| Jumat, 28 September 2007 | SEMARANG |
SUDUT PANDANGMembangun Komitmen Spiritual GuruGURU, sebagai aset yang sangat berharga, dinilai butuh ''suntikan'' untuk memupuk profesionalismenya. Tak hanya kesejahteraan, komitmen mereka juga perlu dibangun. ''Nilai-nilai luhur yang selama ini ditimbulkan secara outside-in dirasakan sebagai keterpaksaan. Karena itu perlu training agar nilai-nilai luhur itu timbul secara inside-out dan terinternalisasi,'' kata Deny Jatnika, baru-baru ini. Dengan begitu, kata ketua panitia Training ESQ Peduli Pendidikan Bagimu Guru itu, akan semakin memantapkan spiritual commitment dan spiritual conciseness para tenaga pendidik tersebut. Ada sejumlah hal yang menurut General Manajer Hotel Ciputra itu menjadikan perlu dilakukannya training bagi guru-guru. Antara lain, semakin tingginya tuntutan masyarakat dan perkembangan peradaban manusia akan kualitas pendidikan. Untuk itu sangat diperlukan guru-guru, praktisi pendidikan, dan personel-personel terkait dengan dunia pendidikan yang mempunyai kecerdasan emosi dan spiritual cukup memadai. Latar belakang lainnya, tambah dia, semakin memprihatinkannya kondisi dunia pendidikan yang diindikasikan dengan adanya beberapa tindak kejahatan oleh oknum-oknum tak bertanggung jawab. Tindakan itu telah mencoreng dunia pendidikan secara umum. ''Dan training ini merupakan kepedulian beberapa pihak terhadap perkembangan dunia pendidikan, khususnya para alumni training ESQ (Emotional Spiritual Quotient-Red),'' kata dia. Tak tanggung-tanggung, pihaknya yang tergabung dalam Forum Komunikasi Alumni ESQ Jateng berencana mengumpulkan 1.000 guru TK sampai SMA se-Jateng untuk dibangun kecerdasan emosi dan spiritualnya, pada 2-4 Oktober di Krakatau Grand Ballroom Hotel Horison melalui training ESQ. Yang berminat dapat menghubungi sekretariat di Jl Pandanaran No 40 Semarang, telepon 8414009 atau 70153979. Diharapkan, kegiatan itu akan menciptakan insan-insan khalifah yang mewarisi tiga hal utama, yakni sebagai rahmatan lil'alamin (rahmat bagi seluruh alam), insan yang ber-akhlakul karimah (berakhlak mulia), dan menciptakan tatanan khaira ummah (umat terbaik). (Iwan Kelana-62) |