| Kamis, 27 September 2007 | NASIONAL |
Arus Mudik dari Pulogadung Masih Normal
JAKARTA- Hingga dua pekan menjelang Lebaran, Rabu (26/9), arus mudik melalui Terminal Bus Pulogadung, Jakarta Timur, belum menunjukkan peningkatan. Jumlah penumpang dan armada bus yang berangkat ke arah timur masih seperti hari-hari biasa. Hal itu terlihat di salah satu loket penjualan tiket bus antarkota antarprovinsi (AKAP) jurusan Jakarta-Solo. Rita (27), penjaga loket mengatakan hingga kini pemesanan tiket masih normal. ''Untuk bus ke Solo masih seperti hari biasa. Kalau tahun lalu sih mulai ramai tujuh hari sebelum Lebaran,'' tuturnya. Meski belum ada lonjakan penumpang, pengelola Terminal Pulogadung mengaku siap memberikan pelayanan terbaik pada arus mudik tahun ini. Untuk mengantisipasi lonjakan penumpang, perusahaan otobus yang ada siap beroperasi. ''Saat ini, ada sekitar 80 perusahaan otobus yang dinyatakan siap beroperasi, dan kemungkinan akan bertambah mendekati puncak mudik,'' kata Kepala Terminal Bus Pulogadung, Pardjiman. Dia meminta kepada semua perusahaan otobus AKAP yang beroperasi di Terminal Pulogadung untuk memberikan pelayanan sebaik mungkin kepada seluruh calon penumpang yang hendak mudik menggunakan jasa bus dari terminal itu. Dia meminta awak bus untuk membantu calon penumpang dengan bertindak sopan, tidak memaksa penumpang dengan menyeret-nyeret barang bawaanya, serta menunjukan jalur bus yang benar sesuai dengan arah dan tujuan penumpang. Jika perusahaan otobus beserta karyawanya tidak mengindahkan peraturan tersebut, pihaknya tidak akan segan-segan menindak tegas. Jalur Rawan Jalur kereta api di Pulau Jawa diidentifikasi terdapat 492 titik rawan. Titik tersebut tersebar di sembilan daerah operasi selama angkutan mudik Lebaran tahun ini. Yakni daerah rawan longsor, banjir, jembatan rusak, perlintasan tanpa palang pintu, kawasan pencurian material rel, dan aksi pelemparan terhadap kereta api yang melintas. "Semuanya membutuhkan fokus dan ekstrapenanganan. Terus terang, tenaga kami terbatas jika harus melakukan penjagaan di seluruh titik-titik rawan itu," tandas jubir PT KA, Noorhamidi di Bandung. Menurut dia, deteksi dini sebatas dilakukan oleh petugas penilik jalan. Frekuensi tugasnya ditingkatkan selama musik mudik hingga 3-4 kali dari semula 2 kali sehari. Selebihnya berkoordinasi dengan aparat dan berharap kepedulian masyarakat dalam mengamankan lintasan. Khusus jalur rawan bencana alam, petugas ditempatkan untuk mengawasinya selama 24 jam. "Kami mendirikan tenda agar memudahkan pemantauan karena longsor tak bisa diperkirakan," tambah Kadaop II Bandung, Eddy Djoko Sewoyo. Dijelaskan, titik rawan longsor antara Bandung-Tasikmalaya tersebar di antara petak jalan Nagreg-Lebakjero dan Warung Bandrek-Bumi Waluya. KA Ekonomi Serayu Jakarta-Kroya pernah terguling akibat terseret longsor April lalu di kawasan Kabupaten Garut itu. Ke arah barat, petak yang diwaspadai adalah Purwakarta-Ciganea. Jalur tersebut merupakan lintasan jalur selatan dari Jateng ke Jakarta dan Semarang lewat Bandung. Di Daop IV Semarang terdapat 109 titik, Daop V Purwokerto 93 titik, dan Daop VIII Surabaya mencapai 119 titik. "Stasiun Tawang dan Kroya bisa banjir saat hujan," Noorhamidi. (A20,dwi-60,48) | ||||