| Jumat, 28 September 2007 | NASIONAL |
Tarman Azzam: Pertamina Ketiban ''Pulung''
SEMARANG- Sulitnya mengubah budaya masyarakat dari penggunaan minyak tanah (mitan) untuk beralih ke kompor gas dalam program konversi mitan ke elpiji 3 kg, diakui PT Pertamina (Persero) sebagai salah satu kendala yang dihadapi sejak program ini diluncurkan oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla 8 Mei lalu. Empat kecamatan di Semarang seperti Gajah Mungkur, Ngaliyan, Tugu, dan Semarang Barat menjadi pilot project Pertamina, dengan menggulirkan 50 ribu kompor gas pada warga yang masuk kriteria penerima paket perdana tabung dan kompor gratis tersebut. Namun sejauh manakah masyarakat memahami latar belakang program konversi yang diperkirakan menghemat subsidi minyak tanah hingga lebih dari Rp 23 triliun per tahun itu? Diskusi Sosialisasi Konversi Minyak Tanah ke LPG 3 kg oleh Pertamina bekerja sama dengan PWI di Patra Semarang Convention Hotel, kemarin, yang dimoderatori oleh Ketua PWI Jateng Sasongko Tedjo, memberikan penekanan pada sosialisasi kepada masyarakat yang dirasa sangat terlambat. Hal ini mengingat banyak pemahaman yang keliru terhadap program konversi tersebut. Ketua Umum PWI Pusat Tarman Azzam misalnya, begitu prihatin dengan keputusan pemerintah pusat yang masih melakukan silent policy. Saat meluncurkan program konversi, sama sekali tidak ada sinkronisasi dalam lembaga pemerintah yang ikut serta dalam sosialisasi, sehingga beban berat dipikul Pertamina. ''Secara nasional persoalan ini cukup berat. Bisa saya bilang Pertamina ketiban pulungnya,'' jelas Tarman. Vice President Communication PT Pertamina Wisnuntoro mengungkapkan, pemerintah sudah cukup lama memberikan subsidi mitan, apalagi harga minyak dunia kini terus meningkat. Beberapa hari terakhir saja harga minyak dunia di atas 80 dolar per barrel. Pertamina boleh saja hitung-hitungan keuntungan penghematan atas digulirkannya program konversi ini. Namun, bagaimana dengan masyarakat? Sutrisna, warga Sampangan Kecamatan Gajahmungkur menuturkan, sejak dibagi kompor dan tabung di wilayahnya ternyata masih ada juga berpikir soal kantong karena penghasilan yang tidak tentu. Belum lagi soal kekhawatiran keamanannya. ''Ada salah satu warga yang memang sudah tua, hingga sekarang kompor gas dan tabungnya masih ''kempling'' karena tidak dipakai. Takut.'' ujar dia. (J14-41) | ||||