logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 28 September 2007 BUDAYA
Line

Sotja Lempar Klip "Sadarkah"

SETELAH mencuri perhatian dengan klip pertama untuk lagu "Misteri", Sotja Band kembali mengadu untung dengan melempar klip kedua mereka, "Sadarkah". Lewat lagu berirama slow rock, band asal Jakarta itu ingin menyapa hati penikmat musik.

Walau sudah merambah dunia rekaman, band yang digawangi Willy (gitar), Iswan (bas), Gatot (drum), Roy (vokal, gitar), dan Boyke (vokal) itu merasa masih perlu banyak belajar. Klip pertama "Misteri" yang sudah diputar di layar kaca masih kurang menggigit.

Ada dua lagu andalan dalam album perdana bertitel Sotja, yakni "Misteri" dan "Sadarkah". Klip pertama yang dibuat adalah untuk lagu "Misteri" karena berdasarkan hearing, 70 persen pemilih menginginkan lagu yang ditulis Boyke Ahmad.

"Saya harap klip kedua ini dapat lebih diterima," kata Boy yang menyumbang tiga lagu dalam album Sotja yang diluncurkan 13 Juli 2007 di Hard Rock Cafe Jakarta. Nama Sotja sendiri diambil dari bahasa Sunda yang artinya mata. Selain Boy, tujuh lagu lainnya ditulis Roy, gitaris yang merangkap vokalis.

Tur Promo

Sejak 20 September lalu, lima personel Sotja melakukan tur promo Jawa-Bali. Kesempatan itu tentu saja tak disia-siakan. Mereka akan selalu tampil maksimal dalam setiap kesempatan walau belum banyak yang mengenal lagu-lagu mereka.

Biasanya, lagu itu terdengar enak kalau sudah didengarkan berkali-kali. Oleh karenanya, saat ini sedang dijajaki untuk menjadikan salah satu lagu sebagai soundtrack sinetron di salah satu stasiun televisi. Mereka juga promo lewat radio dan televisi.

Menurut Tinov dari manajemen Holic Productions, dua bulan sejak peluncuran album Sotja sudah terjual lebih dari 4.000 kopi, baik CD maupun kaset. Dengan munculnya klip baru diharapkan, penjualan dapat digenjot.

Memang tak mudah meraih hati para penikmat musik. Apalagi, saat ini banyak band-band serupa yang telah meramaikan kancah musik tanah air. Lagu yang diusung juga bagus-bagus dengan aneka variasi.

"Kami yakin benar tak mudah musik kami bisa diterima. Kami harus mengawinkan idealisme dengan hal-hal yang komersial. Tapi kami akan berusaha dan harus optimistis," kata Willy yang menggandrungi musik klasik rock.

Mereka merasa masih perlu banyak belajar dari band-band senior dan band luar negeri yang bisa eksis sampai saat ini. "Kami harus banyak belajar untuk menghargai perubahan. Saya kagum dengan Dewa 19 dan the Beatles," ujar Boy. (Merawati Sunantri-45)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA