logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 29 September 2007 INTERNASIONAL
Line

Dunia Kutuk Junta

CANBERRA - Ribuan orang menggelar demonstrasi di berbagai negara Jumat kemarin untuk mengutuk tindakan brutal junta Myanmar. Para demonstran mengenakan baju merah atau sabuk lengan merah sebagai ungkapan solidaritas atas tertumpahnya darah demonstran di Myanmar.

Di Australia, para demonstran terlibat bentrok dengan polisi. Di Kuala Lumpur, Malaysia, sedikitnya 2.000 orang turun ke jalan meneriakkan kecaman terhadap junta, "Junta, enyahlah!" teriak demonstran yang marah atas tindakan brutal militer terhadap para biksu dan pendukung pro-demokrasi.

Kawasan kantor diplomatik di Kuala Lumpur yang sehari-hari tenang berubah menjadi hingar-bingar kemarin dengan unjuk rasa itu. Mereka mengusung poster-poster Buddha dan pemimpin pro-demokrasi Myanmar Aung San Suu Kyi.

"Saat sebagian besar warga menderita kelaparan, para biksu memanjatkan doa perdamaian di negeri kami," kata Kyaw Kyaw Min. "Junta menggunakan kekerasan. Karena itu, para biksu terbunuh dan darah mereka tumpah di tanah negeri sendiri."

Di ibu kota Australia, Canberra, sekitar 100 demonstran antijunta dipaksa mundur oleh polisi antihuru-hara saat mereka hendak mendekati Kedutaan Myanmar. Mereka ingin menyampaikan petisi mengutuk kekerasan itu. Bentrokan singkat terjadi.

"Bebaskan Burma. Bebasakan Burma," teriak pengunjuk rasa. Mereka membakar bendera Myanmar dan menggelar aksi duduk di jalan depan gedung kedutaan. "Mereka membunuh saudara-saudara kami, jadi kami tidak bisa diam saja," kata pemimpin demonstran Soe Lwin. Dari kompleks Kedubes Myanmar, mereka berpawai menuju Kedubes China untuk menuntut Beijing ikut membujuk para jenderal.

Di Jakarta, sekitar 50 staf Departemen Luar Negeri, mengheningkan cipta sebagai ungkapan solidaritas dengan kelompok pro-demokrasi Myanmar. "Kami berdoa agar Myanmar kembali damai," kata Direktur Diplomasi Publik Deplu Umar Hadi.

Sanksi AS

Di Bangkok, sekitar 300 demonstran Thailand dan Myanmar berpawai di depan Kedubes Myanmar. "Mari kita boikot Olimpiade di China, karena Beijing adalah sahabat karib para jenderal yang membunuh warga di Yangon," kata seorang pemimpin aksi demo.

Presiden Taiwan Chen Shui-bian sangat menyesalkan dan mengutuk kekerasan di Myanmar. Sekitar 30 aktivis demokrasi berkumpul di Monumen Chiang Kai-shek sambil meneriakkan "hentikan kekerasan".

Di Filipina, para demonstran memukul-mukul poster Than Shwe, pemimpin junta Myanmar. Warga Filipina sangat bersimpati karena peristiwa di Yangon mengingatkan mereka pada masa-masa kelam di bawah kekuasaan diktator Ferdinand Marcos.

Sementara itu, para menteri luar negeri ASEAN, kecuali Myanmar, bertemu di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB di New York kemarin untuk mengutuk penumpasan oleh militer. Para menteri merasa gundah atas penggunaan senjata otomatis terhadap warga sipil.

Dari Washington dilaporkan, Amerika Serikat memerintahkan pembekuan aset pemimpin militer Myanmar dan 13 pejabat senior lain. "Kami hari ini memberlakukan sanksi terhadap para pejabat Pemerintah Myanmar," kata Adam Szubin, Direktur Kantor Pemantauan Aset Asing di Kementerian Keuangan AS.

Szubin mengatakan Presiden George W Bush telah menegaskan untuk tidak berdiam diri sementara rezim tersebut berusaha membungkam suara rakyat melalui penindasan dan intimidasi.

Pengumuman itu dikeluarkan setelah Bush mengatakan dunia harus menekan penguasa militer di Myanmar untuk mengakhiri penindasan atas berbagai protes dan mendesak junta agar sepenuhnya bekerja sama dengan utusan khusus PBB. (rtr-gn-25)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA