logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 28 September 2007 NASIONAL
Line

Melihat Papua dari Dekat (1)

Pulau Besar yang Mulai Tergugah

LAHAN yang luas dengan sumber daya terbatas membuat kemajuan Provinsi Papua sedikit terlambat jika dibandingkan dengan provinsi lainnya. Belum lama ini, Komisi E DPRD Jateng melakukan kunjungan ke provinsi tersebut, tepatnya di Kota Jayapura. Rombongan yang dipimpin Ketua Komisi E Drs H Iqbal Wibisono SH MH itu juga mengikutsertakan pejabat dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Transmigrasi dan dokter dari RSUD Dr Margono Soekarjo Purwokerto.Begitu tiba di kota Jayapura, pandangan langsung tertuju pada pemukiman yang belum sepadat Kota Semarang atau kota-kota lainnya di Jawa Tengah.

Banyak rumah warga yang tersebar dan hanya sebagian kecil yang menyatu dalam kompleks pemukiman.Kondisi alam yang belum banyak terjamah, menciptakan keindahan khas. Bentangan lautan airnya yang biru semakin memperelok tanah asal burung Cendrawasih. Bahkan menjadikan pulau seluas 421.981 kilometer persegi tersebut seakan tidak akan pernah kehilangan pesonanya.Ya, kawasan yang menyimpan berjuta potensi itu memang belum tereksplorasi.

Asisten III Pemprov Papua Drs Jabar Abdul Kadir menyambut kedatangan rombongan legislatif dari Jateng mengatakan, salah satu kendala yang dihadapi daerah tersebut adalah masih sedikitnya SDM. Masalah lain adalah penyebaran HIV/AIDS yang cukup cepat dan sudah mengkhawatirkan, apalagi sekarang ini AIDS telah menjamah warga pedalaman.Selain SDM tersedia tidak sebanding dengan kebutuhan, sarana prasarana penunjang juga masih minim. Jalan darat banyak yang rusak, gedung sekolah jauh dari kelayakan, rumah sakit pun masih dalam serbaketerbatasan.Tidak sedikit sekolah di desa atau pedalaman kekurangan guru. Banyak sekolah dasar dengan enam kelas tetapi hanya memiliki satu tenaga pengajar.

Bahkan ada kabupaten yang belum tersentuh oleh perbankan. Hal itu menyulitkan proses pencairan dana BOS, yang mewajibkan sekolah memiliki rekening tersendiri. Belum lagi jalur transportasi darat terlalu jauh.

Saat ini, lanjut dia, yang menjadi perhatian gubernur Papua adalah mencetak SDM berkualitas. Salah satu upaya yang ditempuh dengan mendirikan sekolah satu atap dari SD, SMP, dan SMA. Lembaga pendidikan yang dimotori Dinas Pendidikan Kota Jayapura tersebut kini telah menghasilkan lulusan yang tersebar di perguruan tinggi dalam maupun luar negeri dan semuanya mendapat beasiswa.

Saat berkunjung ke sekolah itu, sejumlah siswa sedang belajar bersama. Mereka menerapkan pola belajar tutor sebaya, yakni yang pandai mengajari teman lainnya.Kepala sekolah satu atap, Frans Wamebu menjelaskan, semua siswa yang dididik di tempatnya adalah siswa yang berprestasi bidang akademik.

Perekrutan siswa dimulai sejak kelas IV SD. Siswa dari sejumlah SD yang pandai direkrut menjadi siswanya.Di lembaga pendidikan satu atap itu semua fasilitas disediakan dan tanpa dipungut biaya. Untuk mendukung kualitas pendidikan, para tenaga pengajarnya dari berbagai provinsi dan berpendidikan minimal S2. Proses pembelajarannya pun menggunakan Bahasa Inggris.

Frans Wamebu menambahkan, pada tahun 1980-an hingga 1990-an, SDM Papua terbelakang. Seiring berjalannya waktu, rakyat provinsi paling timur Indonesia tersebut bertekat untuk bersanding sejajar dengan lainnya. (Hasan Hamid-46)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA