logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 29 September 2007 WACANA
Line

Sempitnya Pemahaman Korps

  • Oleh Herie Purwanto

BENTROK fisik antara oknum TNI dan Polri kembali terjadi di Ternate. Dua anggota polisi dilaporkan tewas, beberapa lainnya luka-luka baik di pihak TNI maupun Polri ( Suara Merdeka, 26/09 ). Agar bentrok tidak meluas, sudah dilakukan isolasi. Pihak Polri dikandangkan, pihak TNI diawasi.

Bagi masyarakat mungkin sudah jenuh mendengar atau membaca pemberitaan adanya bentrok TNI-Polri. Hal ini dikarenakan, sudah sering terjadi kejadian yang memalukan tersebut. Mengapa ? Sebab kedua institusi tersebut idealnya bisa menjadi panutan dalam masyarakat. Seperti yang sudah-sudah, bila terjadi bentrokan maka petinggi kedua instansi turun mendamaikan, membuat kesepakatan. Di lain waktu, mungkin dengan permasalahan yang berbeda, kembali bentrok itu terjadi.

Pemicu bentrok biasanya disebabkan oleh hal-hal yang sepele, seperti tersinggung, saling pelotot di jalan, adanya kecelakaan atau hal-hal yang remeh. Anehnya, meski berawal dari "kesalahpahaman" secara perorangan, bisa berimbas menjadi bentrok yang melibatkan kesatuan.

Yang lebih penting dicatat di sini, bentrokan demi bentrokan yang terjadi biasanya hanya pada tingkat grassroot atau tingkat bawah. Dalam konteks ini yang menjadi variabel adalah kaitannya dengan pemahaman sempit kebanggaan pada korps ( la esprit de corps ).

Bukan rahasia lagi bila sejak awal mengikuti pendidikan pembentukan baik itu di Polri atau TNI selalu ditanam rasa kebanggaan pada korps. Penanaman sikap ini memang mutlak diperlukan mengingat dengan masuknya doktrin kecintaan pada korps maka akan lahir sikap disiplin, loyalitas dan menghormati jenjang hierarki

Bayangkan, untuk menanamkan benih kecintaan pada korps ini, pada saat menjadi siswa, instruktur bisa saja memberikan satu permen pada satu siswa di ujung peleton untuk digilirkan, berurutan ke siswa lainnya sehingga siswa sebanyak 30 orang merasakannya!

Pemahaman Sempit

Hanya sayangnya, pada penjabarannya kebanggaan atau kesetiaan pada korps dipahami secara sempit, misalnya membela rekannya dengan taruhan nyawa sekalipun bila " bersinggungan dengan pihak lain". Rasa pembelaan ini tidak didasari apakah yang dibela itu benar atau tidak. Yang penting "hantam kromo" dulu, urusan belakang.

Konsepsi pemahaman ini sudah barang tentu harus diubah. Paradigma tugas sebagai pengayom, pelindung masyarakat yang berdasarkan hukum, bukan sebagai pengayom atau pelindung di atas kebanggaan korps semata.

Hal yang menarik lainnya untuk dikaji lebih dalam baik oleh Mabes TNI maupun Mabes Polri adalah adanya bentrokan yang sering terjadi dan melibatkan pada level bawah menunjukkan adanya yang "kurang" dalam pembinaan psikologis mereka. Sepertinya, level bawah yang identik dengan usia muda tersebut masih mudah larut ke dalam emosi untuk menyelesaikan masalah, bukan mengedepankan otak atau rasio sehingga bisa memilah-milahkan mana yang benar secara hukum dan mana yang salah.

Pembelaan rekan yang bermasalahan dengan kesatuan lain secara berlebihan juga menunjukkan rendahnya apresiasi terhadap kesatuan lain. Seakan-akan doktrin la esprit de corps mengajarkan bahwa "kesatuan kita yang paling hebat ". Ini yang harus dikikis dan dipatrikan dalam paradigma pemahaman la esprit de corps yang baru.

Apabila terjadi gesekan, segera melapor pada pimpinan kesatuan untuk diselesaikan secara hukum yang berlaku, bukan di luar hukum dengan turun mengedepankan hukum rimba.

Strategi ini bisa efektif apabila pemegang kebijakan baik di TNI maupun Polri menindak tegas pelaku bentrokan sesuai hukum berlaku dengan hukuman maksimal, sebagai shock therapy. Bukan malah melindunginya, sebagai bentuk la esprit de corps ( lagi ? ). Kalau seperti ini terus tentu akan terjadi blunder.(11)

--- Herie Purwanto SH, waka Polsekta Pekalongan Timur.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA