| Kamis, 27 September 2007 | SEMARANG |
Meriahnya Pesta Rakyat di Bawah Bulan PurnamaPUNCAK pesta rakyat hari Bulan Purnama di atas replika Kapal Cheng Ho yang bersandar di Kali Semarang depan Kelenteng Tay Kak Sie, Selasa (25/9) malam, bukan hanya milik warga etnis Tionghoa saja. Kemeriahan yang bernuansa persatuan itu mencoba mendekatkan masyarakat, agar rasa kekeluargaan antarumat beragama tetap terjalin dengan harmonis. Warga Parisada Hindu Dharma Indonesia Kota Semarang misalnya, mencoba mempertunjukkan Tari Panyembrahma. Dua belas penari cilik dari sejumlah SD rutin berlatih di Pura Girinatha mempersiapkan tarian untuk menyambut para dewa kayangan, atau menyambut kedatangan tamu. ''Ini salah satu bentuk partisipasi dari umat Hindu untuk memeriahkan pesta rakyat,'' jelas pelatih tari Wayan Jaya. Pertunjukan memukau lainnya juga ditampilkan grup Tripusaka Majelis Agama Konghucu (Makin) Solo dengan liong fosfornya. Dalam kegelapan, liukan naga menyala yang dibawakan oleh sembilan orang itu, mampu membuat takjub pengunjung. ''Usai tarawih, saya sengaja ke sini karena anak-anak paling suka melihat barongsai,'' kata Reny (31) yang tinggal di Sampangan. Wakil Ketua Panitia perayaan Tan Giok Liong mencoba mengangkat pesta rakyat ini dengan balutan persatuan serta kekeluargaan. ''Kami mencoba menggandeng semua kalangan. Kalau umat muslim kebetulan sedang beribadah di bulan Ramadan, setelah tarawih mereka bisa datang melihat pertunjukan,'' ujar dia didampingi Ketua Panitia Louisa Debby. Mewakili umat Nasrani, Romo Aloys Budi Purnomo dengan babysaxophone-nya turut didaulat mengisi acara di panggung terbuka itu. Ada pula Harmony Voice, Paduan Suara Gentrika Kelenteng Tay Kak Sie, Barongsai Garuda Sakti, dan sajian tarian mulai dari moderen hingga tradisional. Berebut Tiong Chiu Pia Purnama yang jatuh pada hari ke-15 bulan delapan Imlek malam itu, menjadi penanda tradisi masyarakat Tionghoa untuk mengucap syukur atas keberhasilan panen raya. Panitia pun sudah menyiapkan gunungan tiong chiu pia atau kue bulan berukuran mini, yang ditandu dari panggung terbuka menuju halaman kelenteng untuk diperebutkan. Ratusan pengunjung lantas berebut kue, termasuk juga buah jeruk serta batangan padi yang sebelumnya sudah disembahyangkan di altar. Saking banyaknya masyarakat yang datang, tidak semua warga beruntung mendapatkannya. ''Sepertinya tidak ada batasan agama, semua ikut berbaur merayakan festival kue bulan ini. Mudah-mudahan tahun depan bisa meriah seperti ini lagi,'' ujar Rodiah (33), warga Candi yang amat terkesan dengan suasana malam itu. (Modesta Fiska-62) |