logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 27 September 2007 NASIONAL
Line

PROFIL

Mahmoud Ahmadinejad (1)

Sosok Kontroversial dalam Gemuruh Pemikiran


Selama Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York pekan ini, Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad telah menjadi newsmaker, sorotan utama, si pembuat berita. Tak heran bila buku-buku mengenai dia meluncur sebagai buku terlaris. Salah satu buku laris karya Adel el-Gogary menuturkan perjalanan Ahmadinejad yang ''lahir dalam kemelut badai''.

AHMADINEJAD tidak bisa dilepaskan dari isu program nuklir Iran dan pernyataan-pernyataannya yang keras terhadap Barat. Salah satu pernyataannya yang menjadi biang kegeraman Barat adalah penentangannya soal Holocaust (pembantaian Yahudi selama era Nazi pada Perang Dunia II). ''Mereka telah menciptakan mitos bernama Holocaust dan menganggapnya lebih penting dari Tuhan, agama, dan para rasul,'' kata Ahmadinejad di hadapan mahasiswa Iran pada 14 Desember 2005.

Dia berpendapat bahwa Holocaust hanyalah sebuah mitos yang digunakan bangsa Eropa untuk menciptakan negara Yahudi di jantung dunia Islam. Dia bahkan juga sempat menggelar konferensi mengenai Holocaust.

Namun, barangkali, ketokohannya di panggung dunia tercipta melalui ketegasan sikapnya membela program nuklir Iran dari tudingan Amerika Serikat. Ahmadinejad dipandang sebagai ikon anti-imperialisme Barat. Tidak sedikit buku yang kemudian diterbitkan untuk mengulas sosok kontroversial itu.

Dalam khazanah teks berbahasa Indonesia, saat ini terdapat sedikitnya empat buku mengenai Ahmadinejad dalam bahasa Indonesia. Salah satunya berjudul Ahmadinejad: The Nuclear Saviour of Tehran, Sang Nuklir Membidas Hegemoni AS dan Zionis terbitan Pustaka Ilman. Edisi Indonesia ini merupakan terjemahan karya Adel el-Gogary, ketua Pusat Jurnalis Arab, dari judul asli Ahmadinejad: Rajulun fii Qalbil'asashifah (Ahmadinejad: Presiden Berhati Jernih).

Judul dalam edisi Indonesia itu mungkin sedikit banyak juga mengungkap pandangan penerbit (tentu saja dengan mempertimbangkan opini khalayak pembaca) tentang sosok Ahmadinejad yang berdiri gagah menghadapi kekuatan Amerika Serikat dan sekutunya, Israel.

Padahal, judul dalam versi bahasa Arab itu sebetulnya juga sudah menawarkan perspektif lain di balik citra keras dan konservatif dari sosok Ahmadinejad. Dari 311 halaman buku ini, isu nuklir hanya diulas pada bab terakhir mulai halaman 274.

Perpaduan

Dalam pengantarnya, Adel el-Gogary menyebut presiden yang mantan aktivis itu sebagai sosok ''perpaduan tiga pribadi dari tiga zaman''. Dalam salah satu paragraf, Adel menulis, ''Ketika menyaksikan Presiden Ahmadinejad di layar televisi beberapa jam setelah terpilih sebagai presiden Iran, tiba-tiba terlintas dalam pikiran saya untuk menghubungkannya dengan almarhum Presiden Jamal Abdel Nasr.'' Adel memotret Ahmadinejad sebagai ''seorang laki-laki yang bersatu pada dirinya antara wawasan keislaman, sifat patriotisme Husain bin Ali r.a, kesabaran Mahatma Gandhi dan keberanian Abdul Nasr.

Menurut penulis buku ini, Ahmadinejad tumbuh besar di dalam naungan pemikiran Imam Khomeini yang pernah berkata, ''Jika Amerika senang kepadamu, maka ada yang patut dipertanyakan dengan akidahmu!''

Pembelaan

Lahir di desa pertanian Aradan, dekat Garmsar, sekitar 100 km dari Teheran, sebagai putra seorang pandai besi, keluarganya pindah ke Teheran saat dia berusia satu tahun. Dia meraih gelar doktor dari Universitas Sains dan Teknologi Iran (IUST) dalam bidang teknik dan perencanaan lalu lintas dan transportasi.

Pengalaman akademik Ahmadinejad tersebut agaknya sedikit terkubur dengan perjalanan politiknya. Pada tahun 1980, dia adalah ketua perwakilan IUST untuk perkumpulan mahasiswa, dan terlibat dalam pendirian organisasi mahasiswa yang berada di balik pendudukan Kedubes Amerika Serikat saat revolusi menumbangkan kepemimpinan Shah Iran.

Fakta itu pula yang tampaknya mencuatkan tuduhan dari Amerika Serikat bahwa Ahmadinejad adalah salah seorang pelaku pendudukan selama 444 hari terhadap Kedubes AS.

Seberapa akuratkah tuduhan itu, buku ini rupanya tidak berkeinginan mengurai lebih dalam. Namun, toh pembelaan penulis atas tuduhan itu sungguh-sungguh mencerminkan penuturan seorang loyalis Ahmadinejad. Di bawah subbab ''Mesin Kebohongan Washington dan Wina'', Adel memaparkan klaim balik mengenai mesin propaganda Amerika yang berniat menghancurkan citra presiden terpilih itu.

Kisah itu hanyalah satu dari sekian banyak kontroversi yang mengikuti sepak terjang presiden. Yang menarik, pendekatan biografis dalam buku itu diramu dengan gaya penulisan feature seperti hendak menampilkan gemuruh pemikiran presiden keenam Iran itu. Sebuah pembelaan? Sejarah yang akan menjawab.(Gunawan Permadi-25)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA