logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 28 September 2007 NASIONAL
Line

Than Shwe Hidup Bergelimang Harta


SM/BBC PESTA: Jenderal Than Shwe (kiri) dan istrinya mengapit kedua mempelai.(25)

YANGON - Dalam situasi tertutup karena di bawah tekanan rezim militer, kehidupan warga Myanmar jauh dari sejahtera. Kemiskinan menghantui kehidupan mereka sehari-hari. Apalagi, Myanmar terkena dampak embargo dan sanksi yang dijatuhkan Amerika Serikat dan Inggris sejak 1990.

Kondisi itu rupanya kontras dengan gaya hidup mewah para penguasa junta. Para anggota keluarga Jenderal Than Shwe dilaporkan bergelimang harta dan gemerlap kekayaan. Sebuah rekaman video pernikahan putri pemimpin militer Myanmar itu beredar luas di internet, memperlihatkan gaya hidup mewah yang nyaris tidak pernah diketahui publik di luar Myanmar.

Thandar Shwe, putri Than Shwe, menikah dengan Mayor Zaw Phyo Win. Pernikahan itu sendiri berlangsung Juli tahun lalu. Namun, rekaman video itu terus menjadi bahan perbincangan, apalagi dengan meletusnya demonstrasi para biksu yang berujung pada penumpasan brutal oleh tentara.

Rekaman berdurasi 10 menit itu memperlihatkan, pasangan mempelai tersebut menjamu para tamu dengan sampanye mahal. Terlihat pula saat mereka berdiri di samping ranjang pengantin berlapis emas.

Thandar Shwe mengenakan perhiasan-perhiasan mahal. Menurut informasi dari sumber di lingkaran dalam para jenderal, pengantin itu menerima hadiah pernikahan senilai 50 juta dolar AS (Rp 450 miliar). Hadiah itu antara lain berupa perhiasan dan beberapa rumah.

Menusuk Hati

Sebagian besar warga Myanmar jelas tidak bisa menyaksikan rekaman video itu, karena penggunaan internet di negeri itu sangat dibatasi dan disensor secara ketat oleh junta.

Mereka yang berkesempatan menyaksikan video itu, baik yang berada di dalam maupun di luar Myanmar, berpendapat pesta pernikahan bergelimang kemewahan itu sungguh-sungguh menusuk hati di tengah penderitaan rakyat yang didera kemiskinan.

Seorang reporter media setempat mengatakan kepada harian terbitan Thailand, dia dan orang-orang yang menyaksikan rekaman video itu bertanya-tanya tentang kekayaan jenderal itu.

''Betul-betul menyakitkan, apalagi kalau kita tahu bahwa sebagian besar warga Myanmar hidup sangat miskin,'' kata Aung Zaw, redaktur Irrawaddy, sebuah media publikasi yang dikelola para jurnalis Myanmar di pengasingan.

Sebelum kenaikan harga bahan bakar minyak yang memicu gelombang protes, kehidupan rakyat Myanmar sudah sangat sulit. Seperempat dari 56 juta jiwa penduduk memperoleh pendapatan kurang dari Rp 2.000 per hari. Karena itu, kenaikan harga BBM menjadi puncak krisis yang sudah berlangsung sejak lama.

Biaya hidup terus naik sejak kerusuhan 1988, dan makin meroket sejak tahun lalu. ''Untuk memperoleh dua botol air minum dari danau, kami harus antre satu jam,'' kata Ko Myint Oo, warga Yangon. Air bersih dan listrik masih menjadi barang mewah di Myanmar.

Than Shwe juga terlihat dalam rekaman itu. Mengenakan pakaian adat Myanmar, Than Shwe tampak berjalan tegak mendampingi putrinya. Penampilan jenderal itu termasuk sangat jarang karena dia selalu muncul di depan publik dengan seragam militer.

Di balik kemewahan itu, kehidupan para jenderal Myanmar juga lekat dengan kekerasan. Hukuman mati bagaikan pedang Democles yang berayun-ayun di atas kepala para anggota kerabat para jenderal.

Hal itu misalnya terjadi pada keluarga mantan pemimpin junta, Ne Win, yang dituduh merencanakan kudeta.

Pengadilan Myanmar pernah menghukum mati empat kerabat Ne Win atas tuduhan pengkhianatan. Ne Win berkuasa di Myanmar selama lebih dari 20 tahun sampai 1988.

Menantu Ne Win, Aye Zaw Win dan tiga cucu jenderal itu dihukum gantung setelah dinyatakan terbukti merencanakan upaya penggulingan pemerintahan militer. Setelah vonis dijatuhkan, para terpidana hanya diberi waktu tujuh hari untuk banding. (bbc-rtr-gn-25)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA