| Jumat, 28 September 2007 | WACANA |
Misteri Lailatulkadar
LAILATULKADAR adalah misteri. Apakah ia bentuk, aktivitas, atau kondisi ? Sampai sekarang para ulama, cendekiawan, dan ilmuwan muslim masih berdebat tentang hal itu. Adakah orang di muka bumi ini yang pernah mendapatkan lailatulkadar ? Siapakah orangnya ? Apakah ia tiba-tiba terkenal, kaya, atau saleh. Semuanya masih misterius. Tidak ada seorang pun yang tahu. Meski sangat misterius, yang pasti dan ini harus diyakini oleh setiap muslim, bahwa lailatulkadar bukanlah mitos,karena informasi ini secara tekstual termaktub dalam kitab suci Alquran yang isinya selalu benar. Artinya, lailalatulkadar pasti ada dan terjadi. Persoalannya, kapan dan siapa yang mendapatkannya ? Lalu apa indikatornya ? Inilah pertanyaan besar di kalangan umat Islam yang sangat menginginkannya. Kapan Datang ? Lailatulkadar adalah anugerah Allah SWT yang terikat oleh waktu, yakni hanya akan ada di bulan Ramadan. Lailatulkadar adalah satu malam yang sangat mulia, sehingga Tuhan menyebutnya lebih baik dari seribu bulan (QS. Al-Qadr:1-5). Dari QS al-Qadr itu juga bisa dipahami, bahwa lailatulkadar erat kaitannya dengan Nuzulul Quran. Bahkan ada pendapat yang mengatakan lailatulkadar adalah Nuzulul Quran. Meski demikian, lailatulkadar tetap merupakan sebuah anugerah, rahmat, sekaligus pahala yang sangat besar bagi kaum muslimin. Ia bisa dimiliki oleh setiap muslim yang benar-benar menginginkannya. Artinya, lailatulkadar tidak hanya berharap dan menunggu, tetapi harus dikejar dan diusahakan. Karena lailatulkadar sebuah proses maka dibutuhkan prakondisi untuk memperolehnya. Lailatulkadar adalah sesuatu yang harus dikejar, sehingga berbagai usaha umat Islam sesuai dengan kapasitas pengetahuannya untuk mendapat lailatulkadar itu harus diberi apresiasi yang tinggi. Inilah yang kita sebut dengan proses ikhtiar sebagai kewajiban setiap manusia. Berkaitan dengan tanda-tanda fisik datangnya malam lailatulkadar, seperti, malam yang hening, burung tidak terbang, dan langit cerah, menurut hemat saya, indikator tersebut hanya ikhtiar para ulama untuk mengomunikasikan kepada umatnya bahwa lailatulkadar itu memang ada dan harus dikejar. Penjelasan simbolik itu penting untuk meyakinkan suatu kebenaran ajaran agama, tetapi harus sesuai dengan kadar intelektual masyarakat itu sendiri. Demikian pula, tentang waktu kedatangannya yang hingga kini masih menjadi polemik. Apakah jatuhnya tanggal 17, 27, atau malam-malam ganjil pada sepuluh hari terakhir ? Apakah setiap tahun turun atau hanya sekali pada zaman Nabi Muhammad yang ditandai dengan turunnya Alquran ? Tampaknya, Allah SWT memang sengaja merahasiakan kedatangan lailatulkadar itu dengan maksud agar orang yang berpuasa terjaga motivasinya untuk terus meningkatkan amal ibadahnya selama bulan Ramadan, sehingga pada akhirnya ia bisa meraih gelar manusia takwa sesuai dengan tujuan puasa Ramadan (QS. al-Baqarah:183). Dengan kata lain, lailatulkadar itu hanya mau mampir dan pasti jatuh pada orang yang bertakwa. Tidak mungkin jatuh kepada sembarangan orang atau orang yang tidak berpuasa, karena akan bertentangan dengan firman Allah sendiri. Ironisnya, sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan justru dipergunakan untuk melupakan momentum lailatulkadar. Saat itu sudah terlalu banyak pikiran dan kebutuhan untuk Lebaran. Inilah kultur masyarakat kita yang wajib diluruskan atau dikembalikan kepada hakikinya. Rasionalisasi Kata al-qadr dalam kalimat lailat al-qadr, jika dicermati lebih mendalam, ternyata tidak bermakna tunggal, yakni kemuliaan atau keistimewaan; melainkan mempunyai arti lain yang lebih mendekatkan pada penafsiran rasional, yaitu kepastian atau ketentuan. Dengan demikian, lailatulkadar berarti malam kepastian atau ketentuan. Lailatulkadar itu hanya mau mampir dan pasti jatuh pada orang yang bertakwa. Tidak mungkin jatuh kepada sembarangan orang atau orang yang tidak berpuasa, karena akan bertentangan dengan firman Allah sendiri. Malam kepastian, secara tekstual mengandung arti saat kepastian atau ketentuan turunnya Alquran. Sedangkan secara kontekstual, lailatulkadar bermakna kepastian akan hadirnya keistimewaan. Kalau zaman Nabi keistimewaan itu berbentuk Alquran, maka untuk zaman sekarang bentuknya adalah hidayah (petunjuk Allah). Dengan kata lain, secara substansial, sebenarnya lailatulkadar itu adalah hidayah Allah yang turun di bulan Ramadan dan diberikan kepada orang-orang yang menjalankan puasa. Dalam konteks inilah diperlihatkan adanya kepastian tentang kebenaran Alquran. Inilah penafsiran kontemporer tentang lailatulkadar. Artinya, orang yang mendapat lailatulkadar berarti memiliki akhlak mulia sesuai dengan tuntunan Alquran yang mewujud dalam kehidupan kesehariannya. Dengan penafsiran ini, maka sejatinya lailatulkadar mengandung dua pengertian. Pertama, "lailatulkadar konseptual" yang berkaitan dengan kepastian adanya suatu malam istimewa dalam setiap bulan Ramadan. Bersifat statis dan tidak berwujud. Kedua, "lailatulkadar aktual" yang berkenaan dengan sikap dan perilaku orang yang mendapat hidayah di bulan puasa. Karakteristik yang kedua adalah dinamis dan berwujud dalam akhlak seseorang yang mendapatkannya di bulan Ramadan. Walhasil, orang yang telah memperoleh lailatulkadar adalah orang yang benar-benar menjalankan ritual puasanya dengan baik, kemudian ia mampu mengaktualisasikan nilai-nilai yang diajarkan oleh puasa dalam kehidupan sehari-hari, sehingga ia menjadi sosok yang dinamis, kreatif, inklusif, pluralis, dan demokratis. Dia pun berpandangan jauh ke depan dengan rasa optimistis. Tidak mengenal rasa khawatir, penuh ketenangan, dan menjalani kehidupan apa adanya.(11) --- Maksun, dosen Fakultas Syariah IAIN Walisongo Semarang. |