baik serta menjadikan negeri ini sebagai negara maju tanpa harus menunggu waktu lama. Yanti Rachmawati Jl Argomas Timur I/89 Ledok, Salatiga *** Kartun di Global TV Kartun memang digemari anak-anak dan tak semua isi kartun buruk. Namun alangkah baiknya acara tersebut dikurangi jam tayangnya dan ditayangkan pada jam yang tepat. Menurut saya, saat ini penayangan kartun di Global TV terlalu banyak dan waktunya tidak tepat. Misal pagi hari sudah disuguhi kartun, bukannya berita atau acara lain yang bisa menambah pengetahuan. Siang hari, waktu tidur juga ada. Sore pukul 18.00 ada kartun. Padahal waktu itu sudah masuk jam belajar. Hal itu tentu memengaruhi kesehatan dan pendidikan anak. Terlebih lagi isi cerita kartun tersebut diulang-ulang atau tidak bervariasi. Semoga bisa menjadi pertimbangan bagi stasiun TV ini yang kebetulan sebentar lagi berulang tahun untuk menjadi stasiun teve yang terbaik. Jadilah stasiun teve yang tidak hanya menhibur tapi juga mendidik serta mencerdaskan anak bangsa. Bravo Global TV Yanti Rachmawati Jl Argomas Timur I/89 Ledok, Salatiga Budaya Antre Tanggal 31 Agustus 2007 saya datang lebih awal ke kantor Pembantu Rektor (PR) II Unnes. Karena banyaknya agenda dan tamu, saya harus antre bersama beberapa pegawai dan mahasiswa. Di negeri ini tidak hanya membeli minyak tanah saja yang harus antre, bertemu dengan pejabat juga sama. Akhirnya tiba juga giliran saya. Apa lacur, ada dua orang yang datang sekitar satu jam setelah saya, satu pria, setelah itu disusul seorang ibu dan putrinya yang dengan santai menyerobot antrean. Beragam alasan mereka kemukakan yang membuat darah saya naik. Siapa pun mereka, ketika sudah berada dalam antrean, tidak patut menyerobot. Dalih apa pun selayaknya tidak menjadi pembenar, kecuali yang yang menyangkut nyawa atau keselamatan seseorang. Menyerobot antrean di rumah sakit dengan alasan sakit jantung boleh-boleh saja, hanya saja perlu ada pembuktian medis. Menyerobot antrean untuk bertemu pejabat, alasan apa yang akan digunakan?. Saya yakin banyak pula orang yang mengalami hal saya, baik saat mengantre di pelayanan umum atau instansi. Banyaknya orang yang menyerobot antrean adalah bangsa yang tidak akan maju. Bagaimana bangsa ini bisa maju bila masyarakatnya masih suka seenaknya sendiri, main selonong, main serobot dan tidak menghargai aturan. Mereka yang menyerobot antrean berarti mengambil hak orang lain. Bayangkan bila Anda berada dalam posisi yang diserobot, maukah. Kita tidak usah terlalu muluk melakukan sesuatu untuk mengubah bangsa ini. Mulailah dari diri sendiri dengan hal yang kecil dan sepele, misal tertib dalam antrean. Bukankah hal besar diawali dari yang tampak kecil dan sepele? MT Ardiansyah Jl H Syatori 31, Brebes *** Mohon Informasi Ingatkah para pembaca pada buah mahkota dewa yang pernah menjadi primadona di masyarakat karena dapat diambil manfaatnya sebagai obat-obatan? Tentunya hal tersebut diikuti dengan harga yang fantastis pada saat itu. Tergiur akan hal itu saya ramai-ramai menanam buah tersebut di sekitar pekarangan rumah, tepi-tepian sawah dan sebagainya. Harapannya dapat menambah pemasukan keluarga di tengah kehidupan yang makin menghimpit saya sebagai petani. Namun ternyata harapan tersebut sirna seiring berjalannya waktu. Saya hanya bisa mengubur harapan karena kini harga mahkota dewa di daerah saya sudah tidak dapat ditoleransi. Padahal selama ini buah tersebut masih banyak digunakan sebagai obat yang mujarab bagi kesembuhan penyakit. Dampaknya di daerah saya buah itu sudah tidak diajeni lagi dan tidak menjadi buah yang difavoritkan. Bahkan kini dibiarkan saja walau banyak buahnya yang sudah merah-merah berjatuhan. Mohon bantuan pembaca, informasi harga buah tersebut yang lebih pantas dengan hubungi saya di 085226021560/ 085281820663. Wahid M Nugroho Jatiwangsan RT 1/RW 1 Kemiri, Purworejo |