logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 27 September 2007 INTERNASIONAL
Line

Rusia Luncurkan Superjet 100

KOMSOMOLSK-ON-AMUR - Keinginan Rusia untuk memulihkan kebanggaan industri penerbangannya mulai direalisasikan. Negara itu, kemarin meluncurkan pesawat penumpang baru pertama sejak jatuhnya Uni Soviet. Peluncuran tersebut juga dimaksudkan untuk mengurangi ketergantungan pada ekspor minyak dan gas.

Superjet 100 Sukhoi dirancang untuk 78-98 penumpang dan merupakan hasil upaya hampir sepuluh tahun perusahaan pembuat pesawat tempur terbesar Rusia itu. Perusahaan tersebut berkembang menjadi pembuat pesawat penumpang komersial dengan sasaran pesawat-pesawat Barat.

Pesawat itu diresmikan dengan upacara sederhana di Timur Jauh Rusia, tempat cabang perusahaan Komsomolsk, Sukhoi, diubah dari penghasil pesawat tempur manis Flanker ke pesawat umum dengan target 5-6 pesawat sebulan pada 2010.

''Superjet bukan sembarang pesawat, produk itu merupakan proyek prioritas,'' kata Deputi I PM Sergei Ivanov pada audiensi investor asing dan pekerja pabrik Rusia.

Sekitar 1.000 warga Rusia dan pengunjung asing berbondong-bondong ke Komsomolsk untuk menyaksikan peresmian itu. Hal itu untuk mengangkat sumber-sumber kota pabrik yang pernah ditutup dari dunia luar menjadi pusat produksi kapal selam dan pesawat tempur Rusia.

Pesawat yang panjangnya 30 meter dan diberi warna nasional Rusia itu ditarik keluar dikawal pekerja pabrik dan model-model fashion.

Jaring Pasar Pesawat

Presiden Vladimir Putin ingin membangkitkan lagi penerbangan Rusia, yang hancur akibat ambruknya Uni Soviet. Hal itu sebagai cara untuk menunjukkan kekuatan teknologi dan industri negara itu.

Rusia ingin menjaring paling tidak 10 persen pasar pesawat dunia dengan pesawat penumpang baru dan menempati urutan ketiga negara penghasil pesawat pada 2015-2018.

Superjet akan menggantikan armada tua Tupolev Tu-134 dan Yakovlev Yak-42 Rusia di rute domestik dengan produk yang jangkauannya lebih jauh yaitu 4.550 meter.

Namun Sukhoi juga meningkatkan sasaran ekspor bersama mitranya dari Italia, Alenia Aeronautika.

Untuk penjualan awal, 73 pesawat ditawarkan ke maskapai-maskapai Rusia. Perusahaan itu untuk sementara hanya menerima pesanan 100 pesawat dengan harga 2,8 miliar dolar (sekitar Rp 26,3 triliun) pada akhir tahun ini.

Pada akhirnya, perusahaan tersebut ingin menjual 1.000 pesawat, 700 di antaranya diperuntukkan bagi pasar-pasar ekspor global. Perusahaan itu berharap bisa memperoleh sertifikasi dari Eropa dan Amerika Serikat tahun depan.

Peluncuran itu membuat Sukhoi bersaing langsung dengan Embraer (Brasil) dan Bombardier (Kanada), yang mendominasi pasar pesawat 70-100 kursi.

Pesawat Antonov buatan Ukraina memiliki andil pasar kecil, dan China serta Jepang bergabung dalam kompetisi itu dengan mengembangkan model-model rival.

''Tak satu pun perusahaan di dunia yang bisa meyakinkan diri sebagai produsen pesawat domestik. Pada era globalisasi ini, hal itu merupakan satu-satunya sikap yang mungkin,'' kata Ivanov kepada para delegasi pada peluncuran Superjet.

Penerbangan perdana diharapkan sebelum akhir tahun ini, jelas Sukhoi. Menurut perusahaan itu, Superjet memiliki biaya operasi 10-15 persen lebih murah dibanding model Bombardier atau Embraer.

Kepala Eksekutif Sukhoi Mikhail Pogosyan membantah rencana menyaingi Airbus dan Boeing di pasar untuk pesawat-pesawat berbadan besar - sesuatu yang bisa membuat pemasok Barat bentrok dengan konsumen terbesar mereka, Boeing dan Airbus.(rtr-niek-26)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA