logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 28 September 2007 OLAHRAGA
Line

PSIS

''Jika Dijual, PSIS Pasti Laku''

SEMARANG- PSIS terus dihadapkan pada permasalahan dana. Pada musim ini, pendanaan tim Mahesa Jenar bakal membengkak seiring dengan molornya Kompetisi Liga Indonesia 2007. Kompetisi baru berakhir Februari 2008.

Sedangkan untuk musim depan, tim kebanggaan warga Semarang itu tidak akan mendapat dana dari APBD Kota Semarang. Melihat kenyataan seperti itu ada wacana dari Walikota Sukawi Sutarip untuk merangkul perusahaan besar guna mendanai timnya berlaga di Liga Indonesia. Selain itu juga tidak menutup kemungkinan PSIS dijual ke pihak swasta. Meski demikian, orang nomor satu Semarang itu menilai penjualan tersebut perlu pemikiran yang matang.

''Jika dijual, saya yakin pasti laku. Tapi, nanti masyarakat pecinta sepak bola Semarang bakal tidak punya lagi klub yang bisa dibanggakan. Kami harus berpikir dua kali untuk menjual PSIS,'' ungkap Sukawi saat buka bersama dengan jajaran pers, LSM, BEM, Parpol, OKP, dan Ormas di Rumah Dinas Wali Kota, kemarin.

Penjualan klub memang bukan hal baru dalam persepakbolaan nasional. Hal itu antara lain terjadi pada Persijatim dan Mitra Surabaya. Beberapa klub milik pemerintah kota maupun kabupaten sekarang juga sedang ditawarkan kepada peminat.

Persib dipatok minimal Rp 50 miliar. Sedangkan Persik yang merupakan juara Liga Indonesia 2006 akan dijual Rp 100 miliar. Bagaimana dengan PSIS yang di Liga Indonesia 2006 keluar sebagai runner up? ''Kalau dijual, saya perkiraan PSIS akan laku Rp 50 miliar. Kami akan cari dulu cara untuk mengatasi permasalahan dana,'' kata ayah dari Manajer Tim PSIS Alamsyah Satyanegara itu.

Sponsor

Sukawi mengemukakan permasalahan dana tidak hanya dihadapi oleh PSIS. Tapi juga klub-klub sepak bola di seluruh Indonesia. Untuk menggalang dana dari pihak sponsor, dinilai sangat sulit. Pasalnya, sponsor utama masih ditangani oleh PSSI. Sedangkan penjualan tiket pertandingan tidak bisa diandalkan.

''Di Indonesia, kasusnya sama. Banyak klub yang kolaps karena kekurangan dana. Ya mungkin PSIS tidak dijual tapi bergabung dengan perusahaan besar. Misalnya, PSIS Pertamina atau apa,'' tuturnya.

Meski tahun depan PSIS tanpa APBD, Sukawi tetap optimistis tim kebanggaan warga Semarang itu tetap bisa berlaga di Liga Indonesia. Hanya, materi pemainnya tidak akan sebaik musim-musim sebelumnya. Dananya sangat terbatas sehingga sulit mengontrak pemain berkualitas. Karena itu, pemain-pemain lokal binaan klub-klub Semarang akan dimaksimalkan.

''Dengan dana yang terbatas, terpaksa pemain asing harus dikurangi dan ambil pemain lokal yang kontraknya murah. Saya kira klub-klub lain juga melakukan hal yang sama. Jadi, kekuatannya tetap berimbang,'' tandasnya. (H13, H12, H29-22)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA