logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 27 September 2007 SEMARANG
Line

Magnet Cak Nun di Gambang Syafaat

BAGAI langganan saja, Emha Ainun Nadjib yang akrab disapa Cak Nun tampil di pengajian bulanan Gambang Syafaat Ikatan Remaja Masjid Baiturrahman (Ikamaba) Semarang. Sebab tiap tanggal 25, Cak Nun hampir selalu datang. Begitu juga Selasa (25/9), Kiai Mbeling tersebut kembali tampil di hadapan ratusan hadirin yang memadati pelataran timur Masjid Baiturrahman, bersama kelompok Kiai Kanjengnya yang menghadirkan lagu-lagu islami diiringi musik nan eksotik.

Orasi, narasi, dan sajak-sajaknya seolah menjadi candu bagi para penikmat sastra di komunitas itu. Sajak-sajak sufistiknya yang transeden, ia lantunkan sebagai pelipur lara di tengah centang-perenang peradaban bangsa yang sakit ini.

Kegiatan yang sudah berjalan lebih kurang delapan tahun tersebut hingga kini masih banyak diminati. Tak heran, banyak penonton yang sebagian besar anak muda, tetap bertahan hingga akhir pertunjukan.

Ikamaba Voice membuka acara dengan lagu-lagunya yang kental dengan warna keislaman. KH Budi Hardjono, dari Meteseh, Tembalang, juga membasuh hati para hadirin dengan ular-ularnya yang merasuk. Selain itu hadir pula Gus Nuril Arifin dari Ponpes Soko Tunggal.

Bertepatan dengan bulan Ramadan ini, Emha menyitir khotbahnya tentang puasa, setan, dan gempa. Dalam acara yang dimulai pukul 21.00 hingga 03.00 dini hari itu, ia mengatakan, puasa melatih untuk "tidak". "Karena dalam kehidupan sehari-hari kita melampiaskan apa yang kita anggap 'ya'," katanya.

Mental manusia, kata dia, lebih berpihak kepada melampiaskan daripada mengendalikan. Padahal keselamatan peradaban, keindahan kebudayaan, tata kelola manajemen, kepengurusan negara dan kemasyarakatan lebih mengacu pada pengendalian daripada pelampiasan. Bahkan idiom kemerdekaan saat ini sudah tidak terkontrol sehingga identik dengan pelampiasan.

"Dunia dan Indonesia selalu ribut. Bahkan memasuki Ramadan, keadaan justru makin ribut. Dan modal keuangan serta alat perniagaan yang membuat apa saja jadi komoditas, makin jadi pengeras suara dari keributan itu,'' katanya.

Meski Tuhan mengizinkan tsunami terjadi sepadan dengan tsunami di zaman Nabi Nuh dan Firaun, gunung-gunung diledakkan, gempa disebar, dan tanah bumi diretakkan, menurutnya, manusia sudah terlanjur tidak memiliki alat di dalam diri serta sistem kebersamaan untuk belajar dari bencana.

"Setiap bencana hanya melahirkan tiga bersaudara, yaitu politisasi bencana, komodifikasi bencana, dan wisata bencana,'' ujarnya. (Moch Kundori, Fani Ayudea-62)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA