| Jumat, 28 September 2007 | NASIONAL |
Sikap Mental
ORANG sering menyebut bulan Ramadan sebagai madrasah, pelatihan atau sebutan lainnya dengan tujuan kurikuler membentuk manusia bertakwa, manusia yang patuh dan taat mengikuti semua perintah Allah dan menjauhi segala laranganNya. Tujuan kurikuler Ramadan tersebut memberikan penekanan yang yang kuat pada ranah afektif dibandingkan dua ranah lainnya. Di dalamnya berlangsung proses pembelajaran yang mengubah sikap dan perilaku peserta didik, dalam hal ini para shaimin. Menjadi menarik untuk dikaji karena madrasah atau pelatihan ini dirancang sepenuhnya oleh Allah Azza Wajalla. Ketika niat diikrarkan, orang yang berpuasa harus siap meninggalkan berbagai kenikmatan hidup sehari-hari. Di waktu tidur lelap menjelang dini hari, dia harus bangun untuk makan sahur. Kemudian diharamkan atas dirinya hal-hal yang halal yaitu, makan-minum dan berhubungan suami-istri sejak fajar sidik hingga terbenamnya matahari. Tidak cuma itu, dia juga harus menjaga lisannya dari dusta, kata-kata kotor, sumpah-serapah dan ucapan-ucapan yang dapat menyakiti hati, serta memelihara pandangan dan pendengaran dari hal-hal yang tidak halal baginya. Dan belum sempurna puasa seseorang manakala masih saja pikiran-pikiran kotor menyelinap ke dalam hati dan pikirannya. Dalam keadaan lapar, dia dianjurkan untuk memperbanyak sedekah, menyambung kasih-sayang antarsesama, menyantuni anak yatim dan fakir-miskin, menghormati yang tua dan menyayangi yang muda. Dia juga disunahkan memperbanyak tadarus Alquran, menegakkan shalat di waktu malam dan memohon ampun kepada Allah atas segala salah-khilaf dan dosa, serta menunaikan zakat. Proses pembelajaran di atas diharapkan dapat mengubah mental dan perilaku orang yang berpuasa: pertama, puasa melatih kesabaran. Bulan puasa juga disebut dengan Syahrush Shabri yang berarti bulan melatih diri untuk bersabar dalam melaksanakan perintah Allah dan sabar terhadap ujian hidup. Menjalani puasa hendaknya dengan ridla hati, jauh dari keluh-kesah atau nggresula. "Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga, dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung" (Q.S:2:200). Orang yang berhasil menjalani puasa dengan sabar, akan bersabar pula dalam menghadapi realitas hidup yang penuh dengan pahit-getir kehidupan. Sabar yang juga bermakna ulet dan tahan banting akan menumbuhkan optimisme dalam menghadapi ujian dan cobaan, "dijiwit dadi kulit, dicetot dadi otot, dipentung dadi balung". Seratus satu kali kata sabar disebut dalam Alquran untuk menggambarkan kesabaran Ayub yang terkucil bertahun-tahun karena penyakitnya, Yusuf yang tujuh tahun dipenjara karena fitnah, Yakub yang berpuluh tahun menanti anaknya kembali, Muhammad yang terluka ketika dakwah ke Thaif, dan sejumlah kisah lain. Sabar menjadi kunci kemenangan karena sabar adalah benteng diri yang amat tangguh. Kedua, puasa melatih kejujuran. Manusia yang berpuasa dilatih untuk jujur kepada diri sendiri dan jujur kepada orang lain. Tidak sulit untuk mengelabui orang lain, tapi dapatkah kita sembunyi dari pengawasan Allah yang tiada pernah terlena sedikit pun? Puasa mengajarkan kepada para mukminin bahwa pengawasan Allah berlaku 24 jam atas perbuatan yang terang-terangan atau yang disembunyikan. Kejujuran akan membuahkan kepercayaan sebaliknya kecurangan akan menghasilkan kecurigaan di tengah keluarga dan masyarakat. Karenanya kepercayaan atau trust sebagai social capital mutlak diperlukan bagi perjalanan bangsa ke depan. Penelitian Francis Fukuyama menunjukkan bahwa kepercayaan telah menjadi modal sosial penentu dalam mendongkrak keberhasilan bangsa-bangsa Asia timur mengungguli bangsa-bangsa Asia lainnya. Ketiga, puasa melatih kedisiplinan. Barangkali tak ada latihan disiplin yang lebih baik dibandingkan dengan puasa. Waktu memulai dan menyudahi puasa telah ditentukan tanpa dapat digeser-geser sesuka hati. Disunnahkan untuk mengakhirkan sahur, namun ketika fajar sidik tiba, semua makan-minum harus dihentikan. Tak ada dispensasi dengan alasan terlambat bangun, misalnya. Disiplin adalah pangkal ketertiban sebuah keluarga maupun masyarakat. Disiplin lalu-lalang di jalan jelas akan membuahkan kenyamanan pemakai jalan dan akan mengurangi jumlah kecelakaan. Pertanyaan yang masih mengganjal ialah mengapa disiplin puasa belum berpengaruh banyak pada disiplin masyarakat? Keempat, puasa menumbuhkan rasa welas-asih. Penghayatan menjadi orang lapar selama sebulan akan menumbuhkan kasih-sayang kepada mereka yang menderita. Rasa empati dan simpati seperti itu akan berdampak pada perilaku welas asih secara individu dan kebijakan yang berpihak pada wong cilik secara kelembagaan pemerintahan. Semoga Allah berkenan membimbing kita semua menjadi orang-orang yang sabar, jujur, disiplin dan penuh welas asih kepada sesama lewat puasa Ramadan kali ini. Amin.(60) - Penulis adalah sekretaris PP Muhammadiyah, pengajar di UNS | ||||