logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 29 September 2007 KEDU & DIY
Line

Lampion, Hiasan Menjelang Lebaran

  • Oleh Agung PW

HIASAN lampion konon dulunya dibawa dari Negeri China karena merupakan suvenir tradisional di sana. Namun ternyata kini berkembang di berbagai belahan dunia bahkan juga di Bantul, DIY. Entah sejak kapan tak jelas, lampion dipasang di berbagai hari besar termasuk menjelang lebaran.

Modelnya pun tak lagi konvensional hanya bundar atau oval, ada kotak-kotak dan berbentuk boneka atau yang lain. Pembuat lampion juga terus berkembang, salah satunya Anton, warga Wirokerten, Banguntapan, Bantul. Sudah sejak awal tahun 2000 dia menekuni usaha menjadi perajin hiasan luar rumah tersebut.

''Tepatnya sejak menjelang lebaran tahun 2001 lalu. Semula sih hanya membuatkan adik dan anak-anak kecil di sekitar sini, eh lama-lama pengin menjadikan sebagai usaha,'' tutur laki-laki 30 tahun itu sembari mengecat sejumlah lampion yang nyaris selesai.

Dia sendiri tidak tahu pasti sejak kapan lampion menjadi hiasan menjelang lebaran karena waktu kecil dia sudah melihat demikian. Dahulu, orang-orang tua di kampung juga menjadikannya hiasan di depan rumah, bisa di pagar, pintu bahkan pepohonan pinggir jalan. Kadang sebagai penutup lampu sehingga terlihat begitu indah. Ah, serasa melintasi jalanan di Tiongkok.

Anton tak sendirian ketika berkarya. Dia ditemani istrinya, Partini, dan juga sebagian orang rumah. Dalam sehari puluhan lampion dibuat dan siap jual dengan harga Rp 6.000-Rp 12.000/buah. Tinggi-rendahnya harga ditentukan oleh model juga ukuran.

''Tingkat kesulitan juga menjadi penentu harga, semakin sulit semakin mahal begitu pula ukurannya,'' imbuh Jumilah, orang tua Anton yang ikut membantu merangkai lampion.

Kulakan Bakul

Lampion hasil karya Anton tak hanya dijual di rumah. Bakul-bakul mainan di wilayah DIY bahkan Jateng sudah menjadi pelanggannya. Apalagi pada puasa ini, pesanan cukup banyak, dia harus bekerja ekstra keras memenuhi pesanan pelanggan.

''Setiap hari ada bakul yang mengambil, tak hanya DIY tapi juga dari Jateng seperti Klaten dan Solo. Lumayanlah, sekali ambil puluhan lampion,'' ungkap laki-laki yang tinggal di Jl Imogiri Timur itu.

Membuat lampion sebenarnya, menurut dia, cukup mudah. Bahan dasar adalah bambu, kertas minyak, dan cat. Bambu dipotong-potong tipis agar lentur jadi mudah dibuat apa saja.

Seperti saat ini dia banyak membuat model tokoh kartun Spongebob, Patrick, dan Hello Kitty. Ada pula bentuk ikan dan kotak biasa. Selain itu, dia menerima pesanan sesuai keinginan pembeli.

Sayangnya, tradisi menghias jalan, rumah, dan pepohonan dengan lampion masih sebatas pada hari-hari tertentu seperti lebaran.

Maklum kalau paling laris hanya menjelang lebaran, selain itu sepi bahkan nyaris tanpa pembeli. Kendati demikian masih ada satu-dua pembeli pada hari-hari biasa.

Penghasilan dari membuat lampion bagi Anton cukup besar. Rata-rata dia dapat mengumpulkan uang Rp 3 juta/hari khusus selama puasa ini sedangkan di hari biasa dia tak begitu berharap. Kondisi demikian dia sadari sehingga menjelang lebaran dia membuat sebanyak-banyaknya. Berminat menghiasi rumah dengan lampion? Kunjungi saja bengkel kerja dia. (70)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA