| Kamis, 27 September 2007 | SEMARANG |
Warga Rencanakan Buat Sumur Artesis
SEMARANG- Warga Kampung Kalialang Baru, Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Gunungpati berencana membuat sumur artetis. Sebab, selama ini warga hanya mengandalkan bantuan air bersih dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) dan pihak-pihak lain. Kampung ini memenang kerap mengalami kekeringan ketika musim kemarau tiba. Lurah Sukorejo, Taat mengatakan, pembuatan sumur artesis diharapkan menjadi solusi permasalahan yang dihadapi warga. ''Sudah lebih dari dua bulan terakhir kami mengalami kesulitan air bersih. Terkait hal itu, kami sudah mengajukan surat permohonan kepada Pemkot untuk pembuatan sumur artesis,'' katanya di sela-sela menerima bantuan 17 tangki air bersih dari PLN Distribusi Jateng - DIY untuk warga Kalialang Baru, belum lama ini. Dia menerangkan, sebagian besar wilayah Sukorejo terdiri atas tanah yang tandus dan berupa patahan. Karena itu, pembuatan sumur tersebut harus melalui penelitian lebih dulu. Sebelumnya warga telah berkali-kali mencoba membuat sumur artesis, meskipun sudah dibor hingga ratusan meter dan menghabiskan biaya besar, sumur tersebut tidak mengeluarkan air. ''Penelitian tersebut haruslah melibatkan pihak terkait seperti Dinas Pekerjaan Umum (DPU) untuk menentukan lokasi mana yang akan dibuat sumur. Untuk sementara sumur direncanakan dibuat di wilayah RW 2 karena letaknya lebih tinggi. Dengan begitu air dapat dialirkan ke wilayah lain di bawahnya,'' ujarnya. Terparah Dikatakan, RT 3, RT 4, dan RT 8 merupakan daerah yang kekeringannya terparah dibandingkan 14 wilayah RT lainnya. Saat musim kemarau, penduduk Kalialang Baru sudah terbiasa memanfatkan air dari sumber yang ada, seperti sendang yang masih ada airnya. Namun untuk itu warga harus berjalan kaki berkilo-kilo meter jauhnya. "Sendang terdekat jaraknya tiga kilometer. Biasanya, kami harus bolak-balik tiga kali untuk memenuhi kebutuhan air," kata Sonah (35), warga RT 2 RW 2. Warga lainnya, Suyatno (40 mengungkapkan, jika tidak mengambil dari sendang, mereka harus membeli air yang harganya cukup mahal. "Harganya sekitar Rp 2.500 per pikul. Padahal, setidaknya kami butuh 3 pikul setiap harinya," keluhnya. Manager Komunikasi Hukum dan Administrasi PLN Distribusi Jateng - DIY, Endro Yulianto mengatakan, pemberian bantuan ini merupakan wujud kepedulian pihaknya terhadap masyarakat. "PLN merupakan bagian dari masyarakat. Bantuan ini diberikan karena kami ingin berbagi dengan mereka," kata dia. (H40, H21-18) |