| Jumat, 28 September 2007 | SEMARANG |
Drs Soenarto NotowidagdoBangun IAIN Tanpa Belajar Agama Formal
MESKI tidak mengenyam pendidikan agama di lembaga formal, jasa Drs Soenarto Notowidagdo tidak bisa dipandang sebelah mata dalam proses pendirian Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Walisongo Semarang. Keinginannya untuk mendirikan perguruan tinggi Islam di pantura Jateng akhirnya terwujud secara bertahap sejak 1963. Dan tentu saja bukan perkara gampang seperti membalikkan telapak tangan. Dalam buku Lustrum Pertama IAIN Walisongo 6 April 1970-6 April 1975 disebutkan, sewaktu menjabat Bupati Kudus masa itu, ia mengembangkan dua fakultas sesuai kebutuhan masyarakat, yakni Fakultas Ekonomi dan Fakultas Agama. Idenya itu mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk pejabat pemerintahan dan militer. Dalam perkembangannya, Fakultas Ekonomi berada di bawah pengawasan Undip. Adapun Fakultas Agama diarahkan pada Fakultas Tarbiyah Jurusan Pendidikan Agama dengan jabatan dekan dipegang Soenarto sendiri pada 1963-1968. Dalam kurun waktu bersamaan, Soenarto yang juga menjabat Anggota Badan Pemerintah Harian Jateng merintis pengembangan Fakultas Syariah di Semarang dengan dukungan sebuah yayasan bernama ''Al Jamiah''. Dari rumahnya di Jl Seroja Barat 9 Semarang, berbagai rapat digelar dan menghasilkan pemikiran dan aksi tersebut. Untuk pengembangan fakultas, dibentuklah sejumlah fakultas di beberapa daerah, seperti Fakultas Dakwah di Semarang yang dipimpin Drs Masdar Helmy, Fakultas Syariah di Bumiayu Brebes (SA Basyori), Fakultas Syariah di Demak (KH Ahmad Malik dan Bupati Demak Dumami), Fakultas Ushuluddin di Kudus (Soenarto Notowidagdo, KH Abu Amar, Soekarno BA, dan Edi Sarjono), serta Fakultas Tarbiyah di Salatiga (KH Zuber). Pada masa persiapan pengubahan status negeri IAIN Walisongo tahun 1963-1970 tersebut, Soenarto menjabat sebagai rektor. Pada 6 April 1970, IAIN Walisongo resmi berdiri melalui Keputusan Menag No 30 dan 31/1970. Tentu saja ia gembira, karena selain keinginannya terwujud, pada tanggal itu pula bertepatan dengan hari kelahirannya. Upacara peresmian IAIN dilakukan di Gedung Balai Kota Semarang. Setelah resmi berstatus negeri, susunan kepemimpinannya di bawah Rektor KH Zuber, didampingi Wakil Rektor I Soenarto Notowidagdo, Wakil Rektor II KH Moh Sowwam, dan Wakil Rektor III Hasan Salim Al Habsyi MA. Sejak 1973, cabang-cabang fakultas dilakukan rasionalisasi dengan memindahkannya ke Semarang dan berkembang hingga kini. Kegiatan IAIN Walisongo saat ini terpusat di tiga kampus di Ngaliyan. Setiap tahunnya mampu mewisuda 1.000-an lebih mahasiswa dengan beragam jurusan keilmuan yang juga semakin berkembang. Dipenjara Sebagai seorang pribadi, ia yang alumni Fisipol UGM Yogyakarta dikenal kuat dalam pengembangan konsep pendidikan agama. Dalam sebuah wawancara tahun 2000 dengan majalah kampus IAIN, Missi, Soenarto mengaku pernah merasakan dipenjara karena alasan politis oleh rezim Orde Baru dan sempat pula dikaitkan gerakan PKI. Tahun 1973 ia menghirup udara bebas dan meneruskan profesinya sebagai dosen. Bekas mahasiswa Soenarto yang kini menjadi dosen Fakultas Dakwah, Drs Aminuddin Sanwar, mengatakan Soenarto pada 1970-an mengajar mata kuliah Kapita Selecta Tata Negara. Lalu sempat vakum dan aktif kembali mengajar pada 1990-an dengan membawakan mata kuliah Ekonomi Islam. Di sela-sela kegiatan mengajar, ia sempat menulis Kitab Tafsir Dakwah Nurul Hikmah wal Hidayah yang terdiri atas 30 jilid dengan menggunakan 2.000 literatur. Namun sayang hingga kini karyanya tersebut belum diterbitkan. Profesi dosen digeluti hingga akhir hayatnya. Ia meninggal pada pertengahan Juli 2007 di usia 75 tahun. (62) |