| Jumat, 28 September 2007 | SEMARANG |
Pengelolaan Wisata Ziarah Belum Optimal
DEMAK - Aset besar yang dimiliki Kabupaten Demak berupa Masjid Agung, belum dikelola secara optimal oleh pemerintah setempat. Jika tidak dilakukan perubahan, dikhawatirkan kharisma masjid bersejarah peninggalan Walisongo itu akan berkurang bahkan pudar. Padangan itu disampaikan Achyaruddin, Direktur Produk Pariwisata pada Dirjen Pengembangan Destinasi Pariwisata di sela-sela Workshop Gema Wisata Ziarah bertema ''Wisata Ziarah dalam Pengentasan Kemiskinan. Kegiatan yang diadakan Departemen Pariwisata bersama dengan Lembaga Perekonomian PBNU itu berlangsung di pendapa kabupaten, kemarin. Tampil sebagai pembicara Ir Susanna Ratih MA, Kepala Pusat Studi Pariwisata Undip, Ir Sri Uriti Aminarsih, Kepala Diparta Jateng, dan dari PHRI Jateng. Achyaruddin menambahkan, pemerintah daerah yang mempunyai aset wisata ziarah semestinya memiliki manajemen plan. Seperti apa pengembangan yang akan dilakukan terhadap potensi tersebut. Dia meminta pemerintah daerah untuk proaktif mengusulkan pengembangan objek wisata ziarah kepada pemerintah pusat. ''Yang pasti kalau usulannya brilian pasti akan ditindaklanjuti pemerintah,'' katanya. Belum lama ini pihaknya mempromosikan wisata ziarah walisongo ke Malaysia, Singapura dan Thailand. Di negara-negara tersebut mendapat sambutan positif dan minat wisatawan mancanegara juga cukup banyak. Hal ini berbeda ketika dilakukan promosi di Kalimantan, Sulawesi maupun Sumatera yang tidak menunjukkan adanya respon terhadap potensi wisata tersebut. ''Artiya ada perbedaan respon wisatawan lintas daerah dengan mancannegara.'' Untuk lebih menarik kedatangan wisatawan mancanegara, maka objek wisata ziarah perlu dilakukan penataan agar lebih baik. ''Jujur saja kalau saya melihat Masjid Agung Demak terasa ada sesuatu yang kurang, seperti mengurangi kebesarannnya,'' kata pria kelahiran Sumatera yang mengaku baru kali pertama singgah di masjid tersebut. Sejak kecil dia sudah mendengar kebesaran nama masjid bersejarah tersebut. ''Inilah yang kami rasa perlu dilakukan perbaikan. Bangunan induk harus tetap sesuai aslinya, tetapi bangunan pendukung dan lingkungannya harus disesuaikan,'' tuturnya. Apabila tempat wisata ziarah dikelola secara profesional, maka keberadaannya dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat sekitar. Masyarakat dapat dilibatkan dalam menjual souvenir yang menjadi ciri khas daerah. Sementara Sri Uritni Aminarsih menjelaskan, potesi wisata ziarah dapat dikembangkan dengan daya dukung masyarakat setempat. Masjid Agung Demak dan Makam Sunan Kalijaga adalah daya tarik yang luar biasa. Tanpa promosi pun akan menarik wisatawan peziarah, apalagi jika dilakukan promosi dan pengelolaan yang profesioal. (H1-16) |