| Kamis, 27 September 2007 | WACANA |
Surat PembacaPelayanan Adam Air...Sebuah pengalaman menarik dengan penerbangan Adam Air terjadi pada saya. Tanggal 2 September 2007 saya dari Semarang ke Jakarta pukul 09.30 naik Adam Air. Tiket sudah ada di tangan sejak 3 - 4 hari sebelum berangkat yang saya beli dari travel agen langganan. Pada hari '' H'', saya datang 'sedikit' terlambat, yaitu 40 menit sebelum keberangkatan. Tertulis pada tiket, loket cek in ditutup 45 menit sebelum keberangkatan. Ternyata pada hari itu semua penumpang datang lebih awal, sehingga pada jam tersebut sudah tidak ada orang yang mengantre di loket cek in. Dengan sedikit kebingungan karena sepinya loket, saya menyodorkan tiket kepada petugas. Alangkah terkejutnya karena Adam Air menolak kehadiran saya karena "sudah keluar log seat-nya" sehingga saya tidak bisa cek in. Saya memohon toleransi, tetapi tetap tidak bisa. Saya dianjurkan ke loket tiket dan mengganti jam penerbangan berikutnya yaitu 12.30. Sesuai dugaan, penerbangan pukul 12.30 sudah penuh karena kebetulan hari Minggu sehingga saya harus rela mengantre sebagai cadangan. Lima belas menit sebelum keberangkatan (09.15), tiba-tiba saya dipanggil untuk "dibantu" masuk ke pesawat. Akhirnnya saya bisa terbang juga menggunakan Adam Air setelah ikutan 'lari pagi' mengejar waktu.Penumpang sebelah saya yang kebetulan band terkenal bercerita, salah satu krunya juga batal berangkat last minute. Jadi katanya saya lebih beruntung bisa menggunakan seat-nya. Sesuai prediksi awal saya, seat saya sudah dijual. Terbukti dengan jumlah penumpang hari itu penuh. Anehnya, petugas mengatakan "dibantu" untuk bisa naik ke pesawat. Kenapa tidak "dibantu" saat cek-in, kenapa 15 menit sebelum penerbangan tiba-tiba log seat bisa direvisi (lagi). Toh tiket sudah ada di tangan saya. Terima kasih untuk staf yang sudah menolong koper saya dengan lari-lari membantu saya. "Terima kasih" juga pada staf yang sudah menjual seat saya. Setahu saya, segala seat akan dijual ke cadangan adalah 15 menit sebelum waktu keberangkatan, bukan 45 menit. Semoga surat ini dapat dicerna oleh manajemen sehingga tidak terulang. Maudy Wibowo Jl Wilis 2B, Semarang Tentang Beng-Beng Tulisan saya di Surat Pembaca beberapa waktu lalu berjudul ''Hadiah Beng-Beng'', dengan ini saya menyatakan permasalahannya telah diselesaikan dengan baik. Pihak produsen yaitu PT. Mayora Indah Tbk datang dan menjelaskan secara rinci. Di antaranya, masa periode hadiah ternyata s.d akhir Desember 2007 (sesuai yang tertera dalam kemasan). Dengan demikian hadiah tersebut sampai saat ini masih berlaku dan bisa ditukarkan sesuai yang tertera didalam kemasannya. Juga menjelaskan di mana saja konsumen bisa menukarkan hadiahnya, terkecuali di Indomaret akibat tidak bersedianya mereka bekerjasama dengan Beng-Beng dalam hal penukaran dan pengumpulan hadiah. Siti Khadariyah Tratemulyo RT 2/RW 1, Weleri *** Ingin Sehat, Terapkan "Wellness" Demikian pesan sahabat melalui e-mail beberapa tahun lalu, agar saya menerapkan wellness bila ingin sehat. Adapun wellness yang dimaksud adalah: Water , minum air putih secukupnya hingga urine jernih. Environment, rumah/kantor/lingkungan bersih dan sehat. Laughing, ekspresikan suka atau duka dan usahakan tertawa lebih banyak daripada ekspresi duka atau minimal 3 kali tertawa lepas/hari. Living drugs free, hidup sehat tanpa bergantung obat, tidak minum kopi atau merokok (maaf... produsen kopi dan rokok). Nutrition, makan pagi gizi baik, siang boleh kenyang, makan malam sedikit saja. Exercise, olahraga teratur dan terukur, minimal 30 menit/hari atau 3 - 6 kali/minggu dengan kisaran waktu 30 - 60 menit. Spirit:, tetap semangat karena putus asa merupakan kekalahan terbesar dalam hidup. Usahakan tetap tegar dalam menghadapi berbagai tantangan berupa kesehatan, ekonomi, maupun rumah tangga/masyarakat agar hidup tidak sengsara dan stres. Sleep: tidur cukup, untuk mengembalikan tenaga dan menyegarkan badan serta pikiran. Diperlukan waktu sekitar 5 - 6 jam/hari untuk dewasa. Bila sudah dapat tidur antara jam 21.00 - 00.00 berarti badan sehat dan hidup senang, pekerjaan lancar serta tidak stres. Kenapa sulit tidur, dimungkinkan karena beban masalah/stres berat/sakit. Tandanya sehat antara lain dapat makan, tidur dan buang air besar lancar setiap hari dengan sempurna. Selain anjuran untuk menerapkan wellness, sahabatku menambahkan tentang 4 modal di hari tua, yaitu: Sudah tua tetap sehat dan bugar Sudah tua masih sejodoh dan harmonis Sudah tua masih punya simpanan (uang) Sudah tua masih punya banyak teman walau lebih muda. Bagaimana, mau? Dr Ir Dwi Retno Lukiwati MS Dosen Fak Peternakan Undip *** Soal Harga di Carrefour Sehubungan dengan surat yang disampaikan Ibu Saras, 16/18 September 2007 berjudul "Harga Barang di Carrefour", kami sampaikan tanggapan sbb: Pihak Carrefour DP Mal sudah menghubungi beliau untuk mengklarifikasi permasalahan sekaligus menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanannya. Ibu Saras dapat memahami serta menerima penjelasan kami hingga dengan demikian permasalahan telah diselesaikan dengan baik. Retha A Dotulang Comm & Community Relations Manager *** Apa Artinya Puasa Tanpa Godaan ? Mencermati tulisan 20 September 2007, saya tergerak untuk urun rembuk, meski saya bukan umat muslim. Saya setuju hormati orang berpuasa sebab hal itu sudah ditanamkan orang tua, guru sekolah sejak saya kecil. Saya berusaha tidak makan atau minum di tempat orang sedang berpuasa. Saya yakin banyak restoran/warung makan memberi korden untuk mengurangi godaan bagi yang berpuasa. Tapi tentu saja tidak bisa meminta semua orang menutup tempat usahanya selama sebulan. Baik itu restoran maupun warung makan. Juga tak bisa memaksa mereka membuka usahanya hanya saat malam hari setelah waktu buka puasa. Karena pemiliknya harus memberi THR untuk karyawan dan persiapan lebaran bagi keluarganya. Jadi mari saling menghargai antarumat beragama baik yang puasa maupun tidak. Apalah arti puasa jika tidak ada godaan. Percayalah, pahala akan ditambahkan bagi mereka yang dapat mengatasi segala godaan. Yang penting berusaha ibadah berjalan baik dan khusyuk sehingga di hari yang Fitri nanti, mendapat kemenangan. Akhirnya saya ucapkan selamat menunaikan ibadah puasa bagi saudaraku yang menjalankannya. Yulia Dwimulyani Jl Kelud Utara II/2, Semarang *** Budaya Tebang Betapa sengsaranya negeriku yang rimbun ijo royo-royo ini, sekarang menjadi gersang, gundul dan kering. Alangkah kasihan alam ini melihat penghuninya yang sudah tidak merawat dan melestarikan. Sering saya melihat setiap hari puluhan becak dengan memuat kayu kering siap bakar, belum yang dijual di rumah-rumah penduduk yang semuanya siap dijadikan kayu bakar. Jadi wajar kalau sering mendengar terjadi bencana longsor, semuanya itu merupakan panen dari budaya tebang. Mengapa ini bisa terjadi, semuanya ini merupakan lingkaran setan yang penuh masalah. Antara lain kita tidak diberi contoh oleh para pemimpin negeri ini untuk membiasakan melestarikan pohon. Ratusan ribu hektare hutan di luar Jawa menjadi korban keserakahan pemegang HPH, ratusan ribu hektare hutan dijadikan kebun kelapa sawit. Bahkan ada orang yang bangga mendapat julukan raja kayu. Di satu pihak rakyat kecil merasakan langkanya minyak tanah padahal perut harus tetap diisi. Jalan pintasnya dengan mencari kayu untuk kayu bakar dan ini berjalan terus selama dia ingin bertahan hidup. Sadar atau tidak menebang jauh lebih cepat daripada menanam, merusak lebih cepat dari melestarikan. Lewat tulisan ini saya mengajak seluruh insan pecinta kelestarian alam mulai dari pimpinan sampai rakyat kecil untuk mengurangi budaya tebang. Lalu ganti dengan budaya tanam agar alam tidak marah dengan angin kencang. Kecepatan angin ditahan oleh rimbunnya tanaman, tanah tidak longsor saat hujan karena kekuatan jatuhnya air hujan ditangkap oleh rimbunnya hutan. Kita malu kepada dunia, terutama negara maju dan negara tetangga mengapa terkenal sebagai bangsa perusak alam, bangsa pengekspor asap, bangsa yang kebanjiran di saat musim penghujan, kebakaran di saat musim kemarau. Hal itu sudah bukan rahasia lagi, semua dunia mengetahui. Wahai Departemen Kehutanan dan Perum Perhutani aku menunggu langkahmu, aku menunggu hasil nyata kerjamu. Hijaukan negeri ini, hentikan pembalakan liar, jadikan Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua dan Jawa kembali ijo royo-royo. Mari budaya tebang kita ganti dengan budaya tanam, budaya hijau. AT Narimo Margasari RT 7/RW 2, Tegal *** Lagi, Konversi Minyak Sulit mengatur orang, judul ini pernah saya tulis di Surat Pembaca. Jangankan mengatur orang lain, mengatur diri sendiri saja juga sulit. Judul tersebut mengingatkan saya ketika masih sebagai kepala Dinas Pertanian, bagaimana sulitnya mengubah kebiasaan petani dari memakai pupuk organik ke pupuk kimiawi dan dari jenis padi lokal ke hibrida. Mutu pupuk organis memang lamban tapi memengaruhi tanaman menjadi subur dan berbuah banyak. Untuk jenis padi lokal, anaknya sedikit (sekitar 10 anakan) tapi mudah terserang hama terutama wereng dan sundep serta produktivitas rendah sekitar 2-3 ton gabah kering giling/hektare. Sedang jenis padi hibrida anaknya banyak, sampai 48 anakan per rumpun dengan produktivitas 5 hingga 8,5 ton gabah kering giling/hektare. Untuk mengubah kebiasaan petani tersebut sangat sulit, lama dan bahkan sampai dijadikan materi politik oleh PKI di zaman Orla. Mereka memengaruhi petani lewat BTI (Barisan Tani Indonesia = Komunis) agar jangan mau menggunakan pupuk Urea, NPK, Pospat, sebab itu buatan kaum kapitalis, musuh bebuyutan PKI yaitu Amerika. Dengan sabar, telaten dan terarah, kebijakan Dep Pertanian dan jajarannya wajib dan harus mempelajari harkat dan martabat petani yaitu apa sebab, mengapa sulit menerima dan melaksanakan anjuran pemerintah. Sesudah sekian tahun, baru menemukan cara tepat untuk mengubah kebiasaan menjadi petani modern. Bahkan sekarang timbul gejala bahwa petani agak sulit mencari pupuk dan obat kimiawi (insectisida dan fungisida) sebagai akibat makin banyaknya petani yang butuh. Kebijakan Deptan waktu adalah: di seluruh kecamatan, baik di sawah berpengairan teknis, setengah teknis, tadah hujan, dataran rendah maupun di dataran tinggi dibuat demplot (demonstrasi plot) seluas 1 are. Areal tersebut ditanami jenis padi hibrida Ir 64, dipupuk khemis (10 x 10 m = 100 m2), yang diperlakukan modern teknik pemupukan dan perawatannya. Di sampingnya ada juga lahan 1 are, jenis padi lokal, tetapi menanam padinya sama dengan cara tradisional seperti kebiasaan petani. Sesudah petani jelas melihat, memahami teknologi pertanian yang baru, maka demplot (1 are) diubah, dikembangkan menjadi demfarm (demontrasi farm), seluas 1 ha (10.000 m2) per kecamatan. Akibatnya para petani betul-betul mengetahui bahwa teknologi pertanian yang baru memang menaikkan produksi gabah kering giling sampai 3 kali dari biasanya. Timbullah penyuluhan ajaib yaitu dari mulut ke mulut yang benar-benar bermanfaat. Berhasillah kebijakan Deptan. Akibatnya permintaan pupuk, obat, jenis padi hibrida melonjak bahkan kadang menimbulkan stagnasi persediaan. Sehingga tahun 1984 Indonesia dinyatakan self supporting beras. Apa yang dapat ditiru pemerintah sekarang, lewat Dep Energi, utamanya Pertamina. Buatlah penyuluhan dulu, lalu demplot 100 KK/kecamatan dan sesudah OK, diperluas 1.000 KK/kecamatan. Sesudah itu mereka dikumpulkan untuk musyawarah apa baik atau buruknya mengubah kebiasaan dari menggunakan minyak tanah ke elpiji. Tentu musyawarah tersebut bisa menghasilkan solusi, baik dari segi teknis, ekonomis dan mental masyarakat. Ini makan waktu. Semoga berhasil. Moeljono HP Jl Banteng Utara VII/1, Semarang *** Bayar Pajak Sulit Pada 13 September 2007 pukul 13.10 WIB saya ke kantor Samsat Batang untuk membayar perpanjangan pajak kendaraan bermotor. Di bagian pendaftaran diberitahu, pelayanan selama bulan puasa sampai dengan pukul 13.00 WIB tetapi bagian kasir sampai 14.00 WIB. Saya mohon bisa dilayani mengingat jarak tempat tinggal saya jauh. Saya diminta ke bagian leges dulu, kalau diterima bisa diproses. Saya ke bagian leges, tetapi ditolak dengan alasan pelayanan pendaftaran ditutup pukul 13.00 dan katanya komputer sudah tidak mau di-input. Akhirnya saya pulang dengan tangan kosong. Sia-sialah waktu yang saya korbankan untuk membayar pajak yang katanya untuk pembangunan dan bayar gaji PNS. Yang menjadi keheranan saya, kok pendaftaran tutup secepat itu sementara kasir tutup selisih 1 jam. Berarti lama pelayanan untuk membayar pajak rata-rata 1 jam. Luar biasa lamanya, padahal pakai komputer. Saya juga menyesalkan sikap petugas Samsat Batang yang tidak punya toleransi dan fleksibilitas dalam pelayanan. Padahal mereka digaji untuk melayani masyarakat. Menurut info, penghasilan mereka 2 kali lipat dari gaji PNS biasa, tetapi pelayanan hanya standar. Apakah memang begitu konsep pelayanannya tanpa memikirkan kepentingan masyarakat. Bagaimana Pak Bupati Batang, bayar pajak kok angel. Murdiyanto Pesaren RT 4/RW 1 Warungasem, Batang *** Mendadak Santun Mengamati perkembangan siaran teve baik sinteron maupun hiburan lain, saya sebagai orang tua sangat prihatin. Betapa tidak, tayangannya lebih banyak mengumbar tema cinta yang tidak jelas jluntrungnya. Atau lebih bermuatan ajakan mengejar lawan jenis untuk dijadikan kekasih daripada belajar demi mengejar prestasi di bidang pendidikan, keterampilan atau bidang lain yang lebih bermutu. Hal ini diperparah dengan tayangan sinetron remaja bahkan sinetron anak-anak yang temanya tidak lebih dari ajaran intrik menggaet pacar atau kekasih di sekolah tanpa memerdulikan etika timur. Anak-anak tingkat sekolah dasar dan sekolah lanjutan dipaksa mengenal dunia yang belum waktunya. Namun dengan datangnya Ramadan, saya sedikit mendapat harapan masa depan tayangan teve yang lebih baik dan bermutu. Acara bermuatan keagamaan yang mengajak kebaikan ditampilkan lebih banyak. Sinetron atau acara hiburan lain juga banyak yang "berlabel Islami". Inilah berkah bulan Ramadan sehingga manusia cenderung berbuat baik. Demikian halnya para artis sinetron mendadak tampil santun, berbalutkan pakaian muslim atau jilbab yang rapi dan anggun. Lakon yang mereka perankan juga sebagai orang-orang soleh atau solehah. Di balik rasa syukur dan keharuan, saya masih dihinggapi perasaan kurang sreg terhadap tayangan tersebut karena ada ironinya. Mengamati berita perilaku para artis di kehidupan keseharian, bila disanding dengan perilaku di sinetron terlihat tidak pas atau bertolak belakang. Di kehidupan nyata mereka berpakaian minim, berperilaku di luar batas adat ketimuran saat berjoget, bernyanyi, berdandan atau lainnya. Padahal di sinetron mereka tampil bak malaikat yang berperilaku santun. Jujur saya katakan, secara pribadi saya malas (untuk tidak mengatakan muak) menonton akting mereka. Mestinya ada korelasi positif antara lakon yang mereka perankan, antara nilai positif yang mereka tampilkan dalam akting dengan perilaku sehari-hari. Tapi akhirnya saya berpikir positif, biarlah mumpung dalam bulan Ramadan, tak apalah tampil santun, siapa tahu ada nilai positif yang tetap melekat pada mereka setelah bulan ini lewat. Mungkin ini juga akan bermanfaat bagi penggemarnya. Roziqun Kunden RT 2/RW 6, Wirosari |