| Jumat, 28 September 2007 | NASIONAL |
Junta Makin Keras, 9 Tewas
YANGON - Situasi di Myanmar berkembang makin genting Kamis kemarin. Jumlah korban tewas bertambah menjadi sembilan orang setelah pasukan keamanan memburu dan membubarkan demonstran di jalan-jalan pusat kota Yangon. Salah seorang korban tewas adalah fotografer kantor berita APF News Jepang bernama Kenji Nagai (52). Dia tertembak ketika serdadu membubarkan demo di dekat Pagoda Sule, lokasi pusat aktivitas demonstrasi. Tentara memberi batas waktu 10 menit bagi para demonstran untuk meninggalkan tempat sebelum kemudian melepaskan tembakan. Militer juga menyerbu vihara-vihara pada tengah malam serta menangkap ratusan biksu, terutama biksu-biksu senior yang dipandang sebagai pemimpin aksi unjuk rasa. Menurut laporan versi televisi pemerintah, para demonstran berusaha merebut senjata aparat. "Para demonstran berusaha merebut senjata. Karena itu, prajurit terpaksa melepaskan tembakan peringatan," demikian siaran televisi pemerintah. "Warga Jepang itu berusia 52 tahun dan datang ke Myanmar dengan visa turis. Namun, saat kejadian dia sedang memotret dan berada dalam kerumunan demonstran." Melalui pengeras suara, militer memerintahkan warga dan demonstran untuk menyingkir atau berisiko terkena tembakan. Kejadian itu mengingatkan banyak orang pada operasi penumpasan brutal aksi unjuk rasa tahun 1988 yang menelan korban jiwa 3.000 orang. Sekitar 200 tentara bergerak maju mendekati massa demonstran. Polisi antihuru-hara memukul-mukul tameng mereka dengan pentungan. "Bunyi pukulan, tembakan gas pemedih mata, dan pengeras suara itu sungguh meneror kami," kata seorang demonstran. Vihara Diserbu Di pusat kota Yangon, sekitar 1.000 demonstran berhadap-hadapan dengan tentara. Tiba-tiba, sebagian demonstran melempari tentara dengan batu-batu dan botol air minum. Tindakan itu dibalas tentara dengan tembakan. Salah satu tembakan mengenai seorang fotografer Jepang. Sehari sebelumnya, prajurit menembak tewas dua biksu dan seorang warga saat membubarkan demonstrasi di pusat Yangon. Setelah menembak, tentara memburu dan memukuli para demonstran yang berlarian menyelamatkan diri. Seorang biksu tewas tertembak saat penyerbuan tentara ke vihara-vihara Rabu tengah malam. Setelah terkepung tentara, para biksu dipukuli dan ditendang. Mereka kemudian diseret ke dalam truk. Menurut warga sekitar, sebagian vihara dikosongkan oleh tentara. Hanya beberapa biksu lanjut usia dan yang sedang sakit yang dibiarkan tinggal di vihara. Penyerbuan itu tampaknya bakal memicu kemarahan 58 juta penduduk Myanmar. "Pintu-pintu vihara didobrak, barang-barang diangkut pergi," kata seorang saksi. "Betul-betul ngeri menyaksikan vihara diserbu dan para biksu diperlakukan brutal." Menjelang fajar, terdengar tembakan-tembakan sporadis dari berbagai penjuru kota berpenduduk lima juta jiwa itu. Di kota-kota lain, berlangsung demontrasi besar. Antara lain di Kota Sittwe, Pakokku, Mandalay dan Moulmein. Namun, belum diperoleh keterangan lebih detail. Junta memanggil para diplomat asing ke ibu kota Naypyidaw. "Kami diberitahu bahwa pemerintah berkomitmen menahan diri menanggapi provokasi demonstrasi," kata salah seorang diplomat. Sementara itu, junta makin membatasi akses informasi. Akses telepon seluler dan internet dibatasi oleh militer untuk mencegah pengiriman foto dan informasi ke luar Myanmar. Selama unjuk rasa ini, para jurnalis Myanmar di pengasingan, terutama di India dan Thailand, menjalin kontak secara sembunyi-sembunyi.(rtr-gn-25) | ||||