| Jumat, 28 September 2007 | EKONOMI |
Harga Terigu Terus Naik
SOLO-Akibat kenaikan harga tepung terigu terus menerus, para perajin mi dan roti di wilayah Karesidenan Surakarta resah. Mereka khawatir usahanya akan bangkrut. Hal tersebut diungkapkan Ketua Paguyuban Perajin Mi dan Roti Surakarta (Parimas), Rochim Agus Suripto kemarin. Dia mengatakan selama sebulan terakhir ini harga terigu naik dua kali. Setiap kenaikan besarnya antara 4% sampai 5 %. Sebelumnya satu zak (isi 25 kg) harganya antara Rp 111.000 sampai Rp 112.000. Harga tersebut kemarin sudah menjadi Rp 121.000. Ia menerima informasi, harga akan terus mengalami kenaikan sampai 2008. ''Jika harga terus naik begini, sedangkan pasar mi dan roti dalam kondisi lesu, akan banyak perajin yang bangkrut,''katanya. Ia menambahkan, akibat lesunya pasar ini kapasitas produksi tinggal 30%. Ia menyatakan tidak tahu persis, kenapa harga terigu terus mengalami kenaikan. Tetapi informasi yang diperolehnya, kenaikan harga dipicu oleh banyaknya petani gandum di Amerika Serikat yang beralih pada komoditi jagung. ''Menurut informasi, jagung dapat digunakan bahan baku minyak biodiesel, sehingga harga jagung di AS lebih mahal dari gandum. Akibatnya banyak petani gandum beralih menanam jagung,''katanya. Daya Beli Lemah Ia berharap ada solusi yang baik bagaimana mengatasi kekhawatiran perajin mi dan roti. Perajin mi dan roti di Surakarta sebagian besar termasuk UKM. Jumlah perusahaan mi dan roti di daerah ini sebanyak 48 buah. Dari jumlah itu karyawannya mencapai ribuan. Khusus untuk pabrik mi, setiap harinya memasok sekitar 15.000 penjaja mi ayam. Di Kabupaten Sragen saja, penjaja mi ayam jumlahnya 600 orang. Setiap bulan anggota Parimas memperoleh pasokan langsung terigu dari PT Bogasari Surabaya sebanyak 225 ton. Jumlah itu setiap tahun mengalami kenaikan, karena pabrik mi dan roti setiap tahun bertambah. Bertambahnya jumlah pabrik mi dan roti ini menyebabkan persaingan di daerah ini semakin ketat. Ketika harga bahan baku naik, mereka tidak berani menaikkan harga karena daya beli masih lemah. Akhirnya mereka berusaha memperkecil ukuran mi dan roti, untuk mengurangi bahan baku. (bt-59) |