| Jumat, 28 September 2007 | NASIONAL |
PROFIL Mahmoud Ahmadinejad (2-Habis)Anggap Simbol Glamour, Larang Iklan Beckham
GAGASAN dan pandangan-pandangan Ahmadinejad bukan hanya menimbulkan kontroversi di lingkup internasional. Di dalam negeri pun, sejumlah kebijakannya juga menjadi perdebatan hangat dan membuat ''gerah'' banyak pihak. Salah satunya adalah keputusan Ahmadinejad membolehkan kaum perempuan untuk menyaksikan langsung pertandingan olahraga. Dia juga mengizinkan wanita lebih berperan aktif dalam kegiatan olahraga. Kebijakan ini semula dinilai bertentangan dengan semangat Revolusi Islam 1979. Sejak revolusi yang dikobarkan oleh Imam Khomeini itu, kaum wanita Iran dilarang menonton langsung pertandingan olahraga. Dua presiden sebelumnya, yakni Hashemi Rafsanjani dan Muhammad Khatami, tidak berani mengubah aturan itu meskipun keduanya dikenal berpandangan lebih moderat dan lebih liberal daripada Ahmadinejad. Dua kali ''insiden Azedi'' pada masa kepresidenan Muhammad Khatami juga tak mendorong pemerintah untuk mengamandemen peraturan tersebut. Insiden Azedi pertama mencerminkan hasrat kuat seorang remaja putri Iran untuk menonton pertandingan sepak bola di Stadion Azedi, Teheran. Gadis itu kemudian nekat memangkas pendek rambutnya dan berpakaian lelaki untuk dapat menyaksikan pertandingan tersebut. Insiden kedua terjadi saat pertandingan sepak bola antara tim Iran dan Kosta Rika. Sekelompok wanita berunjuk rasa dan berusaha masuk ke dalam stadion. Setelah terjadi bentrok dengan aparat keamanan, mereka akhirnya dibolehkan menonton babak kedua pertandingan itu. Menentang Diskriminasi Mengapa Ahmadinejad berani menerabas tatanan yang telah bertahan selama hampir 30 tahun itu? Semasa menjadi wali kota Teheran pada akhir 1990-an, Ahmadinejad telah memperlihatkan ketidaksetujuannya pada aturan yang mendiskriminasikan kaum perempuan. Saat itu, dia membantu pendanaan Kompetisi Olahraga Internasional untuk Wanita Negara-negara Asia Islam. ''Mereka berusaha mengucilkan muslimah dari pelaksanaan hak-haknya. Turnamen olahraga ini membuktikan kepada dunia internasional bahwa kaum muslimah juga dapat melakukan aktivitas olahraga dengan tetap menjaga prinsip-prinsip dasar ajaran Islam,'' ujarnya. Adel El-Gogary dalam bukunya tidak menjelaskan, apakah keputusan Ahmadinejad itu juga dilatarbelakangi oleh kegemarannya pada olahraga, terutama sepak bola. Kendati hobi sepak bola, Ahmadinejad tampaknya tidak menyukai sikap glamour para pesepak bola dunia. Mungkin itulah sebabnya, dia melarang pemasangan billboard iklan David Beckham di Teheran. Kebijakan lain yang kontroversial adalah menghilangkan ketergantungan produk bensin impor. Ahmadinejad membuat keputusan itu saat harga minyak dunia terus merangkak naik sampai menembus angka 75 dolar AS per barel pada 2006. Meskipun sebagai negara penghasil minyak terbesar keempat di dunia, Iran mengimpor lebih dari separo kebutuhan bahan bakar minyak penduduknya. Sebab, jumlah kilang minyak dan penyulingan hanya dapat memenuhi 40 persen kebutuhan di dalam negeri. ''Kita hanya boleh mengimpor produk bensin hanya untuk enam bulan pertama, dan itu berarti pada semester selanjutnya kita harus sepenuhnya bergantung pada pasokan dari dalam negeri,'' demikian pernyataan Ahmadinejad. Kebijakan ini mengakibatkan kelangkaan bensin di Iran. Pemerintah memberlakukan penjatahan bahan bakar minyak dan bensin untuk tiap keluarga. Keputusan tersebut membuat marah warga. Gelombang protes pun merebak, bahkan sampai terjadi insiden pom bensin diledakkan.(Benu Hidayat-25) | ||||