| Kamis, 27 September 2007 | NASIONAL |
''Saya Ingin Berdakwah lewat Tulisan, Pak''''Harian Suara Merdeka tergolong surat kabar yang tampil beda. Penyajiannya jujur dan menarik.'' Kalimat itu dilontarkan salah satu peserta Sarasehan Jurnalistik Ramadan 2007 di Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Iman, Bulus, Gebang, Purworejo, kemarin. Acara itu terselenggara atas kerja sama Suara Merdeka dan Ponpes Al-Iman. Hadir Pemimpin Redaksi Suara Merdeka Sasongko Tedjo SE MM, Redaktur Pelaksana Heryanto Bagas Pratomo SE, Kepala Desk Suara Kedu Agus Fathuddin Yusuf, Kepala Biro Kedu Dody Ardjono, Kepala Pemasaran Kedu Selatan Drs Djoko Manto MM. Pemimpin Ponpes KH Hasan Agil Ba'bud dan Kepala Bikom Drs H Harnudin Burhan juga mengikuti acara. Kegiatan diawali dengan penyajian materi tentang jurnalistik dan tata cara membuat berita. Selanjutnya lebih banyak dibuka dialog. Para peserta yang tergolong baru mengenal ilmu jurnalistik sangat antusias mengikuti acara tersebut. Seperti dilontarkan santri Jamil. Dia menyatakan ingin belajar jurnalistik agar bisa menjadi penulis di koran. Tetapi, kata dia, hal itu baru merupakan cita-cita. Yang dia inginkan sekarang ini ingin berdakwah lewat tulisan. Minimal tulisan dakwah bisa dipasang di Ponpes Al-Iman. Keinginan tersebut muncul setelah dia mengamati banyak khotib di masjid-masjid yang bukan santri. Padahal, kata dia, pembicaraan seorang khotib berisi bahasan-bahasan tentang agama. Kenapa bisa demikian? Menurut penilaian dia, tidak banyak santri yang bisa menulis dengan baik. ''Khotib di masjid kenapa bukan santri, itu karena mereka belum pintar menulis,'' ucapnya. Objektif dan Berimbang Berkenaan dengan sarasehan jurnalistik, dia menyatakan ingin belajar agar mampu menulis dengan baik. ''Saya ingin membuat dakwah, Pak,'' kata santri asal Gombong, Kebumen itu. Di sisi lain dia mengajukan pertanyaan bagaimana cara membuat pembaca koran tertarik membaca, tetapi tulisannya disajikan secara jujur. Sebab, kata dia, banyak berita di koran yang disajikan secara provokatif. Begitu pula acara-acara di televisi. ''Bagaimana membuat berita yang tanpa provokasi dan benturan-benturan,'' tanya dia. Lain halnya yang dilontarkan Moh Farid. Dia mengaku sering membaca koran, tetapi banyak menjumpai berita-berita kekeringan, pencurian, maupun berita-berita buruk lainnya. ''Kalau begitu kan bisa berarti Purworejo ini adem, ayem, tentram, tapi rusak rak karu-karuan,'' katanya. Santriwati Naily Hidayati asal Gombong, Kebumen, dalam kesempatan yang sama juga tertarik terhadap profesi wartawan. ''Bagaimana wartawan membuat berita, padahal waktunya mepet,'' katanya. Sasongko Tedjo menjelaskan, untuk menulis berita harus menyesuaikan dengan karakter redaksi surat kabarnya. Selain itu dalam menulis berita juga ada etikanya. Yakni harus netral, obyektif, dan berimbang. Dijelaskan pula, hak-hak pembaca pada hakikatnya dilindungi undang-undang. Sasongko yang juga ketua PWI Jateng itu mengingatkan, saat ini banyak wartawan CNN, bukan lembaga penyiaran berita, tetapi singkatan dari cuma nengak nengok. Artinya wartawan itu tidak bekerja profesional dan hanya mencari-cari sesuatu di luar berita. Maka masyarakat perlu mengetahui wartawan yang sebenarnya. Ciri-ciri wartawan profesional, kata dia, bekerja di media yang efektif, bukan yang tempo-tempo terbit. Selain itu juga memiliki keterampilan. Acara sarasehan jurnalistik itu diselingi dengan pemberian tugas membuat berita. Dari 250 peserta dipilih lima tulisan yang mendekati ideal. Mereka diberi bingkisan dari Suara Merdeka. (Eko Priyono-60) |