| Kamis, 27 September 2007 | SEMARANG |
Utsman HambayyaAntara Ketauhidan dan Akulturasi Budaya
LINGGA dan yoni di taman Pondok Paseban Thoriqoh Al Mu'tabaroh Ar Rosuli di Desa Keji, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang itu, terawat dengan baik. Meski benda kuno tersebut warisan zaman Hindu, keberadaannya kini dimanfaatkan oleh umat Islam di desa yang kaya akan air itu. Lingga yoni di pondok yang berdiri pada 1999 itu digunakan umat yang hendak mendekatkan diri kepada Sang Khalik. Sungguh sebuah akulturasi budaya yang unik. Lingga yoni tersebut diyakini sebagai salah satu situs peninggalan penyebar Islam yang bernama Utsman Hambayya. Pengikut Fatimah binti Maimun yang diyakini sebagai penyebar Islam pertama di Tanah Jawa tersebut meninggal di Keji. Makamnya pun konon baru ditemukan pada 1999 atau saat pembangunan pondok ini. Utsman Hambayya atau Syeikh Utsman Santri akhirnya dikenal sebagai Sunan Layon. Disebut Layon atau lelayu, karena menurut kisah turun-temurun, tokoh Islam ini pernah meninggal sembilan kali. ''Sunan Layon menekankan pada ajaran ketauhidan atau ketuhanan. Zaman dulu daerah ini masih Hindu. Sunan itu diperkirakan hidup antara abad ke-9 hingga ke-11,'' kata Ahmad Syakir, pengasuh Pondok Ar Rosuli. Ahmad Syakir berkisah, selain Hambayya, pengikut Fatimah satu lagi adalah Malik bin Maimun. Fatimah binti Maimun yang merupakan puteri Raja Carmen, Kedah, dimakamkan di Leran Gresik. Sepeninggal Fatimah pada 864 Masehi, Utsman Hambayya bertugas melakukan syiar Islam ke arah barat. Ia pernah di Keling, Jepara memberikan pengajaran tentang dagang dan dimungkinkan ilmu kelautan. Sementara Malik bin Maimun menyebarkan Islam ke timur hingga Blambangan. Dari Jepara kemudian Utsman menyusur hingga Semarang dan akhirnya singgah di Ungaran yang kala itu termasuk pinggiran pantai. ''Jalan Pramuka Gunungpati atau perbatasan kota dan kabupaten Semarang juga diyakini batas pantai karena di Kaligarang banyak ditemukan cangkang laut. Abad ke-9 Kota Semarang masih laut,'' terang Ahmad Syakir. Setelah tiba di Ungaran, perjuangannya pun tidak sekuat Walisongo. Sebab Utsman Hambayya berjuang seorang diri. Karena berada di tengah orang Hindu, ia disebut Utsman Santri. ''Ia menggunakan cara-cara persuasif. Jika ada orang kesusahan dibantu. Pada saat yang sama ia mengajarkan ilmu ketuhanan,'' papar Ahmad Syakir yang juga Kepala Desa Keji. Menurut orang-orang Keji, pada tahun 1970-an, tokoh tersebut sering muncul di masyarakat dengan mengenakan blangkon dan jubah. Wito (50) warga yang rumahnya dekat pondok paseban mengatakan, Sunan Layon pernah muncul dan jalan-jalan di desa ini. ''Ia juga pernah membeli bubur. Tapi orang waktu itu nggak sadar dan tidak sempat bertanya dari mana asalnya,'' jelas Wito. Pada awal pembangunan pondok, kata Ahmad Syakir, para pekerja sering mendapati hal aneh dan tidak rasional. Lalu pria yang juga akrab disapa Syeikh Syakir ini bersama salik-saliknya melakukan shalat istikharah. Atas izin Allah ditemukannya makam waliyullah tersebut. Adalah Profesor Kusnin Asa seorang arkeolog dari Jakarta bertahun-tahun mencari makam Utsman Hambayya. ''Setelah melihat situs dan topografi yang ada, Profesor Kusnin meyakini Sunan Layon atau Utsman Santri adalah Utsman Hambayya,'' terang Syeikh Syakir. Ahmad Syakir menjelaskan, pada awal berdirinya pondok, ia pernah berkomunikasi dengan Sang Wali saat berziarah. ''Ia bicara dengan Bahasa Arab, intinya dia pernah berjuang di sini dan menolong orang yang kapalnya hendak karam saat akan berhaji ke Makkah,'' tutur Syakir. Kini, di pondok paseban tersebut dibangun ruang-ruang untuk berkhalwat dan wirid. Setiap 15 Sya'ban, pondok tersebut ramai dengan kegiatan haul Sunan Layon. (62) |