| Jumat, 28 September 2007 | BANYUMAS |
NUANSA RAMADANMenghitung Rejeki dari Ketupat LebaranSELAMA bulan Ramadan, orang menjadi lebih memperhitungkan amal baik lebih dari hari-hari biasa. Jika malam tiba, dihitung berapa kali sepanjang hari telah khilaf dalam bertutur-kata, atau berapa banyak hati dan pikiran tercemar dosa. Mayoritas keluarga juga lebih giat menghitung uang. Ada yang menghitung dalam jutaan, lainnya ratusan ribu dan sisanya puluhan ribu. Ada pula yang menghitung satu rupiah demi satu rupiah. Tengok saja di kawasan RW IV Desa Kedungwringin Kecamatan Patikraja, Banyumas atau sejumlah titik di Desa Pangebatan, Kecamatan Karanglewas. Merekalah selama ini yang menyediakan pasokan puluhan ribu selongsong ketupat lebaran bagi semua pasar di Kota Purwokerto. Pada hari-hari biasa, Cholil (55) warga RW IV Kedungwringin, hanya membuat 200 selongsong ketupat. Mulai H-3 Lebaran, permintaan bisa mencapai 4 ribu per hari. Artinya naik 20 kali lipat. ''Itu angka rata-rata tahun sebelumnya. Pesanan selongsong digarap oleh saya, ibu dan lima anak saya,'' ungkapnya, kemarin. Mereka hanya tenaga pembuat selongsong ketupat. Bahan baku berupa janur kuning dipasok pedagang yang lantas memasarkan hasil kerja Cholil sekeluarga. Sayangnya, tahun ini harga bahan baku yang didatangkan dari Desa Mandirancan, Kecamatan Kebasen naik 100 persen. ''Dulu Rp 2.500, sekarang paling tidak Rp 5 ribu. Bisa lebih mahal lagi,'' imbuhnya. Istri Cholil, Suliyah (52) mampu membuat 150 selongsong ketupat dalam satu jam. Pedagang yang memberi mereka bahan baku, memberi upah Rp 20 untuk setiap selongsong. Itu artinya pada hari biasa, penghasilan mereka Rp 4 ribu. Sementara saat lebaran yang mencapai 4 ribu selongosong per hari menjadi Rp 80 ribu. Jika dihitung, penghasilan mereka berlipat 20 kali lipat juga. (Sigit Harsanto-55) |