| Kamis, 27 September 2007 | MURIA |
Di Rembang, Masa Hujan Hanya 55 HariMASYARAKAT Rembang kini harus dihadapkan dengan berbagai masalah. Banyaknya padi yang puso mengakibatkan keterpurukan ekonomi petani. Banyaknya tanah pertanian yang bera (tidak bisa ditanami) menambah jumlah pengangguran. Faktor alam yang diperberat dengan kerusakan lingkungan hidup menjadi biang keladi bencana kekeringan yang berkepanjangan. Masih banyak orang yang belum memahami arti penting keseimbangan alam. Gunung digempur, hutan dibabat (dijarah). ''Hidup di alam seperti sekarang ini serbasulit. Sulit mencari pekerjaan, sulit mencari uang, dan sulit mencari air,'' ungkap mantan anggota DPRD Rembang H Romli (68). Berdasarkan data, dari 14 kecamatan semua mengalami kekeringan. Dan dari 294 desa, 166 desa (56,46%) dilanda kekeringan. Tahun ini, angka curah hujan sangat rendah. Akibatnya, ribuan hektare tanaman padi mengalami puso. Data Pemkab menunjukkan, 5.000 hektare tanaman padi puso. Taksiran kerugian petani Rp 7,5 miliar lebih. Angka kerugian itu dihitung dari biaya pengolahan lahan, penyediaan bibit, pemupukan, dan buruh tanam. Asisten II Sekda Supraja SH menyebutkan, setiap tahun angka curah hujan di Blora rata-rata hanya 1.037 mm dengan masa hujan 55 hari. Itu pun penyebarannya tidak merata. Dia menekankan, masih banyak faktor penyebab kelangkaan air, antara lain potensi kelebihan air pada musim penghujan dan fenomena kekurangan air pada musim kemarau belum dapat dikelola karena bukan daerah aliran sungai (DAS). Belum lagi menyangkut kondisi daerah yang kurang menguntungkan. Alasannya, selain tidak ada DAS, gunung di Rembang lebih pantas disebut bukit karena tak begitu tinggi. Bahkan sebagian besar gunungnya berbentuk bebatuan sehingga jarang ada tanamannya. Itu sebabnya jarang terdapat sumber air. Belum Maksimal Menurutnya, ada satu sumber air yang kini menjadi andalan, yaitu Sumber Semen di Kecamatan Sale. Namun, sampai kini Pemkab belum mampu memanfaatkan sumber air tersebut secara maksimal. ''Sumber Semen memiliki debit air 600-700 liter per detik. Namun, baru bisa dimanfaatkan untuk proyek air bersih 100 liter per detik,'' ujar pejabat itu. Soal sumber air tanah, Supraja menyatakan jumlahnya sangat terbatas. Sumber air tanah hanya ada pada daerah cekungan. Di wilayah pesisir, sumber air tanah tercemari air laut sehingga tak layak konsumsi manusia atau untuk pengairan tanaman pertanian. Lalu apa kebijakan Pemkab? Pejabat itu mengungkapkan, Pemkab terus berupaya mengembangkan potensi sumber air dengan cara merekayasa, antara lain membangun embung atau bendungan. Selebihnya adalah melestarikan sumber air agar kuantitas dan kualitasnya tetap terjaga. Kini Rembang sudah memiliki tiga embung raksasa, yaitu Embung Lodan (Sarang/Sedan), Embung Banyukuwung (Sumber/Sulang), dan Embung Grawan (Sumber). Namun sejauh ini baru Embung Banyukuwung yang sudah bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Sementara itu Embung Lodan baru daam taraf perbaikan setelah tanggulnya jebol. Dan, Embung Grawan baru diuji coba karena baru selesai dibangun. Selain itu juga diadakan program pengelolaan sungai terpadu (PPTS). Bentuk proyeknya adalah pembuatan cekdam pada sungai yang mempunyai aliran air cukup besar pada musim hujan. Program lain untuk mengatasi kekeringan, upaya menambah sumber-sumber air melalui pengadaan pompa dan perluasan jaringan transmisi. Ada lagi program jangka panjang, yaitu mereboisasi pada daerah tangkapan air, pembuatan hutan kota dan hutan rakyat, dan pengelolaan hutan bersama masyarakat (PHBM). Untuk program jangka pendek, lanjut Supraja, telah dilakukan pengedropan air bersih ke desa-desa kekeringan. ''Sekarang ini 150 desa lebih yang mendapat bantuan air bersih,'' ucapnya. (Djamal A Garhan-69) |