logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 28 September 2007 NASIONAL
Line

Matahari Bercincin Pelangi di Atas Jawa

  • Oleh Rukardi dan Modesta Fiska

SM/Setiady Dwi FENOMENA HALO: Fenomena alam yang disebut halo dapat disaksikan di wilayah Pulau Jawa, Kamis (27/9). Matahari dikelilingi oleh cincin raksasa yang menyerupai pelangi. Foto diambil di kompleks Gedung Sate, Bandung, pukul 11.00. (57)

"HE apa tumon, srengenge kok diubengi pelangi (Hei, tidak biasanya, matahari kok dikelilingi pelangi)!" teriak seorang tukang becak yang mangkal di depan Pasar Johar Semarang, seraya menunjukkan tangan ke angkasa. Demi mendengar teriakan itu, rekan-rekan sesama tukang becak serta orang-orang yang melintas di dekatnya segera mendongakkan kepala.

Panas dan silau yang luar biasa tak menyurutkan mereka memicingkan mata. Begitu melihat sendiri, orang-orang itu pun terbengong-bengong di buatnya. "Allahu Akbar!" kata seorang di antara mereka.

Ya, fenomena alam langka yang terjadi Kamis (27/9) siang itu menarik perhatian masyarakat di Semarang dan sebagian wilayah di Pulau Jawa. Matahari yang tengah berada di atas kepala dikelilingi oleh cincin raksasa. Sepintas cincin itu menyerupai pelangi dengan aneka warna.

Kondisi langit yang cerah membuat fenomena alam tersebut dapat dilihat secara leluasa. Masyarakat tak melewatkan pemandangan menakjubkan itu. Mereka bergerombol di luar rumah, perkantoran, atau di bawah pepohonan.

Informasi adanya pelangi yang mengelilingi matahari tersebar melalui getok tular, baik secara langsung, telepon, maupun SMS. Redaksi Suara Merdeka pun kebanjiran telepon mengabarkan fenomena alam itu.

Kendati demikian, banyak orang yang tak nglegewa, sebab fenomena alam itu terjadi siang hari, saat matahari tepat di atas kepala. Pengamatan Suara Merdeka, cincin matahari mulai tampak sekitar pukul 10.30. Pukul 11.00 wujudnya kian menegas. Langit di bagian dalam cincin berwarna lebih gelap dibanding yang di luar. Perlahan-lahan cincin raksasa itu mulai memudar hingga hilang sama sekali sekitar pukul 12.15.

Halo

Kepala Badan Metereologi dan Geofisika (BMG) Kota Semarang M Chaeran menjelaskan, fenomena alam itu disebut dengan halo. Cincin raksasa menyerupai pelangi merupakan bayangan sinar matahari yang terbentuk akibat awan tinggi cirrus. Awan cirrus yang berlapis-lapis pada ketinggian sekitar 30 ribu kaki itu menutupi matahari, sehingga terjadi pembiasan dan membentuk lapisan cincin.

"Proses terjadinya peristiwa itu hampir mirip dengan terbentuknya pelangi. Hanya dalam hal ini tidak mengandung air, sehingga yang tampak hanya bayangan saja berbentuk cincin, " papar M Chaeran.

Halo dapat dilihat dengan jelas dalam radius 500 km. Durasi penampakannya tergantung kecepatan angin. Semakin tinggi kecepatan angin, semakin pendek penampakan halo. Berbeda dengan gerhana, kemunculan halo tidak bisa diprediksikan sebelumnya.

Lebih lanjut Chaeran menekankan bahwa fenomena alam tersebut bukan penanda peristiwa alam tertentu. Jika ada yang menghubung-hubungkan penampakan halo dengan peristiwa gempa bumi, seperti yang terjadi di Yogyakarta beberapa waktu lalu, ia menyangkalnya.

"Sekali lagi ini fenomena alam biasa. Ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan terjadinya gempa bumi."

Halo hampir serupa dengan fenomena matahari kembar tiga seperti pernah terlihat di Jawa pada tahun 1846 dan 1904. Bedanya bayangan yang terjadi tidak persis di bawah matahari tetapi menggeser sehingga yang terlihat membias adalah mataharinya.

Dalam buku "Riwajat Semarang", Liem Thian Joe menggambarkan, fenomena srengenge kembar teloe pada 1846 menggegerkan masyarakat. Tiga matahari yang tampak berdekatan bersinar sama terang. Saat itu orang menghubung-hubungkannya dengan hal-hal bersifat klenik.

"Berhoeboeng dengan ini keadjaiban alam, di antara pendoedoek laloe tersiar ramalan-ramalan aneh: Ada jang anggep itoe sebagai alamat baik, ada poela jang menjataken sebaliknja."(60)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA