logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 28 September 2007 OLAHRAGA
Line

Pical, Berlari 20 Km demi Rp 40 Juta

NAMA Elyas Pical rasanya telah nyaris tenggelam. Mantan juara tinju dunia kelas bantam yunior tahun 1980-an itu kini hanya mengandalkan hidupnya sebagai pengantar surat di sebuah instansi pemerintah. Dengan hanya mengandalkan hidupnya sebagai kurir, sulit bagi Pical untuk menyekolahkan kedua anaknya ke universitas setelah lulus SMA.

''Sekarang pekerjaan saya ya hanya itu. Tidak ada yang lain. Setelah tidak lagi bertinju, saya memang masih terus berlatih, tetapi tidak untuk bertanding. Sekadar menjaga kesehatan saja,'' tutur Pical saat ditemui di studio BSC Antv di kawasan Cawang, Jakarta Timur, Rabu (26/9).

Didampingi sang istri, Rina dan putranya Mathew, Pical tampak gembira ketika diminta menceritakan pengalamannya bermain dalam tayangan Antv ''Tantangan Extreme''. Bersama istri dan kedua anaknya, Pical akhirnya memperoleh hadiah uang Rp 40 juta.

''Senang sekali waktu akhirnya kami berhasil menyelesaikan tantangan yang diberikan Antv. Kami nyaris gagal karena waktunya sudah sangat mepet. Waktu yang diberikan adalah 60 menit, kami menyelesaikannya dalam 58 menit. Dua menit lagi, kami gagal mendapatkan hadiah itu,'' kenang Pical.

Berlari 20 Km

Dalam ''Tantangan Extreme'', Pical dan Mathew harus berlari dari Citraland di kawasan Grogol, menuju studio BSC Antv di Cawang. Jarak yang harus ditempuh sekitar 20 km. Mereka diizinkan naik apa saja, namun tidak dibekali uang sepeser pun. Karena itu pertolongan orang menjadi hal penting dalam menyelesaikan tantangan ini.

''Dari Citraland, kami berlari sampai ke perempatan Grogol. Sampai di sana, kami minta tolong ke tukang ojek untuk mengantar ke studio Antv. Semula tukang ojek itu menolak. Tapi setelah lebih dekat melihat saya, ternyata dia mengenali saya,'' ungkap Pical.

''Lho, ini kan Pak Elyas Pical?'' seru si tukang ojek yang juga berasal dari Ambon. Akhirnya Pical diantarkan, namun hanya ke Plasa Senayan. Maklum, si tukang ojek harus menjemput keluarganya.

Di depan Plasa Senayan, keduanya lalu naik angkutan umum. Sayang, mereka salah memilih angkot sehingga harus kembali turun di perempatan Jl HR Rasuna Said. Sebelum turun, sekali lagi nama besar Pical membantunya. ''Saya minta maaf karena tak punya uang, tapi harus buru-buru ke Antv. Ternyata sopir angkotnya mengenali saya. Akhirnya saya boleh tidak membayar,'' tutur Pical.

Dari Jl HR Rasuna Said, Pical dan Mathew akhirnya menyelesaikan tantangan dengan berlari. Keduanya sampai dengan selamat dan menggondol hadiah Rp 40 juta.

''Hadiahnya untuk bekal dua anak saya melanjutkan kuliah,'' kata Pical senang. Ia kini boleh sedikit berlega hati, biaya kuliah kedua anaknya sudah tersedia.

Acara ''Tantangan Extreme'' tak semata-mata sebuah tayangan games, tetapi mengandung unsur sosial. Pesertanya adalah keluarga yang tengah mengalami kesulitan keuangan. Selain Pical, peserta adalah keluarga Rifky, bayi yang menjadi korban peluru nyasar dalam rumahnya sendiri.

Selama beberapa hari Rifky dirawat di rumah sakit dan pihak keluarga tidak dapat menanggung biaya perawatan. Belum ada yang menyatakan bertanggung jawab atas kasus ini. Nenek Rifky berhasil memenangi hadiah Rp 20 juta untuk biaya pengobatan bayi malang tersebut. (Tresnawati-40)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA